Menikahi Mantan

Menikahi Mantan
Berhenti Sejenak


__ADS_3

Sementara itu Mawar menemui seseorang di sebuah kafe, "Ada apa?" tanya Mawar agak sinis dan melipat kedua tangannya di dada.


"Jangan pernah lupa dengan masa lalu mu," ucap pria itu tersenyum penuh misteri.


"Mau kamu apa?" tanya Mawar marah.


"Mau aku? Siapkan uang 100 juta besok, kalau tidak ada aku akan mengatakan semuanya pada Arkan besok," ancam pria itu.


"Kau gila? Mana ada aku uang sebanyak itu besok."


"Bagaimana bisa pacar seorang Arkan tidak punya uang, aku harap kau dapat mendapatkannya besok."


Mawar menggebrak meja, "Aku akan membunuhmu," ucap nya.


"Sebelum kau membunuhku, aku akan menghancurkan hidupmu terlebih dahulu," pria itu tidak mau kalah.


"Aku yakin Arkan tidak akan percaya dengan ucapan kosong mu itu, dia pria pintar yang tidak gampang di provokasi," Mawar merasa ia tidak perlu khawatir.


"Benarkah?" bukannya takut pria itu malah tersenyum bahagia.


"Aku punya buktinya, kau mau lihat?" tanya pria itu.


Mawar menatap pria itu dengan tatapan yang khawatir, pria itu mengirimkan sebuah vidio dan foto dimana Mawar membayar pria ini untuk menggoda dan mendekati Violet.


Di sana juga ada vidio di mana Mawar memprovokasi Violet agar wanita itu tidak mendekati Arkan karena penyakitnya dapat menyusahkan Arkan, Mawar jugalah yang meminta Violet untuk berpura-pura jahat agar Arkan menjauhi Violet.


Mawar hendak merebut ponsel milik pria itu, pria itu sadar dan segera menghindar, ia menatap Mawar, "Kalau pun kau menghapus vidio itu di ponselku aku masih punya banyak salinannya di tempat lain," jelas pria itu sangat senang.


"Pokoknya siapkan uang seratus juta besok, tapi ingat itu bukanlah yang terakhir melainkan uang pertama," pria itu bangkit dan pergi dari sana.


Mawar semakin marah dan kesal, ia pergi ke bank untuk mengambil uang seratus juta dari tabungannya.


"Pria brengsek, harusnya dari awal aku tidak mempercayainya," gumamnya dalam hati.


Malam pun tiba, Violet sedang masak makan malam di dapur. Arkan datang menghampiri Violet, "Masak apa?" tanyanya dingin.


"Lu punya mata kan? Bisa liat gue lagi masak apa?" tanya balik Violet tanpa memalingkan tatapan dari masakannya.

__ADS_1


"Oke fine," Arkan duduk di meja makan sambil membuka laptopnya, ada beberapa pekerjaan yang harus ia lakukan karena tadi ia tidak masuk kantor.


"Besok gue akan ngadain pesta ulang tahun Mawar di sini," ucap Arkan dengan mata fokus menatap layar laptop nya.


"Terserah kau, inikan rumah lu," balas Violet sinis.


"Okelah kalau lu enggak masalah, tapi boleh bantuin pasang dekorasi?"


"Dekor aja sendiri," balas Violet malas.


Kini makanannya sudah siap, Violet menyiapkan makanan di meja untuk Arkan. Ia duduk dan langsung makan tidak menunggu Arkan makan.


"Enggak sopan makan sebelum suami makan," ucap Arkan menutup laptop sembari menatap Violet sekilas.


"Masa bodo," kesal Violet.


Selesai makan Violet langsung pergi ke kamar untuk tidur, sementara Arkan mendekor ruangan tengah untuk acaranya besok bersama Mawar. Bukannya tidak mau mengajak Mawar pergi ke kafe, namun di sana tidak akan aman. Akan ada banyak orang yang mengenalnya dan jika sampai ia masuk berita karena selingkuh itu sangat berabe.


