
Setelah keributan karena kehadiran Alex, semua orang kembali fokus pada pemotretan. Saat ini semua pemain telah melakukan pemotretan dan kembali ke kamar masing-masing.
“Mengapa Alex datang kesini?” Rena bertanya-tanya tentang hal ini karena Alex belum membalas pesannya.
“Ting nong,” suara bel berbunyi.
Rena mendengar suara bel dan membuka pintu.
“Ren-“
Rena menarik pria itu kedalam kamarnya dan melihat sekeliling tidak ada siapa-siapa, menutup kembali pintu kamar dan menghela nafas lega. “Alex! Kenapa kamu kemari?” tanya Rena.
“Ada apa?” tanya Alex.
“Bagaimana kalau nanti orang tahu identitas asliku?” jawab Rena.
“Bukankah itu bagus … maka tidak akan ada yang mengganggumu,” ucap Alex dengan nada dingin.
“Plak …”
“Auuu … kenapa kamu memukulku?” rintih Alex dengan tatapan sedih.
“Huff … aku tidak ingin orang menganggap aku berhasil memasuki dunia hiburan karena statusmu,” jawab Rena.
“Tapi-“
“Dengar Alex aku sangat senang kamu peduli padaku … tetapi aku ingin orang mengakui kemampuanku sendiri,” jawab Rena sambil memegangi pipi Alex dengan kedua tangannya.
Alex menatap Rena dan mencium telapak tangannya. “Baiklah,” jawab Alex dengan senyuman.
“Sekarang kamu pergilah sebelum orang tahu,” suruh Rena.
Alex berbalik dan berbaring dikasur. “Tidak … malam ini aku akan tidur disini,” ucap Alex sambil memejamkan mata.
“Ap-apa?!” teriak Rena kaget.
“Besok kita akan pulang bersama,” ucap Alex.
“Tetapi besok aku akan mulai syuting,” jawab Rena.
“Tidak … sutradara mengatakan bahwa syuting akan di jadwalkan bulan depan,” ucap Alex.
“Mengapa?” tanya Rena sambil berjalan menuju Alex.
“Aku dengar istrinya masuk rumah sakit … dan tidak ada yang mengurusnya,” jawab Alex.
“Ah … begitu,” ucap Rena sambil menundukkan kepalanya.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Alex.
“Belum,” ucap Rena dengan wajah sedih.
Alex menggosok Rambut Rena dan tersenyum. “Aku sudah memesan makanan untukmu dan juga kue kesukaanmu,” ucap Alex.
“Benarkah? Hahahaha … bagus sekali, terimakasih Alex.” Rena memeluk Alex dengan bahagia.
Keesokan harinya Alex dan Rena pulang bersama kembali ke kota C begitu juga Andrew. Setibanya di Kota C Rena mengajak Andrew untuk makan bersama tetapi Andrew menolak dan mengatakan ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan.
“Ngomong-ngomong aku tidak melihat Vita saat pemotretan, apa dia lolos audisi?” tanya Rena sedih.
“Vita Green?” tanya Alex.
__ADS_1
“Iya … apa kamu mengenalnya?” tanya Rena dengan wajah tidak percaya.
“Yah … kami berteman saat kecil, tetapi dia lebih dekat dengan Leon,” jawab Alex.
“Ah … dunia ini sangat kecil,” ucap Rena masih tidak percaya.
“Dia mengambil peran apa?” tanya Andrew.
“Kalau dia lolos maka dia kemungkinan mengambil peran pendukung dan pemotretan akan dilakukan besok,” ucap Andrew.
“Begitukah? Aku tidak menanyakannya walaupun kami menukar kontak nomor,” jawab Rena.
“Baiklah kalau begitu mari kita pulang,” Ajak Alex.
“Ayo … Andrew apa kamu yakin tidak ikut bersama kami?” tanya Rena.
“Tidak … masih banyak yang harus di kerjakan, mungkin lain kali.” Andrew melambaikan tangannya untuk menolak.
“Baiklah kalau begitu sampai jumpa,” ucap Rena.
Andrew tersenyum kepada Rena dan Alex, menunggu mobil mereka pergi, setelah itu dia kembali ke perusahaan tempat dia bekerja di LN Entertaiment. Andrew berjalan dengan semangat kembali keruangannya. Di perjalanan saat memasuki lift, Andrew berpapasan dengan Nata dan Rani.
“Hah … lihat siapa yang kita temui, sangat sial sekali.” Nata menatap Andrew dengan jijik.
“Hei bagaimana dengan kakakku? Aku dengar lokasi pemotretan telah di ubah,” tanya Rani dengan sedikit senyuman sinis yang tidak terlihat.
“Baik … kami tiba tepat waktu,” jawab Andrew dengan singkat.
“Apa? Bagaimana bisa?” tanya Rani dengan tidak percaya.
Andrew melihat Rani dengan tatapan curiga. “Ah … haha maksudku bagaimana bisa kakakku tidak terlambat disaat mendesak seperti itu.” Rani tertawa canggung sambil membenarkan rambut di sekitar telinganya.
“Kamu tahu sendiri jawabannya,” jawab Andrew menatap Rani dengan tatapan sinis.
“Artismu hanya menjadi anjing pengikut pemeran utama kamu sudah sangat bangga? Menjadi penjilat,” ucap Andrew tanpa menatap Nata dan Rani.
“Kamu-“
“Ting.” Pintu lift terbuka dan Andrew pergi meninggalkan mereka berdua.
