Menikahi Mantan

Menikahi Mantan
Langit Malam Yang Indah


__ADS_3

"Aku suka aja bunganya, jadi aku minta Arkan buat beliin bunga itu," balas Violet dengan santai.


"Emang arti bunga itu apa?" tambah Violet.


Arkan memeluk Violet, "Bukan apa-apa," ucapnya.


Violet dapat merasakan detak jantung Julian yang berdetak begitu cepat tidak seperti biasanya, karena ini hanyalah pelukan biasa Violet membalas pelukan Julian. Walaupun tidak sehangat dan senyaman pelukan Arkan, pelukan Julian juga sangat berarti untuknya saat ini.


Setelah itu mereka kembali ke taman belakang, malam ini mereka akan makan malam di sana, meja putih sudah di hias oleh bunga dan lampu warna warni yang indah.


"Wah udah bagus nih," ujar Violet menatap meja indah itu dengan mata berbinar.


Arkan merangkul pundak Violet, "Suami siapa dulu dong yang hiasnya."


"Suami aku lah."


"Masuk yuk ganti baju," Violet menarik tangan Arkan dengan lembut.


Gersi menghampiri Julian yang sedari tadi menatap dalam-dalam pada Violet, "Ada apa?" tanyanya, kini ia sudah semakin merasa dekat dengan Julian.


"Entahlah, sikap Violet hari ini aneh."


Hari sudah mulai malam, kebetulan langit malam ini sangat mendukung. Langit di penuhi bintang bersamaan dengan satu bulan yang sangat indah membulat dengan sempurna, Violet datang dengan sebuah dress putih yang indah.


Violet juga meminjamkan dress miliknya pada Gersi agar dapat memakai pakaian yang sama dengannya, "Gimana cantik kan?" tanya Violet menunjuk Gersi pada Arkan dan Julian.


Awalnya pandangan mereka berdua benar-benar tertuju pada Violet, namun setelah Violet bicara barulah mereka memperhatikan Gersi yang ada di sebelah Violet. Jujur malam ini Violet masih terlihat cantik walaupun ada Gersi di sampingnya, Gersi yang sejujurnya tau Julian lebih memilih Violet hanya dapat mengelus dada dan sadar diri saja.


"Cantik," ujar Julian menatap Gersi.


"Tuh kan, siapa dulu dong. Aku yang dandanin dia," Violet sombong.


Duduklah mereka di kursi yang sudah tersedia di sana, dengan makanan pembuka di atas meja.

__ADS_1


"Wah....... Langitnya bagus banget yah," ucap Violet saat menatap langit.


"Jakarta baik-baik aja kan?" tanya Violet random pada Julian.


"Emangnya tanpa lu jakarta bakalan kek gimana?" balas Julian sambil mulai makan, ia sudah kelaparan sedari tadi.


"Yah kali aja jakarta sepi tanpa aku," Violet juga mulai makan.


Mereka makan dengan perasaan bahagia, mereka senang dapat bersama sampai dewasa. Tidak di sangka pertemanan ketiganya dapat sampai sejauh ini walaupun beberapa bulan ke belakang mereka pernah ribut besar bahkan sampai saling tidak kenal, namun semuanya dapat di selesaikan dengan baik.


Selesai makan mereka bersantai menatap pemandangan indah di depan mereka, Violet menyenderkan kepalanya ke pundak Arkan. Sementara Julian dan Gersi duduk di depan mereka berdua, Violet menghela nafasnya sambil memandangi bunga yang ia pegang.


"Arkan," suara lemah memanggil Arkan.


"HM," seru Arkan tanpa menatap Violet.


"Ini udah waktunya."


"Kamu harus sanggup tanpa aku."


"Maksud kamu apa?" Arkan masih tidak sanggup menatap Violet.


"Tubuhku sakit sekali sekarang, aku sudah tidak mampu bertahan lagi. Ini sudah batas kemampuan ku."


Arkan terdiam seribu bahasa, mulutnya seakan terkunci rapat.


"Sampai waktunya tiba, aku mohon untuk tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Jangan pernah menangis karena kepergian ku, itu akan menyakitkan untukku."


Violet menarik nafasnya yang sudah mulai melemah, "Julian, aku tau kau mencintaiku. Bahkan aku sudah mengetahuinya sejak dulu, namun karena aku tidak bisa membalas perasaan ku makannya aku diam agar kita tetap jadi sahabat. Terimakasih karena sudah selalu ada dalam hidupku selama ini."


