
"Sebenarnya sampai kapan sih lu enggak mau ngomong semuanya sama dia?" tanya Julian menatap tajam Violet.
Violet tersenyum kecil sambil mengaduk minuman di gelasnya, "Kalau bisa sampai semuanya berakhir, nanti kalau sekiranya gue udah enggak kuat gue bakalan pergi dari sini," jelasnya.
"Kemana?"
"Ke tempat dimana gue ngerasa udah nyaman buat pergi."
"Lu pasti sembuh, yakin aja Tuhan tuh bisa ngabulin apapun."
Violet menatap ke arah Julian lalu tersenyum miring, "Sudahlah jangan malah membuat semua harapan gue hancur nantinya, biarin semuanya kayak gini. Gue udah ikhlas sama semuanya."
Julian menepuk pundaknya, "Menurut gue sebaiknya lu ngomong sama Arkan baik-baik, akan lebih menyakitkan kalau kita tau kebohongan dari mulut orang lain, gue cuman enggak mau nantinya lu nyesel."
"Lu mending pulang deh, enggak asik ah," Violet menarik Julian agar segera pulang.
"Oke fine gue pulang, Hati-hati lu di rumah sendirian nanti ada yang culik lu lagi. Gue lagi yang repot," Julian pamit pulang.
"Bay lu juga hati-hati di jalan, jangan liatin cewek cantik aja kalau di mobil sama jalan juga harus fokus."
"Dih kata siapa gue liatin orang kalau lagi di mobil, gue mah fokus kali sama jalan."
Violet mendorong Julian sampai pintu keluar, "Enggak denger barusan kata siapa? Kata gue lah udah sana pulang."
"Niat banget ngusir nya," Julian sebelum pergi sempat mengacak-acak puncak rambut Violet sampai berantakan.
"Ah berantakan," teriak Violet cemberut.
Saat Violet akan masuk tiba-tiba Arkan datang, Violet terdiam kembali melihat Arkan keluar dari mobilnya, "Mesra banget sama sahabatnya," sindir Arkan langsung masuk ke rumah.
"Biarin," Violet masuk mengikuti Arkan.
Di dalam Arkan langsung menghubungi Mawar agar segera ke rumahnya, tidak lama kemudian Mawar pun datang ia langsung menghampiri Arkan dan mengecup pipi Arkan, sengaja membuat Violet cemburu. Karena kebetulan Violet juga ada di sana sedang menyapu.
Violet menatap kebersamaan mereka. Arkan mengajak Mawar ke dapur untuk makan dan minum, kebetulan ini jam makan siang dan Arkan belum makan di kantor. Ia pulang cepat sejujurnya karena khawatir pada Violet, namun karena tidak mau memperlihatkan kekhawatirannya ia menjadikan Mawar sebagai alasan ia pulang.
Violet duduk di sofa sambil memeluk sapu, "Tadi aja ngambek liat gue sama Julian, sekarang gue kan mana bisa marah," gumamnya menatap kebersamaan Arkan dan Mawar dari kejauhan.
Violet menidurkan tubuhnya di sofa menatap langit-langit, Tiba-tiba ponselnya berbunyi ia langsung mengeluarkan ponselnya lalu melihat siapa yang menelponnya, "Halo ada apa?" tanyanya setelah mengangkat sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Minggu depan ada acara reunian sekolah lu datang yah sama suami lu, jangan lupa pokoknya harus datang," ucap seseorang di sebrang telpon.
"Okey, kebetulan banget emang lagi kosong minggu depan jadi bisa kayaknya."
"Awas jangan lupa bilangin si Arkan, dia kebiasaan kagak pernah datang alesan mulu tuh orang."
"Iya nanti gue sampein."
"Ya udah bay gue mau hubungin yang lain lagi," sambungan telpon itu langsung di matikan.
Violet bangun dan menghampiri Arkan dan Mawar, Mawar menatap sinis kedatangan Violet. Violet duduk di kursi sebelah Arkan, "Gue cuman mau bilang minggu depan ada reuni sekolah."