“Hei lihat saja pembalasanku nanti,” teriak Nata.
“Kakak manager tenanglah,” ucap Rani.
“Hmmp … dia akan sangat menyesal suatu saat nanti,” ucap Nata dengan kesal.
Rani menenangkan Nata dan menatap Andrew dengan tatapan tajam sebelum lift tertutup. Bagaimana bisa Rena tidak terlambat? Sial, aku rasa Fany kurang bisa diandalkan.
Rani memikirkan Reza yang masih berjuang dengan perusahaan kecilnya. Di dalam novel, saat ini seharusnya Reza telah menjadi seorang pengusaha yang sukses. Tetapi karena perubahan Rena, semua menjadi tidak sesuai dengan cerita aslinya. Apa yang harus dia lakukan?
Didalam mobil Rena bersandar pada Alex sambil tersenyum. “Hehe … aku sangat senang sekali,” ucap Rena memejamkan matanya.
“Kamu telah bekerja keras … istirahatlah,” ucap Alex.
“Oh iya … aku lupa menanyakan ini, bagaimana dengan kakek.” Rena melupakan sesuatu yang sangat penting.
“Yah … kakek sudah mulai membaik dan juga disana ada kepala pelayan untuk menjaganya,” ucap Alex.
“Kepala pelayan menyuruhku untuk pulang dan tidak perlu megkhawatirkan keadaan kakek,” lanjut Alex.
Rena memikirkan kepala pelayan yang dia temui di rumah Anderson. Aku rasa dia tidak akan menyakiti kakek karena kepala pelayan itu telah melayani keluarga Anderson sangat lama dan juga dari yang aku lihat dia juga tidak terlalu dekat dengan Ren na. Baiklah untuk saat ini percayakan padanya.
__ADS_1
“Kita harus sering melihat kakek dan juga memberikan makanan yang sehat untuknya,” ucap Rena.
“Baiklah,” ucap Alex sambil menggosok rambut Rena.
Saat Alex dan Rena sedang asik berbicara dan tertawa, tiba-tiba handphone Alex berdering.
“Ada apa?” tanya Alex.
“Tuan ada masalah.” Terdengar suara Albert dengan nada panik.
Alex mengerutkan kening dan mendengar semua yang terjadi diperusahaan. “Baiklah tunggu aku akan kesana.” Alex menutup telpon dan berpikir sejenak dengan tatapan dingin.
“Alex … ada apa?” tanya Rena khawatir.
Alex sadar kembali dan melihat wajah Rena yang mengkhawatirkannya. Alex tersenyum dan mencium kening Rena. “Maaf … aku rasa makan bersama hari ini harus dibatalkan,” ucap Alex dengan tatapan bersalah.
Rena melihat Alex dan tahu bahwa pasti ada masalah yang tidak bisa dihindari. “tidak apa-apa … aku yakin kamu bisa menyelesaikan masalahnya,” ucap Rena.
“Terimakasih,” ucap Alex sambil memeluk Rena dengan erat.
Setibanya di rumah, Alex segera pergi ke perusahaan dan menyisakan Rena yang berdiri melihat mobil melaju pergi.
“Hah … aku harap perusahaannya baik-baik saja,” ucap Rena sambil menghela nafas.
“Nyonya … Anda telah kembali,” ucap Ronald sang kepala pelayan.
Rena berbalik dan melihat Ronald yang menyambutnya. “Apakah anda sudah makan? Aku akan menyuruh koki untuk menyiapkan makanan,” ucap Ronald.
“Kruuu~k.” Perut Rea berbunyi.
Rena memegangi perutnya dan tertawa canggung. “Haha … aku rasa aku belum cukup makan,” ucap Rena.
“Saya tahu anda adalah orang yang banyak makan dan rakus jadi saya telah memesan beberapa camilan untuk anda sembari menunggu makanan utama,” ucap Ronald dengan nada sopan.
“Apa kamu ingin mengajakku berkelahi?” tanya Rena kesal.
“Saya mengajak anda makan nyonya bukan berkelahi,” ucap Ronald lagi.
“Mari nyonya saya akan menemani anda keruang makan,” Ronald memberi Rena jalan agar Rena berjalan didepannya.
“Nyonya?” Ronald bingung karena Rena tidak meresponnya.
“Rooooonnnald …” panggil Rena dengan nada yang menakutkan.
“Nyo-nyonya?” Ronald mulai merasakan bahaya.
“Sini kamu!” Teriak Rena sambil mengangkat tasnya.
Sebelum Rena sempat memukulnya, Ronald telah berlari terlebih dahulu. “Nyonya … apa salahku? Huhuhuh,” teriak Ronald sambil berlari.
“Apa kamu mengatakan aku rakus tadi?” teriak Rena.
“Maaf nyonya aku salah ... maksudku kamu adalah pecinta makanan sehingga kamu bahkan memakan makanan yang tidak enak,” teriak Ronald sambil menangis memohon ampun.
“Katakan sekali lagi,” teriak Rena.
“Huhuhu nyonyaaaa,” teriak Ronald.
Disisi dapur Sony dan Dimas sedang memasak. “ Hei apa kamu mendengarnya,” tanya Sony.
“Sudah … Abaikan saja,” ucap Kepala koki.
__ADS_1
“Huhuhuuuhu.” Seluruh rumah di ramaikan oleh suara teriakan Ronald dan Rena, dengan ini gedung yang sangat sepi menjadi ramai kembali.
Akhir dari Bab 40