
Malamnya Violet merayakan hari terakhir syutingnya di sebuah kafe yang sudah mereka sewa lantai duanya. Mereka menghabiskan banyak waktu di sana sambil mengobrol dan minum-minum, malam berjalan begitu cepat sudah beberapa orang pulang dari sana karena memang sudah malam.
Violet melamun sambil terus minum-minuman beralkohol sampai ia lumayan mabuk. Sherin duduk di sebelahnya, "Mau pulang?" tanyanya.
Violet berbalik ke arah Sherin, "Aku?" tanyanya.
"Telpon suami kamu yah? Udah malam kamu juga mabuk aku enggak bisa biarin kamu pulang sendiri," ucap Sherin mengambil ponsel Violet.
Ia menghubungi Arkan namun tidak di angkatnya, Violet malah tertawa, "Dia enggak bakalan angkat telponnya, diakan sedang asik menikmati malam ini," ucapnya.
Sherin kemudian mencoba memesankan taksi karena ia tidak tau harus menelpon siapa lagi untuk mengantarkan Violet pulang, sementara mobilnya Violet di titip di kafe itu.
Selama perjalanan Violet terus bicara tidak jelas karena ia sedang terpengaruh alkohol, sedangkan itu di rumah Arkan dan Mawar baru saja selesai makan malam. Mereka kini sedang menikmati sebuah film romantis di ruang tamu, Arkan belum memberikan kadonya untuk Mawar, ia berniat memberikannya nanti saja.
"Makasih yah untuk semuanya, walaupun kita enggak bisa makan di luar tapi aku seneng dengan semua ini," Mawar menatap Arkan penuh rasa cinta.
Arkan tersenyum lalu mencium keningnya Mawar, "Sama-sama, aku akan lakukan apapun agar kau bahagia," balas Arkan.
Bruk, tiba-tiba suara pintu di tabrak sesuatu terdengar jelas di telinga mereka. Mereka langsung menatap bersamaan ke arah pintu, "Oh iya sampai lupa, Violet kemana yah?" tanyanya.
"Mana aku tau," suasana hati Mawar tiba-tiba berubah saat mendengar kata Violet.
"Aku liat dulu ke luar yah siapa yang barusan nabrak pintu," Arkan pergi ke arah pintu untuk melihatnya, Mawar yang penasaran ikut di belakangnya.
Saat Arkan membuka pintu tiba-tiba tubuh Violet terjatuh untung saja Arkan berhasil menangkapnya, Mawar yang ada di sana semakin kesal bahkan sangat marah saat ini.
"Bagaimana bisa dia menganggu ku?" gumamnya dalam hati.
"Violet," Arkan mengangkat tubuh Violet lalu menatapnya.
Violet tersenyum ke arah Arkan, namun ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Arkan menatap Mawar yang sudah memasang wajah marah, "Aku bawa dia ke kamar dulu yah," Arkan menggendong Violet lalu berjalan ke kamar tanpa menunggu persetujuan Mawar.
Mawar menatap Arkan sampai Arkan benar-benar masuk ke kamarnya, Arkan menidurkan Violet di kasurnya saat Arkan akan pergi Violet malah menarik tangan Arkan membuat Arkan terjatuh ke atas tubuh Violet.
"Andai aku bisa jelasin kesalahan pahaman itu padamu, mungkin sekarang setidaknya di hatimu masih ada aku," Violet terus mengoceh tanpa sadar
__ADS_1
"Tapi biarlah semuanya berjalan seperti ini, walaupun aku yang harus menanggung sakitnya itu tidak masalah. Ini tidak akan sebanding jika nanti aku harus melihatmu sedih dan menangis atas kepergian ku," tambahnya sambil menangis.
"Mau pergi kemana?" tanya Arkan penuh penasaran.
Violet malah benar-benar kehilangan kesadarannya karena pingsan.
"Violet bangun, selesaikan dulu ucapan mu," Arkan mencoba membangunkan Violet lagi agar ucapannya tuntas.
"Dan ke salah pahaman apa yang kau maksud?" Arkan semakin penasaran karena ia tau kalah orang yang mabuk tidak mungkin berbohong.
