Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 12


__ADS_3

Hari yang cerah telah berlalu dan siang berganti malam. Begitu juga yang di rasakan Rimar semakin lama dia berada di ruangan itu semakin membuat perasannya tidak menentu.


Sejak tadi Rimar berusaha mencari cara untuk keluar dari sana tapi tidak ada celah satupun yang bisa dia temukan.


Bisa dibilang ada tapi bila di pikir-pikir akan sangat beresiko untuk benar-benar melaksanakan idenya itu.


Menimbang akan rencana yang terbesit di kepalanya Rimar tampak berjalan kesana-kemari di dekat jendela.


Jendela itulah satu-satunya jalan yang terlintas di benak Rimar, namun masalahnya sekarang dirinya tengah berada di lantai dua.


Lantai dimana tempat bagi para pelayan beristirahat dan merias diri sedangkan lantai satu di pergunakan sebagai ruangan pesta dan tempat transaksi, memang bangunan tersebut hanya terdiri dari dua lantai namun tiap lantainya memiliki ukuran yang sangat luas layaknya sebuah hall.


Bahkan di lantai dua terdapat banyak ruangan yang sama dengan yang saat ini Rimar tempati mungkin jumlahnya lebih dari dua puluh ruangan.


Dengan berharap mendapatkan sesuatu yang dapat dia gunakan untuk memecahkan kaca di jendela itu.


Rimar membuka laci satu persatu berharap menemukan benda dapat berguna namun nihil laci tersebut hanya dipenuhi dengan alat make up saja kemudian Rimar beralih pada lemari di seberangnya tapi bukan mendapat yang dia cari malah dirinya terkejut dengan isi di dalamnya.


"sesuai dengan tempatnya."


"sebenarnya apa yang aku harapkan" Rimar menghela nafas dan segera menutup lemari itu kembali.


Rimar merasa bulu kuduknya berdiri melihat baju yang tergantung di sana seperti baju kekurangan bahan yang menurut Rimar terlalu minim dan sangat menerawang.

__ADS_1


"haah terpaksa aku harus menggunakanmu" ucap Rimar dengan memegang kursi, sebenarnya Rimar lebih memilih mencari barang lain daripada menggunakan kursi agar tidak menimbulkan suara pecahan yang keras namun apa boleh buat itulah satu-satunya alat yang dapat di gunakan.


Rimar menggunakan seprei dan selimut yang berada di ruangan itu untuk dirinya turun.


Dengan mengikatkan ujung kain di bawah meja Rimar bersiap melakukan rencananya dengan memastikan keadaan sampai dirasa aman.


Di samping bangunan itu sebenarnya hanya ada semak-semak dengan penerangan yang minim dan terdapat tembok pagar sebagai pembatas dengan gedung E'terna namun setiap satu jam akan ada penjaga yang berpatroli ke sana.


Rimar yakin akan ada penjaga yang lewat di bawah sana dan benar saja ketika Rimar melihat ke bawah terdapat dua penjaga yang melintas.


Ketika kedua penjaga itu berhenti dan melihat ke arah Rimar dengan cepat dia menjauh dari jendela.


"Ya Tuhan jantungku" ucap Rimar sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.


Rimar yang mendengar suara langkah kaki yang menjauh Rimar kembali mengintip dari jendela, dia memutuskan untuk menunggu beberapa saat setelah di rasa keadaan sudah aman dirinya akan menjalankan rencananya.


***


Di tempat lain Tuan Claire yang mendapat laporan dari anak buahnya bahwa cucunya tidak bisa diam dengan terpaksa dirinya datang ke apartemen Lucas bila di biarkan Tuan Claire takut kelakuan cucunya itu akan mengganggu tetangga disana.


Dan disinilah dia berada, duduk di hadapan Lucas yang sejak tadi merengek meminta untuk bertemu dengannya dan jangan lupakan dia masih dalam keadaan terikat.


"ck kau itu benar-benar menyusahkan" ucap Tuan Claire yang duduk dengan menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"kakek lihat ini? aku di ikat seperti ini dan kakek diam saja?" dengan wajah tidak percaya Lucas menatap kakeknya yang terlihat acuh dengan kondisinya saat ini.


"memang kenapa? aku sudah memberikan ijin pada mereka dan menurut kakek tidak masalah" Lucas yang mendengar perkataan Tuan Claire semakin terkejut, awalnya dirinya akan meminta bantuan kakeknya mengingat dirinya adalah cucu kesayangan bahkan cucu satu-satunya.


Tapi saat ini yang terlihat malah sebaliknya Tuan Claire sepeti mewajarkan tindakan anak buahnya dengan mengikat cucunya.


"kemana wanita itu? apakah dia kabur?" tanya Tuan Claire untuk mengalihkan topik dan menghindari tatapan Lucas.


"ck bukankah tiga pengikut setia itu sudah memberitahu kakek jadi tidak usah dibahas lagi." ucap Lucas dengan melirik ketiga anak buah Tuan Claire yang berada di depan pintu.


Tuan Claire yang memang sudah mengetahui hal tersebut hanya menampilkan senyuman mengejek yang membuat Lucas memutar matanya malas.


"kau tahu Luc itu tandanya memang sudah seharusnya kau menerima wanita yang kakek pilihkan."


"ingat janji kita beberapa waktu lalu? hanya tinggal menghitung hari dan kamu harus menerima perjodohan ini."


"aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai aku tidak mau."


"cinta akan tumbuh setelah kalian saling mengenal satu sama lain setelah menikah nanti." Lucas mendengar kata-kata kakeknya semakin menekuk wajahnya.


"aku tetap tidak mau!!" tatapan permusuhan terlihat ditujukan kepada Tuan Claire dan akhirnya mereka saling memberikan tatapan permusuhan satu sama lain.


Lihat saja siapa yang akan menang batin Tuan Claire dengan sedikit senyum seperti meremehkan Lucas.

__ADS_1


__ADS_2