Menikahi Mantan

Menikahi Mantan
Aku ingin menikmati Hidupku


__ADS_3

Besoknya di luar wartawan sudah mulai berdatangan ingin mewawancarai Violet, kedua orang tua Arkan datang menjenguk Violet karena mereka khawatir dengan berita yang beredar.


"Kamu tuh gimana sih? Masa jangan istri kamu sendiri aja enggak bisa," bentak ibunya Arkan membentak anaknya yang kini duduk di sampingnya.


"Arkan kemarin lagi kerja, Arkan enggak tau kalau misalkan bakalan ada kejadian kayak gini," balasnya membela diri.


"Ya makannya di jagain, kalau kenapa-napa gimana? Untung aja sekarang masih selamat," tambah ibunya Arkan.


"Orang tuamu tidak kemari?" tanya ayahnya Arkan sembari celingukan.


"Tidak, mereka lagi enggak di Indonesia," balas Violet sedikit sedih.


Tiba-tiba bel pintu utama berbunyi, ternyata ada teman-teman artis juga produser film yang Violet bintangi. Mereka di persilahkan masuk oleh ibunya Arkan.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Sherin teman dekatnya Violet di lokasi.


"Sekarang baik kok, aku bawain minum dulu yah," Violet bangkit dari duduknya, Namun tiba-tiba Arkan mendorong pundak Violet untuk kembali duduk.


"Biar aku aja yang ambil, kamu tunggu aja," ucapnya langsung pergi di ikuti oleh ibunya.


Ayahnya Arkan pergi ke ruangan lain untuk tidak mengganggu Violet dan teman-temannya.


"Violet syuting mu hanya tinggal satu hari lagi, setelah itu film kita selesai. Jadi jagalah kesehatanmu," ucap Pak Dedy produser filmnya.


"Siap pak, tenang saja besok aku sudah siap syuting lagi," Violet memberi hormat.


Sementara itu di dapur ibunya Arkan membantu Arkan menyiapkan makanan dan minuman di nampan, "Kenapa kau tidak pekerjaan pembantu di rumah ini?" tanya ibunya.


"Belum sempat," balas Arkan dingin.


"Ya sudah biar aku saja yang cari, kau tidak kasihan memangnya pada Violet yang harus membereskan rumah sebesar ini sendirian?"


"Kan aku juga baru pindah jadi belum sempat aja cari pembantu."


"Baiklah-baiklah."


Setelah selesai mereka kembali ke Violet dan menyiapkan makanan dan minuman di meja, "Maaf yah jadi ngerepotin," Violet merasa bersalah.


"Enggak papah," balas ibunya Arkan melengkungkan senyumannya.


Beberapa jam kemudian semua orang sudah pulang, para wartawan juga sudah tidak ada. Tadi Violet sempat keluar untuk menjawab pertanyaan para wartawan sebentar, kini di rumah itu hanya tersisa Violet dan Arkan.

__ADS_1


Arkan malah siap-siap entah mau pergi kemana.


"Mau kemana?" tanya Violet memperhatikan Arkan dari kejauhan.


"Bukan urusan mu," balas Arkan dingin langsung pergi dari sana menaiki mobilnya.


Namun tidak lama setelah Arkan pergi Julian datang untuk melihat kondisi Violet saat ini, "Hay," sapa Julian di depan pintu saat Violet membuka pintu tersebut.


"Hay, masuk yuk."


Mereka berdua masuk.


"Gue bawain makanan favorit lu nih, Mie ayam terenak di jakarta," Julian memperlihatkan makanan yang ia bawa ke Violet.


"Wah kebetulan gue lapar nih, kita ke meja makan aja yuk," Violet mengajak Julian ke meja makan.


Sesampainya di sana Violet langsung menyiapkan piring juga sendok, mereka makan mie ayam bersama, "Nih gue juga beli Mangga milk lu suka kan?" ucap Julian lagi.


"Iyalah pasti suka," Violet mengambil minuman itu lalu menusuknya dengan sedotan dan meminumnya.


Namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing membuat ia menjatuhkan minuman yang ia genggam, "Ah....." Violet memegang kepalanya.


"Violet kenapa?" Julian yang khawatir langsung pergi ke sebelah Violet.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


"Enggak mau."


