
"Seberapa banyak yang telah kau dengar Rimar?" tanya tuan Claire pada Rimar yang duduk di seberangnya. Akhirnya Rimar menyetujui permintaan tuan Claire untuk menginap, karna dia sebenarnya juga bingung harus bermalam dimana.
Setidaknya hanya semalam saja ia menginap, besok dia akan mencari pekerjaan baru dan tempat tinggal. "Ti,,tidak banyak." jawab Rimar gugup, sebenarnya lebih yang Rimar dengar karena cukup lama dia berdiri di balik tembok itu.
Sedangkan tuan Claire yang mendengar itu hanya tersenyum, sebab ia tahu bahwa wanita yang tengah duduk di hadapannya itu sedang berbohong terlihat jelas dari raut wajahnya yang gelisah.
"Kau tak pandai berbohong nak." dengan senyum meledek tuan Claire menanggapi perkataan Rimar.
Kali ini Rimar hanya meringis, sudah seperti maling yang tertangkap saat mengambil barang saja. Bodoh, malah ketahuan bohong kan!
"Bagaimana menurutmu Rimar?" mendengar pertanyaan itu membuat otak Rimar blank seketika.
Dengan cepat Rimar menaikan alisnya seperti bertanya, sungguh otaknya kosong sekarang ia diberi pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya.
Tidak, lebih tepatnya dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dirinya pingsan di jalan kemudian bangun di tempat tidur yang besar dengan kamar yang sangat luas dan sekarang ia sedang mendengarkan rencana perjodohan, yang lebih konyol lagi itu adalah perjodohan untuk dirinya sendiri.
Tapi bila dipikir-pikir dirinya malang sekali, dibawa oleh Madam Valen dipaksa bekerja untuk melunasi hutang. Bingung kemana dia akan mencari tempat tinggal dan pekerjaan. Lagi soal perjodohan, bukankah mereka baru sekali bertemu. Tidak, maksudnya bukankah terhitung ini sangat mendadak.
__ADS_1
Lagi pula ia juga belum bilang mau bukan? Ayolah, apakah tuhan sedang membuktikan kuasanya sekarang? kenapa semua bisa berubah seratus delapan puluh derajat begini.
Bukannya hidupnya jadi lebih baik malah menjadi lebih rumit begini. Dengan segera Rimar menarik kesadarannya dari lamunan yang makin kemana.
"Jujur saya sedang bingung, tapi suatu hal pasti yang saya tahu saya juga menolak perjodohan ini."
"Menurut saya rencana ini sangat konyol sekali." kalau boleh di sebutkan, katakanlah kalimat yang keluar dari mulut Rimar terdengar lancang namun memang semua itu benar adanya.
Memang siapa orang di dunia ini yang mau menikah dengan orang yang tidak dikenalnya apalagi memalui jalur perjodohan.
Tak terbayangkan lagi, bagi Rimar menikah bukan hanya sebuah ikatan yang mempertemukan dua orang menjadi satu dalam nama cinta.
Sebuah ibadah yang akan di jalankan seumur hidup, jadi bukankah terburu bukanlah keputusan yang baik. Walaupun bukan dari keluarga yang mapan dan terpandang namun Rimar ingin memiliki keluarga seperti keluarga kecilnya dulu.
Dimana ada sang papa dan mamanya yang masih hidup, betapa dia merindukan moment itu kala mengenang mendiang mamanya. Tidak ada waktu yang dapat menggantikan waktu ia kecil. Karna waktu itu namanya masih hidup dan papanya belum menikah lagi dengan mama Sunja.
"Dan saya tidak tertarik sama sekali dengan perjodohan ini, silahkan cari calon yang lebih baik daripada saya."
__ADS_1
.
.
.
Matahari menyingsing, menampakan diri menyinari dunia dengan hangatnya. Hari ini matahari memang sedang terik namun beruntung awan-awan tipis mengelilingi sang surya, membantu sedikit mengurangi sengatan yang bisa membuat kulit gosong.
Kedua kaki Rimar berjalan tanpa arah, dia hanya menyusuri jalan dengan harapan dia segera menemukan toko yang menambah pekerja. Atau apa sajalah mau itu di toko ataupun di warung kecil tak apa yang penting ia bisa menjamin keamanan perutnya.
Pagi sekali ia berpamitan dan tak lupa memberikan ucapan terimakasih karna mau menampung dirinya walau semalam.
Namun bisa dibilang ia tidak sopan karena tadi saat akan pergi, dia tidak bisa berpamitan secara langsung dengan tuan Claire karena masih tidur jadi Rimar hanya berpamitan oleh ketiga anak buah tuan Claire saja.
Kedua bola mata coklat itu sibuk menatapi kiri kanan jalan, meneliti apakah ada tulisan 'membutuhkan perkerja' atau tidak. Bagaikan menang sebuah lotre Rimar segera berlari mendekat kala melihat tulisan yang dia cari-cari sendari tadi.
Mengetuk pintu sopan, lalu mendorongnya untuk masuk namun sesuatu mendarat tepat di wajahnya.
__ADS_1
Apa ini? batin Rimar sambil memegang sebuah benda yang sempat hinggap di mukanya.