
Dengan wajah terkejut Nic kembali menoleh ke belakang menatap kawan mereka serta tuan muda di dalam mobil.
Walaupun sebenarnya dalam hati Nic juga bertanya-tanya mengapa ada orang pingsan di depan mansion yang lebih parahnya itu milik tuannya.
Di baliknya tubuh yang setengah tengkurap itu, menyingkirkan rambut yang terlihat acak-acakan agar dapat melihat wajah orang itu dengan jelas.
Terlihat wajah Nic yang terkejut namun hanya sepersekian detik saja, karena setelahnya sang tuan keluar dari mansion mungkin merasa ada yang tidak beres melihat mobil yang terparkir di depan gerbang. Mengapa tidak masuk?
Sedangkan ketiga orang yang berada di dalam mobil memutuskan untuk keluar juga, rasa penasaran membuat mereka mendekat ke arah Nic.
"Kau lama sekali Nic." Lucas mendekat dengan santainya tanpa menyadari siapa seseorang yang tengah tergeletak itu.
"Bukankah dia yang waktu itu bersama tuan." kini Kim yang berseru dan hal itu membuat Lucas memfokuskan pandangannya pada orang tak sadarkan diri itu.
"Apa?" dengan mata yang melotot Lucas menatap anak buah kakeknya itu, di tambah lagi suara sang kakek yang entah dari kapan telah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Cepat bawa dia ke dalam!!" dengan segera Nic pun menggendong Rimar ke dalam mension sedangkan Lucas malah mematung di tempat dengan pikiran kosongnya. Sepertinya aku ketinggalan beberapa berita...
Lamunan Lucas terhenti kala dirinya terkejut mendengar suara klakson mobil yang entah dari kapan kedua orang itu telah kembali kedalam mobil.
Dengan melayangkan tatapan tajam kepada mereka berdua Lucas memilih berjalan masuk ke mansion terlebih dahulu. Meninggalkan mereka yang tengah terkikik menertawakan dirinya yang terkejut dari dalam mobil.
Dasar si*lan!!!
Lukas masuk ke dalam mansion di sambut oleh beberapa orang pelayan yang telah lama tidak berjumpa dengannya dan ada juga beberapa pelayan yang wajahnya asing bagi Lucas.
Daripada penasaran bukankah lebih baik bila bertanya langsung pada kakek. Itulah yang pikirkan Lucas tapi sebelum menemui sang kakek ia memilih untuk membersihkan badannya terlebih dahulu.
Bayangan masa kecil muncul kembali seperti film yang terus berputar di kepala Lucas kala masuk ke dalam kamar yang dia tempati dulu.
Aakhh... masih seperti biasanya batin Lucas yang menatapi setiap sudut kamarnya sambil merebahkan diri pada sebuah ranjang yang lumayan luas itu.
__ADS_1
Sampai pada pandangan Lucas tertuju pada sebuah figura yang berada di antara jejeran figur action yang di koleksinya sewaktu remaja.
Sebuah foto yang menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan tengah duduk di sebuah kursi dengan seorang anak laki-laki yang menjadi penengah di antara mereka.
Yahh.. mereka ialah orang tua Lukas, dimanakah mereka? jawabannya mereka telah pergi ke tempat yang lebih menyenangkan dan damai.
Sebuah kecelakaan telah merenggut nyawa orang tua Lucas, semua itu terjadi saat Lucas berumur sepuluh tahun. Di umurnya yang baru menginjak angka sepuluh Lucas harus kehilangan sosok terpenting dalam hidupnya, orang yang harusnya memberikan kasih sayang dan perhatian apalagi mereka seharusnya menjadi orang yang Lucas jadikan panutan.
Memilih bangkit dari tidurnya dan melenggang pergi untuk membersihkan diri, Lucas menghindar yah menghindar lebih tepat di sebutnya karena tanpa sepengetahuan orang lain Lucas kecil sering menangis sendirian di dalam kamar ini dengan foto tadi yang menjadi saksi kesedihan dan kesepian Lucas.
Dirinya merasa sesak ketika melihat foto itu lagi. Dan hal itu juga yang membuat Lucas lebih memilih tinggal di apartemennya sendiri.
Melihat sang kakek yang keluar dari kamar tamu buru-buru Lucas menghampirinya, karena rasa penasaran telah menggebu tanpa sadar ia menendang ujung sofa yang kemudian disusul sebuah ringisan yang terdengar nyaring.
Akkhhh.... Si*lan!!
__ADS_1