"Jangan nolak, gue enggak mau lu kenapa-napa."


"Tapi gue enggak mau di rawat inap di sana, gue capek masuk rumah sakit terus."


"Iya nanti kita pulang setelah dokter cek."


Akhirnya setelah di paksa Violet pun mau di bawa ke rumah sakit, sementara itu di tempat lain Arkan malah sedang berduaan dengan Mawar di apartemen Arkan yang ia berikan pada Mawar beberapa bulan lalu.


Arkan tidur sambil memeluk Mawar, hanya saja entah mengapa saat ini ia selalu memikirkan Violet. Wanita itu tidak pernah hilang dalam otaknya, Mawar yang juga merasakan bahwa Arkan sangat aneh hari ini langsung menatap Arkan.


"Ada apa? Kau terlihat banyak pikiran hari ini?" tanyanya khawatir juga penasaran.


"Tidak, aku hanya memikirkan masalah perusahaan ku saja," balasnya.

__ADS_1


"Benarkah? Memangnya ada masalah apa lagi dengan perusahaan mu?"


"Yah seperti biasalah."


"Ya sudah lupakan lah sejenak, kita nikmati saja kebersamaan kita saat ini."


Kembali ke rumah sakit, sesudah di cek kepala Violet tidak terasa sakit sekarang. Dokter juga menyuntikkan obat penenang pada Violet, kini mereka berada di ruang dokter.


"Kau benar tidak mau di rawat inap?" tanya dokter Maria, dokter ini juga adalah dokter yang selalu merawat Violet dulu.


"Tidak dok," Violet menghela nafasnya dengan berat, "Di masa terakhirku aku ingin menikmati kehidupanku, aku tidak ingin berbaring di rumah sakit saja."


"Baiklah jika itu kemauan kamu, saya tidak bisa memaksa," balas dokter Maria.


"Apakah memang tidak bisa sembuh dok?" tanya Julian.


"Kami tidak bisa menyembuhkan penderita kanker stadium akhir sampai 100 persen sembuh, kami hanya dapat mengurangi perkembangan sel kanker agar pasien dapat hidup lebih lama," jelas dokternya.


Julian keluar dari ruangan itu dengan keadaan marah, ia marah mengapa Violet harus sakit seperti ini. Violet mengikuti Julian, "Ada apa?" tanya Violet menatapi Julian.


"Mengapa kau menolak dioperasi?" tanya Julian kesal.


"Aku tidak mau, aku tidak sanggup dengan hasil setelah operasi nya. Bagaimana jika nanti setelah aku di operasi kondisiku malah semakin memburuk? Aku masih ingin tinggal di sini," jelas Violet menangis.


"Kita cari saja dokter paling hebat di dunia. Aku akan membiayai semuanya tenang saja."


"Sudahlah, lupakan kita pulang saja," Violet menarik Julian untuk pulang, ia khawatir Arkan akan mencarinya karena tidak ada di rumah.


Julian tanpa sadar menjatuhkan air matanya, ia belum siap menerima kenyataan bahwa Violet akan meninggalkannya untuk selamanya, ia tidak sanggup jika harus hidup tanpa wanita itu di dunia ini.


Saat sampai rumah, Violet malah melihat pemandangan yang sangat menyakitkan. Ia melihat Arkan tengah berciuman dengan Mawar di ruang tamu, Arkan yang sadar akan kedatangan Violet langsung menjauh dari Mawar.


Julian tadi langsung pulang tidak mampir dulu karena tiba-tiba dari kantor ada yang menelponnya, Violet menundukkan kepalanya lalu berjalan ke arah kamar. Mawar tersenyum kemenangan, ia bahagia karena dapat membuat Violet cemburu.


Mawar tau betul bahwa Violet masih sangat mencintai Arkan, karena dulu dialah yang membuat Arkan membenci Violet.


"Baiklah sayang aku pulang dulu," Mawar pamit pulang.


"Ya udah hati-hati di jalan," balas Arkan.


Setelah kepergian Mawar, Arkan langsung pergi ke kamarnya untuk melihat Violet.

__ADS_1


"Darimana saja kau?" tanya Arkan, Violet dapat mendengar suara Arkan dari kamarnya yang sebelahan dengan Arkan.


"Bukan urusan mu," balas Violet tidak kalah sinis.


__ADS_2