"Arkan lama banget sih," panggil Mawar dari luar kamar.
Dengan terpaksa Arkan meninggalkan Violet. Setelah Violet sendiri ia kembali mengoceh sambil menangis, "Aku tidak pernah berniat selingkuh di belakang mu, aku benar-benar tidak tau juga mengapa pria itu dulu mencium dan memelukku, aku tidak tau ada kau di sana juga pada saat itu."
"Tapi aku juga tidak bisa benar-benar menjelaskan semua itu karena kata Mawar jika aku terus berada di sampingmu itu akan menyusahkan mu karena sakit yang aku derita, aku juga tidak mau melihatmu menangis atas kepergian ku."
Sementara itu di luar kamar karena Mawar sudah terlanjur kesal ia pamit pulang dan saat Mawar minta diantarkan pulang dengan harus Arkan malah menolaknya karena tidak mau meninggalkan Violet yang sedang mabuk di rumah sendirian.
"Baiklah aku bisa pulang sendiri," Mawar pergi dari hadapan Arkan dengan rasa kesal.
"Bangun," Arkan membangunkan Violet lagi.
Violet membuka matanya sedikit dengan keadaan yang masih belum sadar juga, Violet duduk sambil bersandar ke Arkan.
"Nih minum dulu," Arkan memberikan susu hangatnya pada Violet.
Wanita itu langsung meminumnya sampai habis tanpa jeda.
"Lu haus apa gimana sih?" tanya Arkan.
Selesai minum Violet malah memeluk Arkan, Arkan berdecak, "Di kasih minum susu hangat bukannya sadar malah semakin jadi, ngapain sih peluk-peluk," Arkan berusaha melepaskan pelukan Violet di perutnya.
"Tolong biarkan aku memelukmu, aku tidak tau apakah ini adalah pelukan terakhirku atau bukan," ucapnya.
"Memangnya mau pergi kemana sih? Sampai tadi segala bilang gue bakalan sedih di tinggalin lu? Emangnya lu mau pindah negara setelah pernikahan ini selesai?"
__ADS_1
"Aku akan pergi ke tempat dimana kau tidak akan pernah bisa melihatku lagi."
"Bagus kalau gitu pergi aja yang jauh sekalian."
Violet tiba-tiba terdengar terkekeh pelan, "Tenanglah akan ada waktunya aku akan benar-benar pergi, !dan tidak akan pernah menggangu mu lagi."
"Tapi-tapi gue enggak masalah kok kalau lu gangguin gue."
"Ah kepalaku pusing."
"Makannya jangan minum terus, abis berapa botol kamu sampai semabuk ini?"
"Aku merayakan hari terakhirku syuting ku tadi, mungkin itu juga akan jadi film terakhirku."
"Selain pergi lu juga mau berhenti jadi artis?"
"Yah berhenti dari semuanya tepatnya."
"Ah..... Kepalaku sakit," Sakit kepala Violet semakin terasa sakit, ini kemungkinan di sebabkan karena ia belum minum obat.
Violet menjambak kepalanya sendiri, "Violet sakit kenapa?" Arkan mendadak panik dan bingung harus apa.
"Obat, ambilkan obat di tas," Arkan segera membuka tas Violet dan mengambilkan obat milik Violet.
Arkan terdiam sejenak saat menemukan surat diagnosis dari dokter milik Violet yang belum Violet buang dari tasnya.
"Obatnya mana?" Violet sudah tidak tahan.
Arkan segera berlari ke dapur dan mengambil minum untuk Violet, ia memberikan obat itu pada Violet sambil menahan air matanya. Tidak bisa di pungkiri kini ia sangat sedih dan terluka melihat kenyataan yang ada.
Tidak lama setelah itu Violet kembali tenang dan sudah tidur akibat efek obatnya, Arkan membaca kembali surat dokter itu sambil meneteskan air matanya.
"Jadi maksudnya kau akan pergi itu adalah karena ini?" tanyanya pada Violet yang tertidur.
"Enggak," Arkan menggelengkan kepalanya sendiri "Kamu enggak boleh pergi ke mana-mana," Arkan memeluk Violet dengan erat melepaskan semua kerinduannya selama ini.
__ADS_1