Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 23


__ADS_3

Semua karyawan kedai langsung di kumpulkan detik itu juga, katanya akan ada pengumuman penting yang akan di sampaikan oleh pemilik kedai.


"Maaf sebelumnya pasti kalian terkejut dari tadi." sebuah senyuman cerah di berikan oleh seorang wanita berkacamata kotak itu yang tidak lain adalah pemilik kedai.


"Jadi begini kedai ini telah aku jual." masih dengan senyum yang mengembang pemilik kedai menyampaikan maksudnya dan itu semua membuat keempat orang yang tengah berdiri dihadapannya terkejut.


Apa?


Apakah mereka tidak salah dengar? mengapa bisa tiba-tiba dijual bukankah kedai ini merupakan hasil jerih payahnya dari nol.


"Mengapa bisa sangat tiba-tiba?" tanya Roy yang telah tersadar dari keterkejutan nya lebih dulu di banding ketiga temannya.


"Mengapa apanya?" lalu tak lama suara kekehan terdengar dari pemilik kedai.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu khawatir, kalian masih tetap bekerja disini." bukan itu sebenarnya yang mereka maksud tapi lebih ke mengapa semuanya sangat mendadak? padahal baru saja mereka akan menemui pemilik kedai untuk membahas soal kedai.


"Dan aku bekerja disini juga." terdengar suara tepuk tangan yang berasal dari seberang meja. "Mengapa kalian diam begitu?" pemilik kedai terheran melihat reaksi mereka berempat.


Tepuk tangan itu terhenti bergantian dengan sebuah tatapan malas, ck semuanya tidak asik... apa mereka tidak tahu hari ini ia sangat senang tapi mengapa mereka tidak memberikan respon yang sama.


Tiba-tiba ada orang yang bertamu ke rumahnya pagi ini, menawarkan segepok uang dengan pertukaran yang menurutnya sangat menguntungkan. Bagaimana tidak bila menerima tawaran itu, ia mendapatkan uang lalu sebuah jabatan manager. Jadi walaupun ia sudah menjual kedai tapi masih bisa datang ke sana setiap hari.


Namun berbeda kali ini, ketika orang itu datang dengan sebuah penawaran yang membuat pemilik kedai tidak bisa menolak penawaran yang dia berikan. Apalagi dirinya akan dijadikan sebagai manager kedai, jadi ia tidak akan jauh dari kedai malah akan bekerja di sana sekarang.


Memang pemilik kedai akh bukan panggil saja Zeth, ia sangat menjaga kedai itu karena bukan cuma hasil dari jerih payahnya namun juga kedai itu merupakan salah satu saksi bisu atas kisah dirinya dan mendiang sang suami berjuang bersama.


"Tunggu saya jadi bingung, anda bilang kedai ini dijual lalu anda juga bilang kami tetap bekerja disini sekarang anda malah bilang kalau anda juga akan bekerja disini?" Zeth yang menangkap raut kebingungan Winda akhirnya berdiri, mendekat ke arah mereka yang masih berjajar mematung di tempat.

__ADS_1


"Dengar!! aku akan menjadi manager kalian, jadi kalian tetap harus bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Tidak!! harus lebih baik sekarang, karena bos kita bukanlah orang sembarangan semua harus perfect." kedua tangan Zeth merangkul Rimar dan Roy yang kebetulan posisi mereka berada di tengah.


"Kenapa dijual? bukankah anda sangatlah berat untuk melepas kedai ini?" Roy yang sudah tidak mampu menahan kalimat yang berada di ujung lidahnya akhirnya ia keluarkan.


"Hey terkadang pemikiran manusia bisa berubah kau tahu, apalagi hidup harus terus berjalan." oh Roy paham sekarang mengapa Zeth menjual kedai, mungkin karena kebutuhan keluarga atau apa pun itu tapi yang pasti itu adalah permasalahan internal Zeth.


"Oh ya jam berapa sekarang?"


"Jam dua lebih lima belas menit." jawaban dari Arya membuat Zeth mengerutkan kening, diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja. Berkutat dengan ponselnya hingga sebuah hembusan napas terdengar.


"Dia tidak bisa datang sore ini, jadi akan datang besok."


"Siapa?" kali ini Rimar yang bertanya, sambil saling menatap satu sama lain dengan temannya. "Bos baruuuu!!" seru Zeth yang kembali pada kursi kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2