Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 21


__ADS_3

Kini Rimar telah mulai bekerja di sana, kemarin saat bertemu dengan pemilik kedai ia meminta keringanan untuk bisa tidur di sana walaupun di bagian belakang pun Rimar tidak apa karena sekarang ia harus mulai berhemat sampai gajinya turun.


Namun walau begitu sang pemilik menolak permintaan Rimar karena banyak resiko yang mungkin terjadi kata pemilik kedai. Memang benar sih, bila terjadi sesuatu pasti Rimar lah yang akan menjadi orang pertama yang dicurigai.


Dan sebagai gantinya pemilik kedai memperkenalkan Rimar pada temannya yang ternyata memiliki kontrakan didekat ia bekerja.


Katakanlah kontrakan itu terbilang tidak terlalu besar namun segala peralatan rumah tangga telah tersedia di sana. Dan beruntunnya lagi Rimar dapat menempati kontrakan itu dengan membayar biaya yang cukup murah, harga itu ia dapat karena pemilik kedai yang membawa dia kesini.


Lega rasanya hati Rimar, ia merebahkan diri sambil menatap fokus plafon kamarnya yang tidak terlalu luas. Di satu sisi ia merasa lega, satu masalah telah teratasi namun disisi lain masih ada yang mengganjal di hati Rimar.


Kabur dari jeratan Madam Valen dan sekarang telah memiliki pekerjaan yang jauh dari tempat ia bekerja dulu, tepatnya jauh dari jangkauan madam Valen juga. Rimar hanya bisa berharap semoga Madam Valen membiarkan dirinya pergi begitu saja, kalau bisa tidak usah mencari ia lagi.


Namun bagaimana dengan rumah dan mamanya, bukankah ia di bawa untuk menjamin rumah mereka tidak disita. Ck persetan dengan rumah itu dan mama, saat aku dibawa oleh Madam Valen dia malah diam saja. Jadi biarkan saja...


Kini ada sebuah tekat baru di dalam hidup Rimar yaitu bekerja keras untuk mengumpulkan uang lalu mengambil kembali rumah penuh kenangan itu. Semoga saja.. dan harus bisa, SEMANGAT!!! batin Rimar dengan mengepalkan tangan kanannya ke atas.


Dengan semangat yang tengah menggebu Rimar akhirnya tertidur pulas, rasa kantuk dan capeknya kini harus dibayar kontan. Bagaikan di lapisi sebuah besi, kaki Rimar terasa berat karena dari saat ia kabur sampai pagi tadi ia berjalan kaki.


Bahkan luka yang sempat ia dapatkan ketika nekat melompati jendela kini sudah tidak ia hiraukan. Luka itu sudah sembuh sekarang.


.

__ADS_1


.


.


Matahari membumbung tinggi, menampakan sinar yang amat terang. Mencoba memberikan semangat pagi pada seluruh makhluk hidup di bumi. Hari ini adalah hari pertama Rimar masuk kerja di tempat baru.


Walaupun gaji di kedai itu tidak sebesar gaji saat ia berkerja di restoran namun Rimar tetap semangat empat lima. Luamayan lah... batin Rimar.


Hari ini berjalan seperti biasa ketika Rimar bekerja di restoran, kedai akan lebih ramai ketika masuk jam istirahat.


Selain di waktu itu kedai cukup sepi, akh rasanya Rimar tahu sekarang mengapa saat dia datang kemarin terjadi adegan kain melayang ternyata di jam segini memang pengunjung sudah tidak banyak bahkan bisa dibilang sepi.


"Hey bagaimana hari pertama bekerja disini?" tanya Arya yang sekarang sudah berdiri di sampingnya. Kapan orang itu datang? seperti hantu saja batin Rimar yang terkejut dengan kehadiran Arya.


"Iya biasa, dulu saya pernah bekerja di restoran yah kurang lebih sama seperti di kedai ini. Arya yang kini paham dengan apa yang di maksud Rimar mengangguk saja.


"Tidak bisakah tidak usah pakai kata saya." menurut Arya walaupun Rimar baru bertemu dengannya kemarin namun kata saya bukankah terlalu memberikan jarak.


Bukan berarti mereka harus dekat pula namun sesama partner kerja mereka harus merasa nyaman satu sama lain.


Barulah bekerja menjadi nyaman apalagi dengan orang yang enak untuk di ajak bekerja, tidak mudah mengeluh dan bisa menempatkan diri pada posisinya masing-masing tanpa harus diingatkan.

__ADS_1


Dan satu lagi yang terpenting, bisa menjaga kebersihan adalah poin plus dan Rimar sepertinya mendapat nilai sembilan puluh sembilan sejauh ini.


"Memangnya kenapa?" bukan karena apa-apa, Rimar berusaha menghormati orang lain apalagi orang yang baru bertemu dengannya. Tapi bila orang itu tidak apa bila ia berbicara informal padanya Rimar akan dengan senang hati menurut kemauannya saja. Karena jujur saja, benar kata Arya dirinyapun tidak begitu nyaman bila terus-terusan berbicara formal.


"Oke kalau begitu." sebuah persetujuan dari Rimar membuat Arya menarik kedua sudut bibirnya.


"Memang kau bekerja dimana?"


"Disebuah restoran di kota." jawab Rimar singkat. " Nama restoran nya?" tanya Arya lagi.


Sekarang haruskah Rimar menjawab pertanyaan Arya yang satu ini, sebenarnya ia tidak mau bila ada satu orangpun yang tahu alasan dirinya bisa sampai bekerja bahkan memilih untuk mencari tempat tinggal disini.


"Bila tidak mau jawab juga tidak apa-apa." tutur Arya sambil menyenggol lengan Rimar, berusaha menyadarkan Rimar dari lamunannya bahwa ada beberapa orang yang masuk.


Melihat siapa yang masuk membuat Rimar membelalakkan matanya, pasalnya dari segerombolan orang-orang itu ada seorang yang pernah Rimar temui.


Buru-buru Rimar berjongkok berusaha bersembunyi dari orang itu, sedangkan Arya yang melihat tingkah Rimar menjadi bingung.


"Kau kenapa?" ucap Arya sambil menunduk menatap Rimar yang berada di samping kakinya. Dengan sebuah telunjuk di depan bibir Rimar memberikan kode pada Arya agar mengecilkan suaranya.


Melihat Arya yang semakin mengerutkan alisnya buru-buru Rimar memutar otaknya mencari sebuah alasan. "Aku sakit perut,, iyah sakit perut."

__ADS_1


"Ck aku pikir ada apa?" Arya memutar matanya malas sedangkan Rimar nyengir tanpa dosa begitu saja.


"Biar aku saja yang menyambut mereka." sebuah helaan napas lega terdengar saat Arya berjalan mendekati segerombol orang itu. Kini Rimar berjalan pelan menuju ruang belakang dengan posisi dirinya masih berjongkok.


__ADS_2