
prang..
suara gelas yang terjatuh dari genggaman terdengar menggema di seluruh ruangan menyebar dengan cepat menghantam kulit yang kini bernoda merah,namun sang empu tak menghiraukannya ia memilih segera tersadar dari rasa kagetnya.
"ini dia orangnya, saya mau secepatnya hutang mamamu segera dilunasi!" sarkas seorang wanita yang kini tengah duduk di samping mama tirinya.
"hu hutang? hutang siapa? papa berhutang pada madam?" tanpa memperdulikan kakinya yang terluka ia berjalan mendekati orang itu.
"bukan papamu yang berhutang"
"ma.. mama berhutang lagi?" melihat mama tirinya yang hanya menunduk membuat ia yakin kalau yang di sampaikan orang dihadapannya itu benar.
"dengar ya Rimar mama tiri kamu ini sudah berhutang kepada saya dalam jumlah yang sangat besar."
Rimar hanya terdiam dengan menatap mama tirinya, bukan hanya kali ini ia harus berhadapan dengan rentenir atas ulah mama tirinya.
Satu lubang telah di tutup muncul kembali lubang yang lain mungkin ini yang sesuai dengan keadaan Rimar sekaran, beberapa hari setelah kepergian suaminya mama Sunja yang tidak pernah menyukai dirinya dengan sangat mengejutkan meminta uang pada dirinya.
namun benar adanya istilah di kasih hati meminta jantung mama Sunja dengan paksa mengenalkan Rimar kepada seorang pria tua hidung belang, ia sudah seperti barang yang di tawarkan sana sini dengan harga yang fantastis.
bagaikan mendapat angin segar para pria tua yang bergelimang harta tampak tertarik melihat dirinya, berapapun bayarannya uang tidak menjadi masalah bagi kalangan mereka namun sayang uang yang telah di berikan hanya sia-sia karena Rimar tidak mungkin semudah itu menyerahkan harga dirinya.
__ADS_1
Dan sekarang muncul kembali masalah dengan persoalan yang sama ia tidak tahu apakah ia akan mampu membayar atau ini akan momen dirinya akan berbuat nekat.
Selama ini Rimar berusaha memenuhi permintaan terakhir papanya untuk tidak memutuskan hubungan dengan Sunja ataupun keluar dari rumah, namun siapa orang yang akan tahan dengan perlakuan mama tirinya itu bukan kekerasan fisik yang ia dapat namun siksaan batin dan mental yang membuat ia ingin mengingkari semuanya.
"hey, kenapa kalian diam saja? kalian tidak mendengarkan saya bicara?" suara pukulan meja membuat Rimar tersadar dari lamunannya.
"dengar Sunja uang yang kamu pinjam sangat banyak, jadi saya mau secepatnya kalian bayar seenaknya saja mau menunggu terus."
"memang mama saya meminjam berapa banyak madam?"
"kamu baca saja semua sudah terperinci disana." sebuah amplop berisi lembaran rincian hutang tergeletak di atas meja.
"madam ini tidak salah? bukankah nominal ini terlalu besar?"
"kamu ini terlalu polos atau bodoh? dia meminjam uang bukan hanya sekali tapi berkali-kali tapi setiap jatuh tempo ada saja alasan yang dia berikan." dengan berapi-api Madam Valen menunjuk muka Sunja.
"asal kamu tahu nominal yang tertera di sana belum terhitung dengan bunganya."
"tapi saya belum memiliki uang madam, tolong beri saya waktu untuk melunasi semuanya."
"mau berapa lama lagi Rimar? saya sudah bersabar sekarang saya harus bagaimana lagi?" keluhnya sambil memijit keningnya.
__ADS_1
"sebenarnya kalian tahu tidak siklus kehidupan? selama kita hidup uang akan terus berputar."
"tolong madam beri kami kelonggaran waktu, saya janji akan melunasi hutang tersebut."
"oke saya kasih kalian waktu dua minggu untuk melunasi semuanya."
"bagaimana kalau tiga bulan madam?"
"kamu harus ya bersyukur saya kasih kelonggaran waktu bukannya ngelunjak seperti itu!!"
"satu bulan, tidak ada penawaran bila dalam waktu satu bulan kalian tidak bisa membayar hutang kalian terima akibatnya." Madam Valen terlihat berdiri setelah menyelesaikan ucapannya.
" iy iya madam terimakasih sudah memberikan waktu kepada kami." ucap Rimar sambil membungkukkan badan sebagai ungkapan terimakasih.
Setelah menghantarkan Madam Valen dengan cepat Rimar masuk dan menutup pintu, namun setelah ia berbalik ternyata mama tirinya telah pergi entah kemana.
Tanpa dihiraukan lagi Rimar melangkahkan kakinya menuju kamar, sepihan gelas yang menggores kakinya mulai terasa perih.
Dengan cekatan Rimar mengoleskan obat sambil menahan perih yang dirasa membuat matanya kian mengabut, entah karena sakit di kakinya atau lelah karena tanggung jawab yang di lemparkan kepadanya yang begitu besar.
Mama tirinya itu juga tidak menjelaskan apapun padanya, semua terasa begitu cepat mulai dari kepergian sang papa kemudian keadaan yang berubah seratus delapan puluh derajat dan sekarang terlilit hutang uang amat besar.
__ADS_1