Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 16


__ADS_3

"Kalian semua tidak bisa diandalkan!" terdengar sebuah gebrakan meja sebagai pelampiasan kekesalan pada bawahannya itu.


"Cari kemana pun anak itu pergi." titah sang tuan pada ketiga anak buah yang kini tengah menunduk di hadapannya.


"Baik tuan." jawab serempak ketiga orang itu. Sumpah serapah yang hendak terlontar akhirnya ditahan oleh mereka, namun bukan kepada cucu kesayangan tuannya. Karena keadaan baik-baik saja pada awalnya sampai pada saat Sam sang sekertaris Lucas yang tak lain cucu dari tuannya melumpuhkan mereka bertiga.


Belum lagi rasa sakit di tubuh mereka karena terlibat perkelahian dengan Sam tadi membuat mereka semakin geram. Awas saja akan aku piting kepalanya batin Nic yang masih merasakan sakit di bagian tengkuk karena di pukul sampai-sampai dirinya sempat tidak sadarkan diri tadi.


Sedangkan kedua rekannya hanya menampilkan wajah datarnya namun siapa yang tahu kalau di dalam hati mereka sedang mengumpati orang yang sama. Selain author :) hehe


Di sisi lain Rimar tengah kebingungan kemana ia akan bermalam, sedangkan tidak ada satu pilihan pun yang tepat untuk ia memutuskan. Bila dirinya pulang pasti Madam Valen akan datang dan membawa dirinya kembali ke tempat laknat itu.


Kalau datang ke kontrakan Kint, mungkinkah karena dari yang kabar ia dapatkan Kint pulang kampung karena karena ada beberapa urusan. Buntu otak Rimar kali ini, sedangkan uang sepeserpun dia tidak pegang.


Namun tunggu, seketika Rimar menyadari bahwa dia masih memiliki sedikit simpanan di ATM. Di carinya keberadaan gawai yang selalu ia bawa kemana-mana, sampai pada akhirnya Rimar bernapas lega setelah menemukan yang dicarinya di saku celana beruntung tidak terjatuh saat peristiwa kejar-kejaran tadi.

__ADS_1


Sayang seribu sayang, saat Rimar hendak menyalakannya ponsel itu mati.


"Si*l, kehabisan daya." maki Rimar sambil memperagakan seolah meninju angin untuk melampiaskan kekesalannya.


Sekarang mau bagaimana lagi? tidak ada pilihan lain, selain terus berjalan berharap ada toko atau apapun itu yang masih buka dan menumpang charge agar bisa membuka aplikasi e-banking nya.


Lama sudah Rimar berjalan sampai kaki yang ia gunakan untuk menopang beban tubuhnya terasa amat pegal.


Dan sampailah dia di kawasan elit dengan pemandangan rumah-rumah megah nan mewah menjulang dari dua sampai tiga lantai.


Rasa lelah, lapar dan semua rentetan peristiwa yang ia alami membuat Rimar hilang kesadaran di depan salah satu rumah mewah tersebut.


Dan ia juga tahu jalan itu walau tak jarang kesana namun bukan berarti tidak tahu bukan?


Mobil yang sedang melaju tanpa hambatan di sepanjang jalan harus berhenti mendadak karena sang supir yang terkejut dengan sosok yang tengah terbaring di depan gerbang rumah atau lebih tepatnya mansion milik sang tuan.

__ADS_1


"Hey kau bisa menyetir tidak?" sentak seorang laki-laki yang tengah jadi sandera mereka. Sebenarnya ia juga masih termasuk tuannya karena orang yang mereka sandera adalah cucu dari sang tuan yang menggajinya.


"Nic ada apa?" tanya Kim saat melihat rekannya yang masih terkejut.


"Kau lihat itu? apakah kita salah alamat? tapi setahuku tidak, mengapa ada orang tiduran di depan mansion?" tanya Lim pada Nic yang masih menetralkan rasa terkejutnya.


"Coba kau periksa!" titah Kim pada sang kembaran yang berada di samping cucu tuannya.


"Kenapa bukan kau saja?" Bukan Kim dan Lim namanya kalau tidak bertengkar terlebih dahulu sampai seseorang yang berada di tengah-tengah mereka menyela.


"Biar aku saja yang periksa." ujarnya setelah membungkam mulut kedua orang itu.


"Oh tidak perlu tuan muda, biar saya saja." akhirnya Nic lah yang turun tangan dengan cepat meninggalkan kursi kemudi dengan melirik ke belakang seolah berkata.


Tidak semudah itu untuk kabur lagi..

__ADS_1


Senyum yang diberikan Nic pun dibalas tatapan tidak suka dari tuan mudanya.


Awas kau Nic!!


__ADS_2