
Kali ini Rimar sudah memutuskan hanya untuk terakhir kalinya dirinya menanggung semua hutang mama tirinya.
huft.. untuk kali ini Tuhan tolong berikan kekuatan lebih untukku
Dengan rasa pening di kepalanya Rimar berangkat bekerja, beberapa potong roti terlihat tersaji di atas meja.
Hanya itu yang tersisa di kulkasnya tidak ada bahan masakan untuk hari ini, kalender memang baru menunjukan pertengahan bulan namun inilah nyatanya uang sudah menipis untuk kebutuhan sehari-hari saja kurang kini tambah lagi dengan hutang.
Seperti di bebani batu besar yang Rimar rasakan, apakah yang akan terjadi bila dirinya tidak bisa membayar? entahlah yang ia tahu Madam Valen tidak akan mentolerir lagi, dari rumor yang ia dengar memang banyak orang yang berhutang pada dirinya yang berakhir rumahnya disita ataupun bekerja kepada dirinya tanpa upah sampai hutang itu terbayar lunas.
Membayar hutang dengan nominal yang terbilang tidak kecil dalam waktu sebulan memang terdengar mustahil, namun Rimar ingin berusaha keras dan berharap akan ada orang yang mau meminjamkan sejumlah uang kepadanya.
"roti lagi? kemarin sudah makan roti sekarang pun juga sama, hey Rimar jangan terlalu pelit kamu mana uang untuk membeli sarapan?"
Rimar yang sedang merapikan bajunya segera mendekat setelah Sunja berteriak.
"mama kenapa sih?" sekuat tenaga Rimar menahan emosinya.
"mama minta uang untuk membeli sarapan."
"tidak ada uang, kita harus berhemat ma! mama lupa kalau kita harus membayar hutang kepada Madam Valen?"
"itu urusan kamu bukan mama, asal kamu tahu uang yang mama pinjam itu untuk berobat papamu juga buat kita makan sehari-hari jadi secara tidak langsung kamu juga ikut menggunakannya."
"mama menikah dengan papamu untuk hidup enak bukan untuk hidup susah seperti ini." ujar Sunja dengan gamblang, memang selang beberapa waktu suaminya sakit perekonomian keluarga menjadi terombang-ambing sebab seluruh tabungan telah digunakan untuk pengobatan suaminya.
Rimar yang mendengar penjelasan Sunja hanya terdiam bukan sebuah kebohongan yang di katakan oleh mama tirinya itu tapi untuk membenarkan perbuatan Sunja juga tidak bisa.
__ADS_1
"hanya hari ini ma, kalau mama ingin makan yang lebih enak lagi mama harus bekerja sendiri aku tidak bisa menuruti semua keinginan mama." diletakkannya dua lembar uang di atas meja sebelum dirinya pergi.
Dengan cepat Sunja mengambil uang tersebut. "hanya segini? huh dia memang pelit dia pikir aku tidak tahu berapa gajinya sekarang."
"dan apa tadi? bekerja sungguh menggelikan akan sia-sia perawatan ku selama ini bila harus berkerja, lebih baik aku fokus mempercantik diri agar ada seorang pria kaya yang mau menikahi aku."
Dengan prinsipnya yang ingin hidup mewah secara instan itulah salah satu caranya yang ia gunakan, dan ia telah membuktikan kenaikan derajat yang ia peroleh setelah menikah dengan mendiang suaminya membuatnya menjadi lupa daratan.
***
Hari ini merupakan hari yang paling menyebalkan menurut Rimar. Bermula dari pagi dirinya harus menghadapi mama tirinya yang sangat menyebalkan berakhir dengan di caci pelanggan karena tidak sengaja menumpahkan minuman pada pakaiannya.
Bukan sepenuhnya kesalahan ada pada Rimar karena saat ia hendak berbalik badan seseorang dari lawan arah menyela begitu saja, mungkin karena orang itu terlalu fokus pada gawainya sehingga hal itu terjadi.
Namun bukan berarti perilaku tersebut dapat dibenarkan, beruntung hanya pakaian yang terkena minuman bukan hal yg lebih fatal lagi dan tidak dapat di pungkiri bermain hp di tempat umum diperbolehkan namun harus memperhatikan kondisi sekitar.
Rimar yang di salahkan hanya bisa meminta maaf saja walaupun di dalam hatinya sedang memaki kembali.
Pada posisi ini Rimar tidak bisa membalas perkataan orang tersebut karena ia masih dalam lingkungan kerja.
"hey siapa di dalam? kenapa di kunci?" suara teriakan dan ketukan membuat Rimar tersadar dirinya telah mengunci pintu toilet sebelumnya.
"cepat buka!! saya lagi kebelet."
Belum sempat ia membuka knop pintu tersebut telah di dorong setelah ia membuka kunci dari dalam.
"ya ampun Ri, awas minggir!!" Rimar hanya bisa menuruti apa yang di perintahkan temannya itu, sudah tidak bisa ditunda lagi pikir Rimar.
__ADS_1
Tidak lama suara air terdengar dan orang yang di tunggu Rimar muncul dari pintu bilik toilet.
"kamu masih disini Ri? memang teman terbaikku sampai buang air saja masih di tunggu." ujar orang tersebut bernama Kint yang juga salah satu pelayan di tempat Rimar bekerja.
"faktanya terlalu PD juga tidak bagus, jadi harus di kurangi lagi yah." ledek Rimar pada Kint yang sedang mencuci tangan disebelahnya.
"terus kenapa masih disini? yang lain lagi istirahat kamu malah nongkrong di toilet atau mau reuni sama para tin*a?"
Kint yang mendapatkan tatapan tajam hanya nyengir saja lengkap dengan wajah tanpa dosa.
" ya ampun Ri jangan-jangan kamu kepikiran perkataan orang tadi?"
"sudahlah bukan baru kemarin kamu berkerja disini yang lebih dari ini kan sudah pernah jadi lupakan saja." sambil menepuk bahu Rimar.
"tapi Ki.. "
"apalagi? sudah dibilang lupakan saja Rimar!"
"iya tahu lupa sih lupa tapi kamu habis cebok kan tadi?" Kint pun menatap tangannya yang masih berada di bahu Rimar.
"kan sudah cuci tangan." jawab Kint sambil tertawa.
"tapi masih bau, nih coba cium!!" mengalihkan tangan Kint dari bahunya.
"ih jorok jauh-jauh sana." dengan cepat Rimar berlari keluar meninggalkan Kint yang sedang mencuci tangannya kembali.
"woy tungguin dong!!"
__ADS_1
"bodo amat!!" jawab Rimar yang hanya terdengar suaranya saja.
Hidup itu seperti roda kadang ketika kita bersedih atau sedang banyak masalah tuhan kirimkan orang-orang terdekat kita sebagai pelipur, mungkin saat ini banyak masalah yang mendatangi Rimar namun ia juga bersyukur memiliki teman yang mampu membuatnya merasa lebih baik kembali.