
Saat menunggu Fany di ruang kesehatan tiba-tiba badan Fany menjadi panas dan dokter menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit. Saat tiba dirumah sakit, panas dibadan Fany tidak kunjung turun.
“Sepertinya diakibatkan karena stres,” ucap dokter.
“Tapi jangan khawatir nanti dia akan membaik,” lanjut dokter.
“Baiklah terimakasih dokter,” ucap Leon.
“Fany … Fany … “ teriak ibu Fany.
“Huhuhu … ini semua salah ibu,” tangis ibu Fany.
“Nyonya tenang Fany baik-baik saja,” ucap Leon menenangkan.
“Ini semua salahku menyuruh Alex untuk berpura-pura menyukai Fany,” ucap ibu Fany sedih.
“Apa?” tanya Leon.
“Aku menyuruh Alex berpura-pura seperti menyukai Fany karena Fany sangat menyukai Alex.”
“Tadi Alex menelpon kalau dia sudah memberitahu Fany kalau dia tidak menyukai Fany,” ucap ibu Fany.
Leon terkejut mendengar itu semua. Jadi selama ini Alex hanya berpura-pura terhadap Fany.
“Alex … ibu …” panggil Fany.
“Fany apa kamu sudah sadar?” tanya ibu Fany memegangi tangan Fany.
“Ibu dimana Alex?”
“Sepertinya tadi dia ingin mengatakan sesuatu padaku,” ucap Fany.
Leon dan ibu Fany saling tatap. Saat ibu Fany ingin mengtakan sesuatu, Leon menghalangi ibu Fany dan menggelengkan kepalanya untuk tidak mengatakan apapun.
“Alex sedang disekolah … tadi dia sangat panik saat tahu kamu tiba-tiba tidak sadarkan diri,” jelas Leon.
“Begitu,” ucap Fany dengan nada kecewa.
“Kalau begitu kamu istirahat dulu … aku akan kembali kesekolah,” ucap Leon hendak pergi.
“Baiklah,” ucap Fany sambil tersenyum kepada Leon.
“Terimkasih nak,” ucap Ibu Fany.
Leon keluar dari ruangan dan kembali kesekolah. Setibanya disekolah Leon pergi kekelas Alex dan memanggil Alex untuk berbicara.
“Fany tidak mengingat kejadian hari ini,” ucap Leon.
“Kalau begitu aku bisa mengingatkannya lagi,” ucap Alex.
Leon kaget dan menatap tajam Alex. “Apa kamu gila?” teriak Leon kesal.
“Ada apa? Dia tidak mengingatnya … maka aku akan mengingatkannya,” ucap Alex tegas.
Leon menarik kerah baju Alex. “Kamu tahu kalau Fany memiliki jantung dan kesehatan yang lemah,” ucap Leon menggertakan giginya.
“Lalu apa? Kenapa aku yang harus berkorban?” tanya Alex.
__ADS_1
“Bukankah kamu menganggap Fany sebagai teman?” tanya Leon.
“Yah … dia teman kita … tetapi tidak perlu aku harus pura-pura untuk menyukainya.”
“Mengapa tidak kamu saja mengungkapkan perasaanmu kepada Fany dan jaga dia baik-baik,” ucap Alex.
Leon melepaskan kerah baju Alex dan menatap Alex. “Kamu tahu sendiri Fany menyukaimu bukan aku,” ucap Alex kesal.
“Kalau begitu biarkan dia sadar … apa kalian ingin membuat dia gila dengan khayalannya,” jawab Alex.
“Kamu,” Leon kembali menarik kerah Alex.
“Hei apa yang kalian lakukan?” teriak Viktor menghampiri mereka.
Leon melihat Viktor dan melepakan kerah baju Alex. “Sebaiknya kamu mengikuti apa yang aku katakan,” ucap Leon.
Leon pergi meninggalkan Viktor dan Alex. “Ada apa dengan anak itu? Apa kalian bertengkar?” tanya Viktor.
Alex merapikan bajunya. “Tebak sendiri,” ucap Alex pergi meninggalkan Viktor.
“Hei …”teriak Viktor.
Setelah kejadian itu tanpa kabar apapun Fany pindah keluar negeri dan melakukan operasi diluar negeri. Ibu Fany mencegah Fany untuk menghubungi teman lamanya sampai Fany benar-benar melupakan dan benar-benar sehat.
Begitulah Fany diingatan Alex. Sampai sekarang, Alex tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan kalau dia tidak menyukai Fany.
Saat ini Fany dan Leon telah tiba diClub. Leon terus memandangi Fany dengan senyuman dimatanya. Leon selalu menyukai Fany karena saat Leon sedang terpuruk Fany yang menghiburnya dan selalu ada untuknya. Tetapi Fany hanya menganggapnya sebagai teman.
“Hei kalian akhirnya datang,” teriak Rendi gembira.
“Fany bagaimana kabarmu? Aku lihat kamu sudah menjadi sangat terkenal,” sahut Rendi menghampiri Fany.
“Dimana Alex?” tanya Fany melihat sekeliling.
