Menikah Paksa

Menikah Paksa
Bab 11


__ADS_3

Disisi lain yang tepatnya di sebuah ruangan Rimar terduduk dengan penampilan yang masih berantakan.


Cahaya yang menyusup masuk melewati celah kain penutup jendela membuat Rimar semakin jelas melihat keadaan di sekitarnya.


Semalam ketika dia tiba disana ruangan itu terlihat temaram sehingga membuat penglihatannya terbatas.


Apalagi orang-orang yang membawa dirinya menutupkan sebuah kain di kepalanya namun walau dia tidak bisa memastikan dirinya dibawa kemana tetapi ia mendengar samar-samar Rimar yakin dirinya mendengar suara dentuman musik yang berasal dari ruangan lain.


Didalam ruangan itu terdapat sebuah ranjang dan nakas di sampingnya lalu disebelah kiri terlihat sebuah cermin rias bukan hanya satu karena cermin itu terlihat berjajar lebih dari tiga set lengkap dengan alat make up yang terdapat di laci yang terlihat sedikit terbuka.


Dan disudut kanan ada lemari pakaian yang cukup besar.


Karena rasa penasarannya Rimar mencoba melihat keadaan diluar dia pikir mungkin dengan begitu dirinya dapat mengenali daerah tempat dirinya berada sekarang.


"bukankah itu E'terna?" dengan memicingkan mata Rimar berusaha memperjelas penglihatannya yang tertuju pada sebuah bangunan di seberang sana.


"tunggu kalau di sana ada E'terna berarti tempat ini." setelah menyadari sesuatu Rimar merasa terkejut dan kini dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Bukan pertanda jatuh cinta tapi rasa gelisah yang mendominasi yang ditambah dengan pikiran negatif yang melintas di kepalanya.


Pasalnya sejauh yang Rimar tahu E'terna merupakan sebuah bangunan yang biasa digunakan untuk para pria yang mencari kesenangan bisa dibilang tempat itu adalah tempat eksekusi.


Dan tepat di sebrang bangunan tersebut yakni tempat dimana Rimar tengah berada merupakan tempat transaksi bisa dibilang bahwa kedua bangunan tersebut berada di bawah kuasa orang yang sana.


Bagi mereka yang datang dapat memilih secara bebas siapakah wanita yang akan mereka jadikan partner semalaman.


"bagaimana ini?" Rimar yang tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan masuk ke tempat seperti itu sangat kebingungan bagaimana cara dia keluar dari tempat itu.


Berharap dapat menemukan jalan keluar Rimar mendekati jendela karena tidak mungkin dirinya kabur lewat pintu utama sudah dapat dipastikan para bodyguard akan berjaga di depan pintu.


Namun apa yang diharapkan Rimar pupus ketika melihat jendela yang sangat amat rapat sepertinya jendela tersebut telah di kunci secara permanen.


Karena terlalu fokus dengan jendela yang ia coba buka Rimar tidak menyadari bahwa knop pintu dibuka dari luar oleh seseorang.


"hey apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


Rimar yang terkejut mendengar sentakan dari orang itu segera membalikan tubuhnya.


"Madam Valen" gumam Rimar ketuka melihat orang yang datang menghampirinya.


Madam Valen yang masuk dengan membawa nampan segera menutup pintu kembali dan meletakkan nampan berisi sarapan itu di nakas.


"urungkan saja niatmu untuk kabur dari tempat ini karena sejauh apapun kamu pergi aku akan menemukanmu" dengan tatapan mata yang tajam Madam Valen memperingatkan Rimar untuk tidak kabur, dia bukan orang bodoh yang bahkan tidak tahu apa yang Rimar coba lakukan tadi.


Sementara Rimar yang di tegur hanya menundukkan kepalanya dia tidak dapat berfikir jernih saat ini karena rasa gelisah telah membayangi dirinya.


"ti tidak Madam, maaf"


"saatnya bagimu melunasi hutang mamamu jadi jangan coba-coba untuk kabur seharusnya kau bersyukur karena kalian tidak jadi gembel"


"tunggu saatnya tiba kau akan mulai berkerja!" ucapan terakhir Madam Valen membuat Rimar tambah cemas apalagi melihat senyum penuh misteri yang dia lontarkan menambah perasaan Rimar semakin kacau.


"tidak bisa seperti ini aku tidak boleh menyerah aku tidak mau menjadi wanita pengh*bur di tempat ini." dengan gelisah Rimar mencoba memikirkan cara lain agar dirinya dapat keluar dan terbebas dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2