Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 20


__ADS_3

Sebuah kain mendarat mulus di wajah Rimar, menutupi kedua matanya. Sedangkan orang yang tersangka sebagai pelaku pelemparan kain tersebut terkejut.


Apalagi saat Rimar sibuk menatapi kain yang kotor itu, kain yang sempat berkunjung ke wajahnya sampai-sampai tercium sedikit bau apek dari kain itu.


Melihat Rimar yang masih tertegun di tempatnya, akhirnya orang itu mendekat. "Maafkan saya, silahkan duduk." orang itu dengan sopan menyuruh Rimar duduk. Kini perhatian Rimar sepenuhnya tertuju pada orang yang menyuruhnya duduk.


Terdapat seorang laki-laki di hadapannya yang tengah menunduk, namun walaupun begitu dia tetaplah lebih tinggi dari pada Rimar.


Lalu terlihat pula dua orang yang tengah berdiri berdampingan di bagian belakang meja kasir, yang satu seorang perempuan yang satu lagi seorang laki-laki. apakah ia pikir aku akan memesan makanan? batin Rimar.


Rimar yang belum sempat menjawab langsung di tarik oleh orang itu ke salah satu meja. Saat ini suasana sedang sepi karena jam makan siang belum datang.


"Ayo ayo silahkan, mau pesan apa?" orang itu telah menyodorkan sebuah daftar menu ke hadapannya.


"Sop buntut menjadi menu andalan di sini kak." sambung seorang laki-laki yang yang tengah berdiri menatapnya.


okay fixs mereka salah paham

__ADS_1


Terdengar sebuah hembusan napas Rimar sebelum bersuara. "Maaf saya kesini tidak ingin makan." sekarang Rimar merasa bersalah, ketika melihat wajah mereka yang antusias berubah menjadi lesu.


"Lalu untuk apa kamu kesini?" suara seorang perempuan bertanya dengan ketus. Memang sendari Rimar masuk tadi orang itu sudah memberikan tatapan yang berbeda padanya walaupun ia sudah berusaha menghindari tatapan itu, namun sepertinya tebakan Rimar tidak meleset orang itu memang tidak suka padanya.


"Saya mau tanya, apa benar kalau disini membutuhkan pekerja baru?" tanya Rimar dengan menatap mereka bertiga bergantian.


Iyaaa


Tidak


Sedangkan seorang laki-laki yang tengah berdiri di samping perempuan itu dengan sengaja menyenggol tangan temannya agar ia diam mungkin. Dan dengan cepat laki-laki itu menjelaskan pada Rimar bahwa memang benar tempat itu memerlukan seorang pekerja tambahan.


Ia juga menjelaskan soal bagian yang harus Rimar kerjakan. Cukup melelahkan bagi Rimar, dia bertugas sebagai pramusaji sekaligus berada di depan mesin kasir.


Karena ternyata ketiga orang itu adalah juru masak sekaligus bertugas bersih-bersih di belakang meliputi cucian piring dll. Tapi bukankah bila kita telah terhimpit sebuah keadaan yang mengharuskan akan membuat kita tidak punya pilihan lagi.


Itu semua membuat Rimar kuat dan semangat sampai saat ini. Memang sebesar apa Tuhan ingin memberi beban, yang ia tahu Tuhan nya tidak akan memilih dirinya memikul beban tersebut bila ia tidak kuat menghadapi kehidupan.

__ADS_1


Seperti Gatot kaca... khuuaakhh...


Tanpa menunggu waktu lama Rimar mengangguk, seolah dia paham dan menyanggupi pekerjaan yang akan dia jalani nantinya.


"Tapi kau harus bertemu dengan bos terlebih dahulu." Rimar mengangguk lagi. "Oh ya siapa namamu? namaku Roy." sebuah tangan terangkat di depan Rimar.


"Rimar." jawab Rimar singkat sambil menjabat tangan Roy. "Hey kau tidak bertanya siapa namaku?" suara orang di seberang membuat jabatan tangan Rimar dan Roy berakhir, pasalnya tangan Roy masih menggenggam tangan Rimar walaupun sudah beberapa menit mereka bersalaman.


"Oh iya, kenalkan namanya Arya dan yang di sampingnya Winda." sebuah senyuman Rimar berikan bermaksud agar lebih ramah dan akrab dengan mereka berdua namun berbeda respon yang ia dapat.


Bila Arya tersenyum balik ke arahnya berbeda lagi dengan Winda yang berlalu masuk ke area belakang. Sepasang alis Rimar pun bertemu, sedangkan Arya menggeleng melihat tingkah temannya itu.


"Jangan kau pikirkan soal dia, dan maaf atas sikapnya." ucap Roy yang masih melihat ke arah pintu dimana Winda masuk tadi.


Hanya sebuah anggukan Rimar berikan, memang dirinya tidak terlalu memikirkan sikap perempuan itu. Bukankah di semua tempat pasti ada yang seperti itu, tiba-tiba sensi tidak jelas. Seperti remaja puber saja..


Akhirnya Roy mengantar Rimar untuk bertemu pemilik tempat itu. Berharap bina di bekerja di sana dengan tenang nantinya.

__ADS_1


__ADS_2