Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 7


__ADS_3

Meja yang telah dipesan kini telah dihias sedemikian rupa dan waktu makan malam pun sudah hampir tiba.


Terlihat seorang pelayan berdiri di dekat pintu yang bertugas untuk menyambut dan yang lainnya menyiapkan hidangan termasuk Rimar sedangkan Kint meminta ijin untuk pulang lebih awal karena ada suatu hal yang mendesak.


Tidak berselang lama pelayan yang berdiri di dekat pintu itu membukakan pintu membuat para pelayan yang lain mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.


Tempat mereka menyiapkan hidangan memang berada di dapur, namun dapur tersebut memiliki jendela yang sangat lebar dengan kaca yang siapapun dapat melihat keadaan di luar dapur namun bagi mereka yang berada di luar tidak bisa melihat aktivitas didalam.


"mimpi apa aku semalam? aku rasa seharian ini aku melihat pria tampan ah tidak dia adalah pangeran dari negri dongeng." ucap salah satu pelayan saat melihat seorang pria masuk yang tidak lama disusul oleh seorang wanita cantik dan sexy yang menggunakan pakaian yang membuat lekuk tubuhnya terekspos.


"tapi bukankah dia bersama seorang wanita? mungkin saja itu kekasihnya." raut wajah yang tengah mendamba itu kini menghilang seakan menjawab pernyataan yang di berikan oleh temannya.


"haish kalian ini meraka memang sepasang kekasih." jelas Rimar setelah mendengar obrolan pelayan di sampingnya.


"hey Rimar memang kau tahu dari mana?jangan sok tahu kamu." dengan ketus pelayan yang bernama Win menjawab, ia adalah pelayan yang menegur Rimar tadi sore.


Entah karena apa Win tidak menyukai Rimar dan Rimar pun tidak merasa memiliki kesalahan padanya semenjak dirinya masuk bekerja Win sudah menunjukkan rasa tidak sukanya.


"pria yang memesan meja tadi yang bilang, sepertinya dia asisten pria itu karena pria tadi sore menyebutnya tuan." jawab Rimar apa adanya.

__ADS_1


Win yang mendapat jawaban seperti itu tidak menanggapi lagi ia hanya menunjukan wajah sinisnya lalu pergi dengan membawa hidangan untuk tamu yang kini sudah duduk di meja yang telah di sediakan.


Pelayan lain yang melihat hal itu sudah tidak heran mereka mengganggap win memang sudah biasa seperti itu kepada mereka.


Dan tidak lama mereka membawa hidangan satu persatu menyusul Win namun tidak dengan Rimar ia bertugas membawa sup yang menjadi salah satu menu best seller di resto ini dan bisa di bilang ini adalah menu utamanya.


Beberapa saat telah berlalu dan hidangan pembuka telah di santap Kini saatnya menu utama di hidangkan dengan hati-hati Rimar membawa hidangan tersebut di belakang Win namun karena tersenggol dengan tidak sengaja ia kehilangan keseimbangan dan semangkuk sup yang akan di hidangkan tumpah mengenai pakaian pria tersebut.


"oh s*it, apa kau buta?" maki pria tersebut yang tengah berdiri dari duduknya dengan reflek.


"maafkan saya tuan." rasa bersalah Rimar karena dirinya membaut kekacauan membuat ia tertunduk menyesal.


"tidak saya mohon maafkan saya."


"apa kau tahu berapa harga kemeja ini hah? bahkan tidak sebanding dengan hargamu semalam." ucap frontal pria tersebut.


Mendengar kata pria itu membuat Rimar mendongak dari yang semula ia menunduk ditatapnya mata coklat milik pria itu indah dan terkesan dalam namun tidak dengan temperamennya pikir Rimar.


"saya memang seorang pelayan tapi saya bukan pela*ur." dengan perasaan yang bergemuruh Rimar berkata dengan tegas.

__ADS_1


"KAU... " pria itu terlihat sangat marah melihat keberanian Rimar, selama ini tidak ada orang yang berani membantah perkataanya selain asisten pribadinya.


Dan ini untuk pertama kalinya orang luar yang baru saja bertemu sangat berani padanya.


"sudah tidak sepantasnya kita berurusan dengan seorang pelayan" dengan tatapan yang sinis pada Rimar.


Para pelayan lain tidak ada satupun yang berani mendekati mereka yang tengah bersitegang mereka tidak ingin ikut terseret masalah apalagi berurusan dengan pria tersebut karena jika di perhatikan kembali pria itu seperti bukan orang sembarangan.


Akhirnya pasangan kekasih itu memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut dengan kemarahan yang terlihat di wajah pria itu.


Rimar yang sejak tadi menahan air matanya setelah mendengar perkataan pria itu segera berlari menuju toilet.


Ia menumpahkan semua yang ia tahan di dalam sana, dia yakin dirinya telah berhati-hati tapi kenapa tiba-tiba dirinya kehilangan kesalahan? pelayan lain hanya termenung di tempat masing-masing karena kejadian itu berlalu terlalu cepat.


"kau tidak seharusnya berkerja disini Rimar lihat ini semua kacau karena ulahmu dan jika besok kau di panggil pemilik resto aku tidak mau kau melibatkan kami awas saja kalau sampai kami terkena imbasnya." kata win yang melihat Rimar keluar dari toilet.


Pelayan lain menatap Rimar seakan memihak pada Win bila memang ada yang harus di salahkan maka salahkan saja dirimu Rimar seperti itulah yang tergambar dari tatapan mereka.


Rimar sadar akan kesalahan yang ia buat tapi itu bukan sebuah kesengajaan mengapa semua jadi menghakimi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2