Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 24


__ADS_3

Kata orang dunia ini hanya selebar daun lontar, namun benar adanya buktinya ia bertemu dengan orang itu lagi. Haih permainan macam apalagi ini?


Sebuah helaan napas terdengar kala Rimar menatap orang dihadapannya yang menjadi pemilik kedai yang baru. Seorang pria yang Rimar kenal, hanya sebatas kenal saja tidak lebih.


Senyum cerah ditunjukan oleh bos baru, namun bagi Rimar itu adalah senyuman yang sengaja ditujukan pada dirinya.


Sebenarnya dari tadi Rimar pura-pura tidak tahu saat Arya dan Roy bergantian menyikutnya. Sepertinya mereka juga menyadari kemana arah tatapan bos baru mereka.


Melihat mereka yang menatap curiga membuat orang itu segera memfokuskan pandangannya pada Zeth yang tengah memperkenalkan seluruh pekerja di sana.


"Dan yang terakhir Rimar, dia termasuk pekerja baru di sini bekerja di bagian pramusaji serta kasir."


"Apakah setiap orang memiliki dua bagian pekerjaan?" tanyanya pada Zeth setelah mendengar serangkaian penjelasan darinya.


"Iyyaaa." jawab Zeth dengan ragu, mendengar hal itu orang yang bertanya pun diam lalu mengangguk tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


Hening kembali menyelimuti ruangan itu, bahkan Zeth pun juga tidak tahu harus memulai lagi dari mana karena semua yang harus ia katakan telah ia sampaikan tadi. Jadilah semua hanya saling pandang dalam diam. Sampai orang yang tengah duduk di seberang meja itupun bangkit dari singgasana.


"Okay cukup untuk perkenalannya, sekarang kalian kembali pada bagian masing-masing!" belum sampai beberapa langkah mereka pergi melaksanakan perintah namun suara orang itu membuat mereka terdiam dan mengembalikan badan bersamaan.


"Maksudku,, kamu tetap di sini kalian yang kembali." kerutan di dahi setiap orang terlihat dengan jelas.


Sementara Rimar yang di minta tetap tinggal hanya terdiam, apalagi sekarang teman-temannya telah melangkah pergi meninggalkan dirinya sendiri.


"Kenapa diam saja? kemari dan duduklah lebih dulu." tanpa perintah kedua Rimar melangkah maju menuju kursi di seberang orang itu telah mendudukkan pantatnya kembali.


"Bukankah sudah pasti kalau aku sekarang menjadi pemilik baru disini?" ucapnya dengan menaikan alis sebelah.


"Tapi ini sangat aneh bila disebut kebetulan." tatapan menyelidik Rimar berikan sambil melipat tangan di dada. Bukannya tersinggung orang yang di beri tatapan tajam itu malah terkekeh geli.


Rimar yang melihat tawa orang didepannya hanya memutar matanya malas. Lama-lama nyebelin juga ini aki-aki...

__ADS_1


"Sudah-sudah jangan memikirkan hal yang tidak penting, sekarang tugas pertama dariku kau harus memandu ku berkeliling." ucap kakek yang telah berdiri terlebih dulu.


Sesi berkeliling telah selesai dengan tatapan heran para pekerja lain, apalagi saat melihat interaksi antara Rimar dengan bos baru mereka seperti sudah saling mengenal sebelumnya.


Winda yang sedang berada di belakang meja kasir menggantikan Rimar selama menemani sang bos baru mengomel ketika melihat mereka melintas di depannya.


"Apa kalian tidak curiga dengan Rimar?" kata Winda sambil berbisik pada Arya yang tengah mengelap meja kasir. "Curiga bagaimana?" Arya yang bingung sampai menghentikan aktivitasnya dan menatap Winda.


"Lihat itu! mereka terlihat sangat akrab seperti sudah saling kenal." helaan napas terdengar, sepertinya Arya juga merasakan hal yang sama namun ia tidak mau menebak-nebak hal yang belum pasti.


"Ck tidak baik berpikiran yang tidak-tidak." singkat Arya yang meneruskan acara mengelap mejanya.


"Win tolong sambut pelanggan yang baru datang itu." dengan sebuah nampan berisi piring dan gelas kotor Roy melewati mereka saat akan ke belakang.


"Kenapa bukan dia saja yang disuruh, capek tahu harus bolak balik ke depan, dibelakang juga masih aku yang kerjakan." walaupun dengan gerutuan yang panjang akhirnya Winda berjalan menuju meja pelanggan yang baru saja tiba itu.

__ADS_1


Haih.. sebenarnya dirinya juga banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan pada Rimar, namun waktunya belum tepat. Ucap Roy dalam hati.


__ADS_2