
Segera Rimar membuka pintu dan tampaklah beberapa orang yang berpenampilan rapi menggunakan jas lengkap dengan kacamata selayaknya seorang pengawal.
"apa benar ini rumah nona Rimar?" salah satu dari mereka bertanya dengan sopan.
"iya benar dengan saya sendiri."
"langsung saja kami kesini untuk menjemput tuan kamu pulang." sepersekian detik Rimar mencoba untuk memahami apa yang orang tersebut maksud.
"aah seorang kakek yang kalian maksud?" baru Rimar sadari bahwa mungkin mereka adalah keluarga dari kakek yang di tolong nya semalam.
Raut wajah orang itu berubah setelah mendengar pertanyaan Rimar bahkan dua orang di belakangnya juga sama namun ekspresi itu berubah kembali menjadi datar seperti sebelumnya.
apakah nona ini tidak tahu siapa kakek yang dia maksud? mustahil sekali jika ada orang yang tidak mengenali tuan batin salah satu pengawal itu.
"maaf nona yang anda maksud kakek itu sebenarnya adalah.. "
"aah akhirnya kalian menemukan ku ayo kita segera pulang." belum sempat pengawal tersebut menyelesaikan ucapannya kakek itu memotongnya terlebih dahulu.
Rimar yang terkejut mendengar suara kakek tersebut langsung melihat ke sampingnya, entah sejak kapan datangnya kakek itu yang kini telah berdiri di sampingnya.
"apa mereka benar keluarga kakek?" tanya Rimar untuk memastikan karena kejadian semalam ia takut bahwa mereka adalah orang yang kakek itu ceritakan.
"benar saya mengenal mereka, terimakasih kamu sudah mau membantu saya nak."
"iya sama-sama kek." senyum yang sangat tulus terpancar di wajah Rimar.
"kalau begitu saya pamit hati-hati ya semoga kita dapat bertemu kembali suatu hari nanti." buru-buru kakek itu memasuki mobil setelah mengatakan sesuatu yang ambigu entah kata itu hanya untuk basa basi atau memang terdapat makna tersirat di dalamnya.
Menyadari mobil yang ditumpangi oleh kakek itu telah keluar dari pekarangan rumah baru Rimar teringat akan penampilannya.
__ADS_1
Dasar memalukan maki Rimar tanpa suara setelah masuk kekamarnya.
Dengan langkah besar Rimar segera bersiap untuk berkerja agar tidak terlambat bila ia tidak mau gajinya di potong kembali.
Sementara itu di dalam sebuah mobil terdapat tiga orang pria yang tengah gelisah akan suasana sunyi menyerang mereka. Akankah mereka melakukan kesalahan? kata itu yang kini melintas di kepala mereka.
Terlihat di antara mereka seorang pria yang duduk dengan raut wajah tidak mengenakan.
"huh rambut palsu sia*an ini" dengan tidak sabaran pria tersebut melepas paksa rambut palsu yang terpasang diantara rambutnya dan dibuang ke segala arah begitu saja.
"hey kalian kenapa diam saja?" terlihat dari ketiga orang lainnya hanya diam tidak menjawab.
Melihat anak buahnya tidak menjawab pertanyaan darinya membuat dirinya semakin emosi dan menyebabkan kerutan di dahinya kian jelas, kini kancing baju nya yang menjadi sasarannya ia melepas dua kancing itu dengan paksa sampai jatuh entah kemana.
Seorang pengawal yang duduk di sampingnya terkejut melihatnya, sepertinya ini tidak akan berlalu dengan mudah ujarnya dalam hati.
Kedua temannya yang berada di depan pun menyadari raut wajah temannya yang berubah setelah tatapan mata mereka bertemu di kaca spion tengah mobil.
"kalian tahu kalian telah melakukan kesalahan?"
"maaf tuan tidak tuan." jawab pengawal yang berada disampingnya, memang dia adalah salah satu pengawal dengan tingkat kepolosan yang tinggi namun berbeda cerita saat membahas wanita.
Kedua temannya hanya bisa saling tatap setelah mendengar jawaban temannya.
haih berharap apa aku ini pada si sia*an itu ucapnya dalam hati pada temannya.
kita harus terus bersabar Nic dengan tangan sebagai isyarat mengusap dada ia berusaha menenangkan temannya yang tengah mengemudi itu.
"hentikan mobilnya sekarang juga!!" Mendengar teriakan sang tuan secara reflek ia menginjak rem.
__ADS_1
"kamu ingin saya mati hah?"
"maaf kan saya tuan."
"sekarang juga kalian turun." perintahnya pada pengawal.
"tapi tuan.." mereka yang mengetahui maksud dari perintah tuannya itu berusaha meminta belas kasih.
Mau tidak mau mereka menuruti perintah tuannya itu, mereka keluar dari mobil begitu pula dengan tuannya yang berpindah posisi ke kursi depan.
"kenapa diam saja? ayo dorong" dengan gontai ketiganya berjalan ke belakang dengan mulut yang komat kamit dan menahan rasa malu mereka mendorong mobil tersebut.
pakai jas masa dorong mobil bisik orang-orang disekitar yang dapat mereka dengar dengan jelas.
"si*l setidaknya kalau mau bergosip jangan sampai kita mendengar" umpat salah seorang pengawal yang bernama Nic.
"sudah diam saja kau dorong yang benar kamu mau hukuman kita ditambah?" kini Kim yang menimpali.
"ini semua karena saudaramu itu."
"aku kenapa?" tanya Lim yang terlihat bingung .
"taik kucing!!" jawab Nic dengan gemas, gemas ingin memukulnya yang dimaksud.
Kim yang melihat mereka berdua hanya menggelengkan kepala.
Entah karena tidak tega melihat keadaan anak buahnya atau rasa belum puas melampiaskan kekesalannya akhirnya di pertengahan jalan mereka di tinggalkan begitu saja, tuannya itu menyalakan mesin lalu menginjak pedal gas begitu saja.
Mereka bertiga yang melihat mobil itu semakin menjauh hanya berdiam saja seperti mereka sudah tahu akan terjadi hal seperti itu pada mereka.
__ADS_1
Sampai terdengar suara pesan masuk pada ponsel ketiganya. SIA*AN!! kata yang keluar setelah membaca pesan tersebut.