"Iya gue juga tau kok," balas Mawar sinis.
Violet memalingkan wajahnya sambil mengangguk beberapa kali, "Yah...... Bagus deh kalau udah tau."
Mawar memegang lengan Arkan, "Kamu mau dateng kan kali ini?" tanyanya dengan wajah memelas.
Arkan menatap Violet yang malah sama sekali enggan menatapnya kembali, Arkan kembali menatap Mawar, "Aku akan datang kalau Violet juga datang," ucapnya.
Mawar cemberut lalu melepaskan genggaman, "Kenapa sih?"
"Ya kan dia udah jadi istriku sekarang, enggak semua orang tua hubungan kita juga. Kalau sampai kita ke sana berdua akan ada berita muncul," jelas Arkan yang sejujurnya bukan itu saja alasannya ingin pergi.
"Terus aku pergi sama siapa kalau kamu mau pergi sama wanita itu?" tanya Mawar kesal menunjuk Violet.
"Kamu kan bisa datang sendiri," balas Arkan.
"Ya udahlah terserah kamu aja," Mawar pasrah.
Violet tersenyum kecil merasa menang dari Mawar, "Baiklah gue enggak mau ganggu kebahagiaan kalian jadi nikmati saja, gue pamit undur diri," Violet pergi ke arah taman belakang.
Arkan menatap kepergian Violet dan Mawar sadar akan itu, "Ngapain sih liatin dia mulu? Kamu suka lagi sama dia? Enggak inget apa yang udah di lakuin dia ke kamu?" tanya Mawar.
Arkan memalingkan pandangannya, "Apaan sih? Udah lupain aja, kamu pulang gih aku mau ke kantor lagi."
Sementara itu Violet duduk di kursi yang ada di sana, ia berusaha menghubungi Julian untuk membicarakan acara Reuni.
"Julian lu mau ikutan reuni?" tanyanya.
__ADS_1
"Kalau lu ikut gue ikut," balas Julian.
"Gue kayaknya ikut deh."
"Berarti gue juga bakalan ikut."
"Mau sama siapa lu ke sana nya?" tanya Julian.
"Sama Arkan lah, berabe urusannya kalau gue datang ke acara itu tanpa Arkan."
"Oh iya sih, soalnya kata Andin kita bakalan sewa villa nanti di bogor. Jadi reuni nya nginep gitu satu malam."
"Wah..... Seru tuh, gue jadi enggak sabar mau cepetan acaranya mulai."
"Sama, kebetulan juga katakan kelas kita mau ikut semuanya, ini bakalan jadi acara reuni paling meriah," Julian tidak kalah eksaited dari Violet.
"Andin ada bikin grup WA lu udah masuk grupnya belum?" tambah Julian.
"Udah cuman jarang gue baca."
"Pantesan aja lu harus di telpon, besok belanja makanan yuk. Kalau lu mau sih."
"Boleh, nanti gue kabarin lagi kalau jadi."
"Siap, udah dulu yah masih ada kerjaan soalnya nih," Julian mematikan telponnya sepihak.
Violet menatap layar ponselnya, "Padahal kan gue belum selesai ngomong," ucapnya melas.
Arkan tiba-tiba duduk di sebelah Violet, "Ngagetin aja lu," Violet kaget saat ada Arkan di sebelahnya.
"Andin nyuruh kita survei tempat besok, lu bisa?" tanya Arkan.
"Tempat buat nanti kita reuni?"
"Iyalah, kalau bukan itu buat apa lagi."
"Oke, eh kenapa enggak sama Mawar? Lu kan pasti enggak mau sama gue."
"Maunya sama elu, soalnya takut keliatan wartawan kalau gue jalan sama Mawar."
__ADS_1
"Oh...... Gitu? Kirain emang mau jalan sama gue aja, ya udah iya hayu besok kita ke puncak."
"Bagus," setelah bicara itu Arkan pergi dari sana.