"Aku ngantuk, aku tidur dulu yah," Violet mulai memejamkan matanya, Arkan menepuk-nepuk kepala Violet dengan hangat, perasaannya sangat hancur sekarang.


Beberapa menit kemudian Julian berbalik menatap Violet ia menggenggam Violet, "Dingin," ucapnya, tangan Violet begitu dingin.

__ADS_1


Julian memeriksa hembusan nafas Violet dan juga detak jantung Violet, Violet sudah pergi sekarang. Julian memeluk Violet sambil menangis, "Jadi ini maksud dari bunga yang kau inginkan?" teriaknya.


Sementara Arkan masih terdiam mulutnya terkunci rapat dan air matanya tak kunjung keluar, ia berusaha keras menahannya agar apa yang Violet inginkan terwujud. Gersi yang melihat itu langsung ikut menangis merasakan kesedihan yang sangat amat mendalam saat ini.


*******


Paginya jenazah Violet sudah di kuburkan di jakarta, ibu dan ayahnya Violet terus menangis sembari menenangkan satu sama lainnya, "Sayang, sekarang kamu udah gak sakit kan?" ujar ibunya menangis.


"Di sana indah kan? Semoga kamu tenang yah. Makasih udah pernah hadir ke dalam hidup Mama dan jadi anak Mama."


Arkan melamun tanpa bicara apapun menatap batu nisan milik Violet, tatapannya begitu kosong ia tidak tau harus bagaimana karena kepergian Violet terlalu cepat menurutnya. Julian juga ada di sana bersama Gersi, orang tua Arkan juga mencoba menangkan Arkan.


"Sabar yah sayang, Violet pasti sudah bahagia di atas sana," ibunya Arkan mengelus punggung Arkan.


Hatinya benar-benar hancur, sangking hancurnya ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Langit mendung seakan-akan ikut sedih dengan kepergian Violet, bahkan rintikan hujan mulai turun membasahi pemakaman Violet.


"Arkan pergi yuk hujan," ajak ibunya menarik lengan Arkan.


"Pergilah, masih ada hal yang ingin ku ceritakan pada Violet di sini," balasnya dengan sangat lemah.


Beberapa orang mulai meninggalkan pemakaman, kini hanya tinggal Arkan seorang di sana, Arkan tersenyum, "Aku ikhlas, sesuai apa yang kau inginkan. Walaupun rasanya berat tapi akan ku usahakan," ujarnya tanpa meneteskan setetes air mata pun.


"Terimakasih untuk waktu berharganya, kau akan tetap memiliki ruang spesial di hatiku. Jadi kau tenang saja."


Arkan menyenderkan bunga Anyelir di atas pemakaman Violet, "Setiap berkunjung aku akan mengirim mu bunga Anyelir, bunga yang kau peluk di saat terkahir mu."


"Walau masih banyak yang ingin ku sampaikan padamu tapi tidak masalah, semuanya sudah cukup bagiku. Selamat tinggal Violet, sebuah nama dan juga wanita yang indah seindah bunga Violet yang melambangkan kesetiaan."


Arkan bangun dari duduknya, bajunya kini sudah basah kuyup. Ia berjalan tanpa semangat ke arah mobilnya, hatinya begitu berat meninggalkan Violet terbaring tidak berdaya di tanah. Sementara itu Julian sedang bersama Gersi di kafe, Gersi tidak bicara apapun saat melihat Julian terdiam menatap kosong ke arah hujan.


Karena tidak akan ada kata yang mampu menenangkan Julian saat ini, di tinggalkan orang yang paling kita cintai untuk selamanya bukanlah hal yang mudah. Gersi yang baru saja bertemu dengan Violet pun merasa kehilangan apalagi yang lainnya, sikap dan perlakuan Violet memang luar biasa baiknya membuat orang-orang akan merasa kehilangan saat ia pergi.


"Dia dulu sangat takut dengan hujan, namun dengan berjalannya waktu ia begitu menyukai hujan. Bahkan dia dulu sering sakit hanya karena hujan-hujanan, saat kepergiannya hujan ikut mengiringi," gumam Julian.

__ADS_1


__ADS_2