
Dan benar saja apa yang diharapkan oleh Rimar terjadi, saat ia sampai di rumah mama tirinya itu telah tidur.
Mempersilahkan kakek itu menempati kamar tamu yang sebelumnya selalu ia bersihkan setiap seminggu sekali.
"kakek tidur disini, kakek istirahat yah." membuka pintu kamar yang akan di tempati kakek tersebut.
Entah apa yang berada di pikiran kakek itu yang terlihat hanya dirinya yang memasuki kamar dengan mengamati keadaan sekitar.
"maaf kek Rimar hanya bisa menyediakan kamar ini untuk kakek." ucap Rimar.
"tidak ini sudah lebih dari cukup terimakasih nak." senyum terukir di wajah kakek itu.
"kalau begitu Rimar kembali ke kamar dulu."
"ya terimakasih."
Suara alas kaki yang bergesekan dengan lantai kian memudar menandakan bahwa Rimar telah pergi menjauhi kamar tersebut.
Dengan cekatan di ambilnya ponsel yang sejak tadi bergetar, saat membuka lock screen terlihat beberapa pesan masuk dan dua puluh lima panggilan tidak terjawab namun tidak dihiraukannya justru kakek itu memilih untuk mematikan ponsel miliknya.
__ADS_1
"mengganggu saja." maki kakek lirih, entah siapa yang ia maki mungkin orang-orang yang telah menghubungi dirinya.
Udara malam yang semakin dingin Sudah tidak dipedulikan oleh Rimar yang kini telah terlelap dalam tidurnya.
Mungkin baginya hari ini adalah hari yang paling melelahkan dari hari-hari sebelumnya. Rimar yang terbiasa pulang menjelang malam kini harus menambah jam kerja demi menambah pendapatan.
Sangat tidak mudah bagi seseorang merubah jadwal aktivitas dalam keseharian nya, dan itu nyata adanya seseorang akan membutuhkan effort yang tinggi untuk mulai berbaur kembali di tempat yang baru.
Dan apabila hal itu terjadi ia akan sangat menjaga konsistensi mood agar cepat beradaptasi, apalagi bagi mereka yang cenderung "intro" setelah seharian berinteraksi dengan banyak orang ia butuh waktu untuk merecharge energi kembali.
Rimar memang termasuk dalam kategori orang-orang yang cepat dalam beradaptasi sehingga sangat cepat baginya untuk mendapatkan teman namun Rimar juga pandai dalam memilih teman, ia akan dengan sadar membedakan mana teman yang tulus atau tidak.
Rimar yang masih bergelung di bawah selimut terbangun saat mendengar suara teriakan di luar kamarnya.
"siapa anda? mengapa anda bisa ada disini?" teriak Sunja kepada seseorang yang tengah duduk di meja makan. Tak lupa dirinya mengambil sapu, lalu mengacungkan pada orang tersebut.
Namun orang itu hanya terdiam tanpa ingin menjawab pertanyaan Sunja tadi.
"mama kenapa teriak-teriak? ini masih pagi dan mama teriak seperti itu?" tanya Sunja yang tergesa menghampiri mama tirinya dengan rambut yang masih berantakan dan mata yang masih berat.
__ADS_1
"kamu buta hah? lihat itu siapa? tiba-tiba berada di dalam rumah orang sangat mencurigakan"
"atau jangan-jangan dia perampok." tuduh Sunja.
"dia kakek yang bertemu dengan Rimar tadi malam ma." Rimar mencoba menjelaskan pada Sunja.
"jadi kamu yang membawa dia kesini?" raut wajah Sunja kini berubah lebih bengis lagi setelah mendengar penjelasan dari Rimar.
"sini kamu mama mau bicara." menyeret tangan Rimar menjauhi kakek itu namun masih dalam satu ruangan karena rumah yang di tempati Rimar sangat sederhana. Rumah tersebut adalah peninggalan keluarga mendiang papanya bahkan sampai papanya meninggal pun tak sekalipun dirinya memiliki keinginan untuk pindah walaupun usaha sang papa telah berkembang karena menurut papanya rumah itu telah menyimpang segala kenangan.
"kenapa kamu membawa orang yang tidak kamu kenal ke rumah ini?" bisik Sunja.
"kasihan ma kakek itu terluka, dan juga hari sudah malam jadi Rimar mengajaknya menginap hanya untuk hari ini kok ma."
"tetap saja kamu tidak bisa memasukan sembarangan orang ke rumah kalau dia ada niat jahat memang siapa yang akan bertanggungjawab? tolong lah berpikir Rimar gunakan otakmu itu untuk berfikir!!."
"pokoknya mama tidak mau tahu sekarang juga kamu bawa orang itu keluar dari rumah ini."
"apa dia pikir rumah ini penampungan?" gumam Sunja yang tengah melenggang pergi meninggalkan Rimar sendiri.
__ADS_1
Namun belum sempat Rimar melangkahkan kakinya ke meja makan terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras, seperti seseorang yang akan menagih hutang pikir Rimar sebelum ia memutuskan mengecek siapakah di pagi hari ini uang telah bertamu ke rumahnya.