
Pyarrr.....
Suara kaca yang pecah terdengar sangat keras dari ruangan yang ditempati oleh Rimar yang sedang memulai rencananya. Kain yang telah Rimar siapkan tadi dia turunkan melalui jendela setelah membersihkan sisa kaca yang masih tertancap di sela jendela terlebih dahulu.
Dengan perasaan yang tidak menentu Rimar turun melewati jendela itu sambil berharap tidak ada orang yang menyadari suara yang dia timbulkan tadi.
Karena kain yang dia gunakan tidak terlalu panjang mau tidak mau Rimar harus melompat mendarat dengan kaki telanjang.
Kondisi saat itu terlihat aman-aman saja pikir Rimar sampai saat mendarat Rimar di kejutkan oleh suara pengawal dari lantai dua tempat dimana dirinya tadi berada.
gawat aku harus segera pergi batin Rimar saat melihat pengawal yang meneriaki dirinya akan turun mengejarnya.
"Arghh.. si*l " belum ada beberapa langkah Rimar hendak berlari tapi dirinya menginjak serpihan kaca dari jendela yang dia pecahkan tadi.
"hey mau lari kemana kau?" Rimar yang sedang memperhatikan kondisi kakinya seketika menoleh pada arah suara.
__ADS_1
"ck kenapa mereka sangat cepat" gumam Rimar yang menyeret paksa kaki yang terkena kaca tadi untuk menjauh dari sana.
"hey jangan lari!!" semakin penjaga itu mengejar semakin keras pula Rimar berusaha menyeret kakinya sambil menahan rasa perih dan sakit dari kaki yang sedang terluka itu.
Rimar yang berniat melewati jalan yang cukup sepi dengan memilih memutar agar tidak bertemu dengan penjaga lainnya tidak pernah menyangka kalau dirinya telah di tunggu oleh Madam Valen dan para penjaga yang kemarin datang ke rumahnya di jalan yang dia pilih itu seperti Madam Valen sudah memperkirakan bahwa dirinya akan melewati jalan itu.
Rimar yang melihat Madam Valen segera menghentikan langkahnya, sekarang dia sudah terkepung.
Di depannya ada Madam Valen dan di belakang ada para penjaga sedangkan di kiri dan kanannya adalah pagar tembok yang tinggi.
Rimar yang takut melihat perubahan ekspresi Madam Valen mundur beberapa langkah. Apalagi dia merasa wajah dari penjaga itu semakin seram dari terakhir kali Rimar bertemu di rumahnya.
Dengan cepat Madam Valen mendekati Rimar dan menampar pipi kirinya. Rimar yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Madam Valen hanya mematung sambil memegangi pipinya yang ditampar.
"saya sudah pernah bicara baik-baik tapi sepertinya kamu memang perlu di beri pelajaran" geram Madam Valen dengan tangan yang sudah menjambak rambut Rimar. Sedangkan Rimar yang merasa kesakitan hanya bisa mengaduh apalagi kakinya saat ini sedang terluka.
__ADS_1
"tolong lepaskan saya" Rimar mengiba berharap Madam Valen memiliki sisi lembut sehingga mau melepaskan dirinya. Entah apa maksud Rimar tentang dia yang harus melakukan pekerjaan yang menjijikkan itu atau tentang kepalanya yang sekarang terasa berkunang.
"hey dengar!! harusnya kamu bersyukur kamu sudah tidak perlu capek-capek bekerja hanya untuk melunasi hutang mama tiri kamu itu" Madam Valen melepaskan cengkraman pada rambut Rimar dengan kasar sampai Rimar terhuyung ke belakang.
"cepat kalian bawa dia kembali dan kurung dia!! persiapkan dia untuk melayani pria tua itu!" para penjaga yang mendapatkan perintah segera memegangi tangan Rimar agar tidak melarikan diri.
"lepaskan aku!! aku tidak mau jadi pe*acur aku tidak mau" Rimar yang merasa dirinya dalam bahaya berusaha memberontak untuk melepaskan diri.
Secara tiba-tiba ada suara motor dari arah belakang yang membuat mereka terkejut apalagi suara klakson motor berbunyi dengan kencang.
Membuat para penjaga itu lengah sehingga Rimar menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Apalagi Madam Valen telah pergi terlebih dahulu sedangkan dirinya hanya bersama para penjaga itu sehingga saat penjaga itu sedang bersitegang dengan orang yang mengendarai motor Rimar menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Sekarang baik Rimar maupun para penjaga sedang terlibat kejar-kejaran di sepanjang jalan gang itu. Satu yang di tuju oleh Rimar adalah jalan raya di ujung gang dan segera meminta bantuan.
__ADS_1
Setelah sampai di jalan raya Rimar tetap berlari tanpa memperdulikan kakinya hingga saat dia melihat mobil dengan pintu bagasi yang terbuka segera Rimar bersembunyi di dalamnya.
Namun situasi semakin rumit untuk Rimar memang dirinya telah lepas dari kejaran para penjaga itu tapi sekarang masalah lain muncul karena tanpa di duga mobil yang ditumpanginya melaju tanpa dirinya tahu akan membawa dirinya kemana.