“Huh … apa hanya Alex yang ada dikepalanya,” ucap Weni menyesap minumnya.
Semua melihat kearah Weni. “Ups … apa kalian mendengarnya? Maaf aku hanya berbicara sendiri,” ucap Weni tersenyum.
“Haha … bagaimana kalau kita mulai saja acaranya,” teriak Viktor berusaha mencairkan suasana.
Saat acara hendak dimulai Alex memasuki ruangan.
“Alex akhirnya kamu datang,” teriak Fany menghampiri Alex namun dihalangi oleh Weni.
“Alex aku sudah menyiapkan kursi untukmu,” ucap Weni.
“Apa aku kurang tampan?” tanya Rendi melihat pemandangan dimana Alex diperebutkan dua wanita.
Viktor yang ada disebelah Rendi berusaha untuk mengabaikan Rendi. “Alex akhirnya kamu datang juga … ayo kita mulai acaranya untuk merayakan kembalinya Fany … selamat datang kembali Fany,” teriak Viktor sambil mengangkat gelasnya.
“Selamat untuk Fany,” teriak teman yang lain sambil mengangkat gelas mereka.
“Baiklah mari kita dengar kata sambutan dari Fany,” ucap Viktor.
Fany berdiri dan berjalan kearah Viktor. “Baiklah sebelumnya terimakasih telah datang dan mengadakan pesta kembalinya aku … maaf karena tidak mengabari kalian selama ini,” ucap Fany sedih.
“Dan juga aku harap apa yang tidak sempat kita lakukan saat sekolah bisa kita lakukan sekarang dan aku harap kita sering berkumpul seperti ini kalau kita tidak sibuk,” lanjut Fany.
__ADS_1
“Mari kita bersenang-senang malam ini,” teriak Fany mengangkat gelasnya.
“Yeeaaaay mari bersenang-senang,” teriak teman yang lain.
Semua berjalan dengan lancar dan mereka tertawa bersama. Hanya Alex yang duduk diam dikursinya menantikan saat yang tepat untuk berbicara. Saat mereka semua mengobrol dan bercanda bersama, ada seorang wanita yang memasuki ruangan. Semua pandangan tertuju pada wanita itu.
“Hei … hahaha … apa aku datang secara tiba-tiba?” tanya wanita itu.
“Siapa?” tanya Viktor.
“Vita?” teriak Rendi tidak percaya.
“Ya ini aku,” ucap Vita sambil membua tangannya.
“Ya ampun Vita adikku … sudah lama sekali.” Rendi menangis bahagia memeluk Vita.
Leon yang melihat wanita itu mengerutan kening. “Bukankah kamu yang ada di toko kue?” tanya Leon.
“Aku sangat sedih karena kak Leon tidak mengingatku,” ucap Vita sambil menggusap airmatanya yang tidak ada.
Leon sama sekali tidak mengingat wanita ini.
“Vita ayo kesini,” teriak Viktor.
“semuanya perkenalkan ini adalah Vita adik kami yang sangat berharga … dia pindah saat masih kecil,” ucap Viktor.
“Halo semua,” ucap Vita tersenyum sambil melirik wanita yang ada disebelah Leon.
Semua kembali mengobrol dan tertawa bersama. Vita sangat mudah sekali bergaul dan orang-orang menyukai Vita. Vita memiliki dua sisi yaitu sisi lemah dan sisi yang ceria. Saat bekerja dia menjadi gadis yang lemah dan mudah ditindas. Tetapi saat bersama teman yang dikenalnya dia adalah gadis yang sangat ceria. Vita merasa itu sangat menyenangkan memiliki dua sisi dirinya walaupun sifat asli Vita adalah gadis yang ceria.
Vita menghampiri Leon dan Fany. “Kak Leon apa kamu masih tidak mengingatku?” tanya Vita.
“Em … aku rasa karena sudah lama jadi aku melupakannya,” ucap Leon ragu.
“Baiklah … aku akan menunggumu untuk mengingatnya,” ucap Vita sambil tersenyum.
Lalu Vita melihat kearah Fany. “Apakah kakak cantik ini pacarnya kak Leon?”
“Prrtt … “ Leon menyeburkan air yang diminumnya.
“Tidak kami hanya teman biasa,” jawab Fany.
Leon mengusap mulutnya dan hanya diam mendengar perkataan Fany.
“Oh … begitu … kasihan sekali,” ucap Vita sambil melihat Leon dengan tatapan kasihan.
“Apa maksudmu menatapku seperti itu?” tanya Leon kesal.
“Hahaha … masih sama saja seperti dulu,” tawa Vita.
Vita melihat Alex yang duduk sendirian dan pergi meghampiri Alex. “Kak Alex kudengar kamu sudah menikah … selamat ya,” ucap Vita memberikan selamat.
“Praaang!” suara gelas pecah.
Suara itu berasal dari Fany yang mendengar perkataan Vita. Leon juga mendengarnya dan mengerutkan kening.
“Fany apa kamu baik-baik saja?” tanya Leon.
__ADS_1
Weni yang melihat semua ini tersenyum puas dan kembali menyesap minumannya.
Akhir dari Bab 31