Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 3


__ADS_3

Keadaan sekitar tampak sepi kala Rimar menyusuri jalan untuk pulang hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas.


Setelah berbicara dengan Kint soal apa yang dihadapinya saat ini ia memutuskan menambah jam kerja entah pekerjaan apa saja yang ia butuhkan hanya uang untuk saat ini.


Dengan berbekal informasi dari Kint ia mendatangi sebuah resto untuk bekerja part time sebagai pencuci piring untuk mendapatkan uang tambahan.


Walaupun pulang lebih larut dari biasanya ia tidak keberatan dirumah pun ia hanya akan menambah beban pikiran saja pikir Rimar ditambah dengan mama tirinya yang banyak maunya.


Dari arah kegelapan Rimar melihat sebuah bayangan seperti orang yang sedang meringkuk. Rimar mempercepat langkahnya, bukan ia takut dengan hantu namun yang ia takutkan ialah orang jahat yang bisa saja mengancam dirinya.


Naluri seorang wanita yang tengah ketakutan membuat hati Rimar kian berdebar kala melihat bayangan tersebut menggeser posisi, membuat Rimar melangkahkan kakinya semakin cepat walaupun dirasa kakinya semakin berat.


"tolong.. tolong.." suara rintihan terdengar lirih membuat Rimar menghentikan langkahnya.


"sepertinya ada yang meminta tolong" batin Rimar yang kini tengah terpaku ditempatnya, dengan ragu ia menoleh pada bayangan itu berada.


Dan benar saja sebuah kaki terlihat disana, kini dirinya tengah bimbang ketakutan yang ia rasakan memenuhi hatinya. Namun jiwa kemanusiaannya kini membuatnya berfikir kembali.

__ADS_1


Akhirnya ia memutuskan untuk mendekat ke arah bayangan itu, dengan langkah perlahan ia mendekat dan alangkah terkejutnya Rimar melihat seorang laki-laki yang dengan rambut yang sebagian memutih namun badan yang masih terlihat bugar tengah merintih.


"tolong saya, saya mohon" pintanya pada Rimar.


Rimar pun dengan cepat membantu kakek itu berdiri, kini dengan jelas Rimar melihat kaki sebelah kiri si kakek terluka.


"kakek kenapa disini?" tanya Rimar setelah membantu kakek itu duduk di dekat tiang.


Bukan sebuah jawaban yang Rimar terima hanya sebuah gelengan yang entah apa artinya.


"kakek kesini dengan siapa?"


Melihat kaki si kakek kini Rimar memutuskan untuk segera mengobati luka tersebut terlebih dahulu, segera Rimar mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tertera tulisan P3K di atasnya.


Dengan telaten Rimar membersihkan luka kakek itu dengan peralatan dari kotak tersebut.


"sudah kek." ucap Rimar setelah merapikan kembali peralatan itu ke dalam kotak.

__ADS_1


"terimakasih." dengan menunduk.


"kakek namanya siapa? tinggal dimana? saya antar kek supaya kakek tidak tersesat lagi." melihat keadaan kakek itu kini Rimar merasa bersalah telah menghindar tadi.


"saya tidak ingat." melihat ekspresi kakek itu membuat Rimar sadar bahwa mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengan kakek itu.


"ya sudah kalau begitu kakek menginap dulu di rumah saya malam ini, besok pagi Rimar bawa kakek ke kantor polisi agar kakek segera bertemu dengan keluarga kakek."


"Rimar?" ulang kakek itu.


"iya itu nama saya kek."


"nama kamu bagus, nama cucu kakek juga bagus dan dia sangat tampan." senyum terukir di wajah kakek itu yang sudah dipenuhi keriput namun tetap terlihat tampan dan berwibawa.


kakek bukan sembarang kakek ini mah.. batin Rimar.


Dari penampilan kakek membuat Rimar semakin yakin tidak mungkin kakek itu berasal dari keluarga biasa, dengan pakaian yang rapi dan badan yang terlihat bugar di usia yang terbilang jauh dari kata muda seperti orang yang sangat amat terjamin hidupnya.

__ADS_1


Karena malam semakin larut Rimar membantu kakek itu berjalan pulang kerumahnya, hanya untuk semalam pikir Rimar mungkin tidak apa.


Berharap mama tirinya itu telah tidur sehingga ia tidak perlu menjelaskan kepadanya, karena Rimar sangat yakin mamanya tidak akan menyetujui bila kakek tidur di rumah mereka.


__ADS_2