Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 22


__ADS_3

"Kau sedang apa?" sebuah tatapan sinis tertuju pada Rimar yang berhasil masuk ke area belakang. Baru saja ia bernapas lega malah bertemu dengan nenek lampir satu ini.


Siapa lagi kalau bukan Winda, sebenarnya dari awal Rimar melihat tatapan Winda ia sudah tahu bahwa perempuan itu tidak suka padanya.


Namun herannya, Rimar bahkan tidak merasa pernah melakukan sesuatu yang membuat Winda merasa tersinggung. Memang sudah berapa lama mereka bertemu? bukankah baru dua hari ini, namun mengapa rasa tak suka dari Winda dapat Rimar rasakan.


Hmm ternyata di setiap tempat akan ada saja orang-orang yang tidak suka dengan kita. Saat dirinya masih bekerja di restoran ada Win yang tidak suka padanya, dan sekarang ada lagi Winda disini.


Sebenarnya ada apa pada nama berawalan Win?


"Ti tidak, hanya itu tadi apa? emm ambil garpu. Nah ini dia." dengan cepat Rimar menyambar garpu dari tempatnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Winda sendiri, namun tunggu mengapa Rimar berjalan ke arah sana?


Bukankah itu toilet, dengan alis yang mengkerut dalam Winda terheran melihat Rimar yang masuk ke dalam toilet dengan sebuah garpu di tangannya.

__ADS_1


Rasa cemas menghampiri Rimar yang tengah duduk di atas kloset salah satu bilik toilet. Mengapa orang itu berada disini? Mungkin benar yang di katakan orang-orang bahwa bawahan Madam Valen sangatlah banyak bahkan sekarang sampai berada disini.


Sebuah helaan napas terdengar, sang empu sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Kalau sudah begini ia harus cepat memutar otak lalu mencari alasan supaya sebisa mungkin dia tidak bertemu dengan orang itu.


Hampir saja hari ini Rimar ketahuan oleh bodyguard Madam Valen namun mungkin Tuhan menginginkan Rimar selamat , jadi Rimar dapat menghindari orang itu. Walaupun harus berdiam diri di dalam toilet sampai mereka pergi.


Hari demi hari Rimar lewati seperti biasa, dan sebaliknya namun keadaan kedai saat ini terhitung memprihatinkan. Selama ia bekerja di sana para pengunjung dirasa semakin berkurang.


Hanya pada saat jam makan siang saja kedai terisi oleh orang banyak, selain jam itu keadaan kedai kembali sepi!! Duduk berdua di pinggir kolam ikan sambil berbincang dengan Arya, lalu disusul oleh Roy yang bergabung di sana.


Hanya khusus di taman tersebut atapnya berupa kaca bahkan sekat antara meja para pengunjung dengan taman sebuah pintu kaca. Jadi para pengunjung tidak akan merasa bosan, bahkan pemilik kedai juga menaruh beberapa ekor burung lengkap dengan kandangnya.


"Apa sebelumnya kondisi kedai juga seperti ini?" tanya Rimar pada Roy yang baru saja duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak, hanya saja dua bulan terakhir ini kedai mulai sepi pengunjung." sebuah helaan napas terdengar lirih, dengan Roy yang menatap lurus kedalam kolam.


"Kami juga bingung Rimar, mengapa pengunjung kedai mulai berkurang padahal sebelumnya masing-masing dari kami malah sangat keteter karena banyaknya pengunjung." Rimar menoleh pada Arya yang kini bergantian berbicara.


"Apakah kalian sudah berunding dengan pemilik kedai?"


"Belum tapi kami yakin pemilik kedai juga sudah mengetahui kondisi ini, hanya saja aku tidak tahu bagian manakah yang salah sampai sepi seperti ini."


"Tunggu sebentar, walaupun kemungkinan pemilik kedai sudah tahu tapi kita harus tetap berunding." sanggah Rimar pada Roy yang kini menatapnya.


"Benar juga sih." Roy dan Arya hanya mengangguk setuju, karena diamnya mereka selama ini hanya membuat kedai semakin sepi sudah cukup sekarang mereka harus melakukan sesuatu. Sebuah gebrakan yang penuh atensi untuk menarik minat pelanggan.


Demi kesejahteraan bersama akhirnya mereka memutuskan untuk menemui pemilik kedai bersama-sama setelah kedai tutup. Sekarang hanya tinggal Winda saja yang belum tahu rencana untuk menemui pemilik kedai.

__ADS_1


Namun di tengah perbincangan, mereka dikejutkan dengan suara pintu di dorong masuk dari luar. Pemilik kedai..


Tumbenan berkunjung di jam segini, dan sekarang terlihat tengah berlari tergesa. Lalu siapa orang yang berada di luar? mengapa pemilik kedai berlarian keluar dari ruangannya dengan sebuah amplop coklat di tangannya? Sekarang sebuah pertanyaan berputar di pikiran masing-masing.


__ADS_2