Saat tengah malam Violet terbangun dari tidurnya karena kehausan, ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Namun langkahnya terhenti saat melihat Arkan ketiduran di sofa, pria itu mungkin kelelahan setelah mendekorasi ruangan tersebut.


"Sekarang aku semakin yakin bahwa saat nanti waktunya tiba aku pergi, kau akan bahagia," tambahnya setelah itu ia bangun dan menghapus air matanya yang sempat jatuh membasahi pipi.


Saat kembali dari dapur ia menyelesaikan beberapa dekorasi yang belum sempat Arkan lakukan, setelah semuanya terlihat selesai Violet berdiri di depan meja.


"Kamu tau? Dulu aku sangat senang saat kau melakukan ini di setiap ulang tahunku," ucap Violet tersenyum bahagia.


Singkatnya malam pun berlalu, di pagi ini Violet sudah pergi pagi sekali ke lokasi syuting. Arkan terbangun dan kaget melihat semua dekorasinya selesai, ia merasa aneh pagi ini. Semalam ia merasa bermimpi kalau Violet bicara aneh padanya.


Sementara itu di lokasi syuting Violet segera melakukan syuting terakhirnya karena untuk beberapa saat nanti ia memutuskan untuk tidak mengambil tawaran syuting lagi karena ingin beristirahat sejenak.


Sherin duduk di kursi sebelah Violet, "Semoga semuanya segera selesai, aku ingin pergi liburan ke Bali," ucapnya sambil meregangkan tangannya.


"Kau benar, aku juga ingin segera menikmati waktu istirahatku," balas Violet.


"Oh iya kamu mau istirahat dulu yah, semoga nanti kita satu projek lagi."


Nanda tiba-tiba datang, "Ini hari terakhir kita gimana kalau nanti kita makan-makanan dulu sebagai perayaan selesainya semua syuting kita," ajaknya menegang pundak Violet.

__ADS_1


Violet menatap Nanda sambil tersenyum, "Ide bagus sih," balas Violet.


"Gimana?" Violet menatap Sherin.


"Boleh juga sih, nanti malam enggak ada acara juga" setuju Sherin.


"Oke aku bilangin sama anak-anak lainnya dulu yah," Nanda pergi dari sana untuk segera mengumumkan pada yang lainnya.


Sementara itu di tempat lain Mawar sedang menemui orang yang semalam mengancamnya untuk memberikan uang, "Ini uang lu," ucapnya melempar amplop coklat pada pria di depannya.


Mereka bertemu di taman dekat kantor Arkan.


"Oke senang bekerjasama dengan anda, akan gue kabarin kalau nanti gue butuh lu lagi," setelah mendapatkan uang pria itu pergi dengan wajah senang.


Mawar menginjak-injak tanah beberapa kali karena kesal, "Aku harus menyingkirkan pria itu secepatnya," Mawar mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang untuk membunuh atau mengurung pria itu di suatu tempat.


Arkan baru datang ke kantornya karena ia tadi pergi ke toko perhiasan untuk membeli kado ulang tahun Mawar, ia duduk di kursinya lalu memandangi kalung itu, namun dalam pikirannya yang terlintas justru malah Violet bukan Mawar.


Sampai tiba-tiba temannya datang ke ruangan dia, ia bernama Farel temannya dulu saat di SMA. Farel memang sering main ke kantor Arkan untuk menghabiskan waktu jika tidak ada kerjaan di kantornya, kebetulan kantor mereka berdekatan.


Farel duduk di depan Arkan, Arkan membereskan perhiasan itu dan menyimpannya di laci meja.


"Gimana rasanya nikahin mantan?" tanya Farel sedikit mengejek.


"Enggak enak," balas Arkan sinis tidak mau membalas tatapan Farel.


"Yang bener? Bukannya Violet mantan pertama lu, biasanya mantan pertama suka yang paling membekas di hati," ledek Farel memukul lengan Arkan.


"Apaan sih? Iya paling membekas sakitnya."


"Eh kok gue ngerasa aneh yah pas kejadian dulu lu berantem dan putus sama Violet."


"Apanya yang aneh?"


"Ya enggak aneh aja gitu."


"Enggak jelas lu."

__ADS_1


__ADS_2