
Dengan memicingkan sebelah matanya tuan Claire kebingungan melihat tingkah cucunya. "Apa kau kurang pekerjaan? ada saja tingkahmu itu." ucap tuan Claire sebelum berlalu.
Lucas yang melihat kakeknya hendak meninggalkan dirinya dengan cepat bergerak maju untuk mencegahnya.
"Apa?" tanya tuan Claire pada Lucas yang sedang memegang tangannya. Bukannya menjawab Lucas malah menarik kakeknya sedikit menjauh.
"Siapa wanita itu kek?" pertanyaan dari Lucas membuat tuan Claire tersenyum. Tanpa basa-basi saja anak itu.
"Dia adalah calon istrimu, orang yang akan kakek jodohkan denganmu." penuturan sang kakek membuat Lucas membelalakkan matanya, bukankah ini menjadi sebuah berita yang bisa menggemparkan seluruh peradaban para wanita.
Orang sekeren dan setampan Lucas dijodohkan? Bukan sebuah lelucon yang mereka dengar sekarang. Namun bagaimana sekarang, Lucas memiliki kekasih yang dia cintai mengapa harus menerima perjodohan konyol ini.
Sementara Lucas masih sibuk mencari pasokan oksigen untuk memenuhi rongga parunya karena syok, kakek yang terlihat tanpa beban telah mengatakan sesuatu yang enteng baginya kini memilih duduk di kursi dekatnya.
Tak lama terdengar suara tawa kencang dari Lucas, masih dengan pikiran positifnya Lucas menganggap kakeknya itu tengah bercanda. Katakanlah rencana perjodohan itu memang ada namun wanita yang sesuai dengan Lucas yang tidak dapat jadi kakeknya asal menyebut seorang wanita yang tadi pingsan di depan mansion sebagai orang yang akan di jodohkan dengannya. Bukankah itu konyol?
__ADS_1
Namun tak lama tawa Lucas terhenti, bahkan kini raut wajahnya berubah menjadi serius. "Jangan bilang kakek serius?" melihat ekspresi kakeknya yang datar saja tidak ada wajah jumawa membuat Lucas gelisah.
"Kau pikir aku sedang main-main?"
Deg
"Aku tidak mau kek, aku menolak perjodohan ini." sebuah tatapan tajam tertuju pada Lucas yang juga sedang menatap kakeknya tak kalah tajam. "Aku mencintai Selena, jadi kalaupun aku menikah harus dengannya."
"Sekarang kakek tanya dimana orang yang sedang kau sebut sebagai kekasih itu hah?" mendengar pertanyaan tuan Claire, Lucas menelan ludahnya susah payah. Lucas tahu bahwa kakeknya telah mendengar berita kepergian Selena tapi Lucas tidak mau menjawab sekarang, seolah bila dia menjawabnya dirinya telah kalah dengan sang kakek.
"Tapi- " belum selesai Lucas berbicara tuan Claire langsung memotongnya dan menyuruhnya diam agar tidak membantah.
Akhirnya Lucas mengalah dan bertingkah seolah dirinya tengah merajuk kemudian dengan cepat berjalan menuju kamarnya.
"Sekarang kau bisa keluar nak!" dengan tangan bersedekap di dada tuan Claire memberikan perintah kepada orang yang sedang berdiri di balik tembok.
__ADS_1
Sebenarnya sudah cukup lama tuan Claire menyadari kehadirannya, sedangkan orang yang tengah menguping itu membelalakkan matanya terkejut yang di campur perasaan tidak enak.
"Maaf tuan saya tidak bermaksud menguping pembicaraan anda." orang itu mendekat sambil tertunduk takut bahkan segan baginya untuk menatap sang lawan bicara.
"Hey panggil seperti sebelumnya saja, ayo panggil aku kakek!! anggap saja aku adalah kakekmu." mendengar itu orang yang tadi menunduk langsung mendongakkan kepalanya.
Mana berani dirinya berbuat kurang ajar begitu, apalagi orang di hadapannya itu bukan orang sembarangan melainkan orang yang berpengaruh di dalam dunia perekonomian. Bos besar maksudnya :)
"Ayoo kita duduk dulu." tuan Claire menggiring orang itu supaya duduk ke sofa. "Mengapa kau keluar dari kamar nak, apa kau sudah tidak apa?" tanya tuan Claire saat keduanya sudah menduduki sofa itu.
"Sudah tu- eh kek." dengan tersenyum canggung dirinya menertawakan kesalahan yang dia perbuat sendiri. Mengapa jadi gugup begini, apakah ini yang orang bilang "tekanan dari orang kaya"
"Tidak usah memaksakan tubuhmu Rimar, menginaplah malam ini!" pinta tuan Claire seperti tahu saja bila Rimar tengah bingung akan pulang kemana.
"Terimakasih tapi- "
__ADS_1
"jangan buru-buru menolak Rimar, anggap saja karena aku pernah menginap di rumahmu jadi sekarang kau menginap di rumahku kita jadi sama-sama pernah menginap bukan?" pertanyaan tuan Claire membuat Rimar mengangguk dan menggeleng dengan cepat. Mengangguk soal teori namun menggeleng soal menginap, aish bagaimana menjelaskan pada kalian. Tapi kalian mengerti kan?