Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 6


__ADS_3

Hari-hari berlalu seperti hari biasanya pola kehidupan yang sangat membosankan, bangun pagi bersiap lalu bekerja setelah itu tidur kembali dan begitulah seterusnya.


Waktu yang di berikan oleh Madam Valen pun semakin dekat memang mustahil bagi Rimar untuk dapat melunasi hutang mama tirinya itu.


Segala upaya yang ia lakukan hanya sia-sia saja mulai dari kerja tambahan lalu mencoba meminjam uang pada teman-temannya, namun tidak ada dari mereka yang memiliki uang dengan jumlah yang segitu banyaknya. Bekerja sekeras apapun juga tidak akan terburu karena tengat waktu yang diberikan sangatlah singkat.


haruskah aku jual ginjal? pikir Rimar dalam lamunannya.


Saat ini resto sedang sepi karena jam makan siang telah berlalu sehingga ia menggunakan kesempatan itu untuk membersihkan meja tempat pengunjung makan tadi.


"kalau kerja jangan melamun dasar lelet." teriak seorang wanita yang melewatinya dengan melemparkan kain lap pada meja yang Rimar bersihkan.


Rimar hanya diam dan menatap wanita itu yang melewatinya menuju dapur.


"dasar mbak Kunti bisanya cuma marah-marah saja" sungut Rimar dengan lirih.


Dari sekian banyak pelayan yang bekerja di sana memang Rimar terhitung sebagai junior karena ia belum lama di terima kerja, namun apakah perilaku senioritas di benarkan?


Tentu saja tidak bagi Rimar kita setara sesama pelayan yang di gaji mengapa harus takut selama tidak melakukan kesalahan fatal malah seharusnya kita saling menghormati.


"Ri kenapa sih? fokus nanti di tegur terus sama nenek lampir itu." Kint yang melihat Rimar di tegur pun sebenarnya tidak tega namun bila itu kesalahan Rimar ia tidak bisa membela temannya itu.

__ADS_1


Anggukan yang Rimar berikan kepada Kint menjadi jawaban atas perkataannya.


Kint dan Rimar pun akhirnya fokus pada pekerjaan masing-masing agar cepat selesai sampai pada akhirnya terdengar suara pintu dibuka.


"permisi nona bisakah saya memesan meja?" tanya seorang pria yang memakai pakaian serba hitam dan memakai earpiece di telinganya dialah orang yang tadi membuka pintu.


Kini semua perhatian tertuju pada pria tersebut, garis wajah yang terlihat tegas dengan senyuman yang memberikan kesan menggoda namun sopan membuat setiap wanita memujanya.


Dan terbukti saat ini Kint melihat pada pria di hadapannya itu dengan tersenyum malu-malu. apakah dia jodohku? batin Kint sambil membayangkan masa depannya dengan pria itu.


"halloo bisakah saya memesan meja sekarang juga?" karena tidak mendapatkan respon dari Kint pria itu melambaikan tangan di depan muka Kint namun Kint hanya tersenyum-senyum saja.


Rimar yang menyadari tingkah Kint segera mendekati pria itu.


"ah iya saya ingin memesan meja untuk nanti malam nona." dengan tersenyum canggung ia berusaha menghindari tatapan dari Kint.


"baiklah tuan." jawab Rimar.


"karena saya sedang terburu-buru jadi maaf tolong hias meja yang saya pesan tadi dengan sempurna ini acara makan malam tuan saya dan kekasihnya." dengan terburu dirinya mengambil kartu dari dompetnya.


"ini untuk pembayarannya tolong berikan menu terbaik di restoran ini."

__ADS_1


"baik tunggu sebentar tuan." dengan segera Rimar menerima kartu tersebut dan ternyata terdapat pin di balik kartu tersebut.


"tunggu nona apakah nona ini baik-baik saja?" Rimar yang mengerti arah pembicaraan pria itu menjadi mengurungkan langkahnya.


"haha dia baik baik saja tuan." dengan senyum canggung Rimar menakupkan kain yang dipegangnya pada wajah Kint dan menarik tubuh Kint agar mengikuti dirinya ke dalam.


Pria yang melihat adegan dihadapannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Rimar yang telah menyelesaikan transaksi pembayaran segera kembali untuk mengembalikan kartu yang di berikan pria itu.


Sempat ia menoleh pada pelayan lain mereka terlihat sedang mengagumi ketampanan pria itu dari balik tembok bahkan wanita yang tadi menegurnya juga menjadi salah satunya, Rimar yang melihat mereka seperti itu hanya mengerutkan kening. Aneh.... batin Rimar segera berlalu menghampiri pria itu.


"ini tuan terimakasih telah berkunjung." ucap Rimar dengan ramah.


"saya juga berterimakasih nona." jawab pria itu dengan menunduk sebagai hormat.


"saya harus segera pergi permisi."


Rimar yang melihat pria itu telah keluar dari resto terkejut dengan keberadaan pelayan lain yang sudah berada di belakangnya.


Mungkin mereka ingin melihat pria itu sampai akhirnya mereka berteriak Wow... secara bersamaan saat melihat pria itu mengenakan kacamata sebelum memasuki mobilnya.

__ADS_1


Rimar yang terkejut mendengar teriakan para pelayan wanita itu hanya memutar bola matanya dan segera meninggalkan kerumunan itu.


__ADS_2