
Hari berjalan begitu cepat, Julian dan Gersi semakin dekat. Kini Gersi bekerja dengan Julian sudah hampir satu minggu, Julian mengajak Gersi ke Villa menemui Violet dan Arkan.
Semalam Violet menelponnya dan meminta Julian ke villa bersama Gersi, "Gimana mau?" tanya Julian pada Gersi, Julian sudah menjemput Gersi di depan rumahnya.
"Tapi-" Gersi menatap adiknya.
"Kakak pergi aja, kak ada Om Farid," balas Adiknya.
"Beneran kamu gak papah sama Om Farid?" tanya Gersi memastikan.
"Beneran gak papah," adiknya Gersi tersenyum.
Gersi akhirnya setuju untuk ikut bersama Julian, kini mereka sudah dalam perjalanan ke Bogor. Di bogor Violet sedang asik melihat Arkan berenang di kolam, Violet duduk di kursi dekat kolam renang di temani secangkir coklat panas.
"Gimana seger yah?" teriak Violet.
"Kamu yakin gak mau ikut berenang?" tanya Arkan menepi.
"Enggak ah dingin," ucapnya sambil menggeleng kepala.
Arkan naik lalu duduk di sebelah Violet, "Arkan basah minggir sana."
"Biarin, minta dong," Arkan merebut cangkir Violet.
"Bikin sendiri."
"Eh Julian jadi mau ke sini?"
"Katanya sih iya jadi."
"Masuk yuk udah siang, kita makan," ajak Arkan.
Mereka berdua masuk dan ganti pakaian, lalu pergi ke meja makan untuk makan bersama. Arkan membeli makanan dari restoran di sebelah Villa, awalnya Arkan ingin makan di restoran namun Violet tidak mau dan ingin makan di rumah aja.
"Makanannya enak gak?" tanya Arkan.
"Enak, lebih enak dari masakan kamu," ledek Violet tertawa kecil.
Violet menghentikan aktivitas makannya, entah mengapa kini keningnya terasa sangat pusing. Arkan segera mendekati Violet sembari memegang lengan Violet, "Kenapa? Pusing?" tanya Arkan khawatir.
"Iya, tapi gak papah kok cuman pusing biasa," Violet kembali melanjutkan makannya begitupun dengan Arkan, yang walaupun Arkan sedikit khawatir sekarang.
Selesai makan Arkan mencuci piring dan Violet dengan setia berdiri di sebelah Arkan menunggu Arkan selesai cuci piring.
"Kamu makin ganteng aja sekarang," ucap Violet yang sedari tadi kerjaannya menatap wajah Arkan.
"Jangan gitu, ntar aku tiba-tiba terbang sangking senengnya denger ucapan kamu," balas Arkan tanpa menatap Violet.
__ADS_1
"Ih beneran, kayaknya kamu perawatan yah kemarin. Soalnya muka kamu beda, dulu tuh kucel dekil."
"Ya iyalah, kan tadinya mau bales dendam sama kamu."
"Balas dendam, kayak yang iya aja mau balas dendam," Violet memeluk Arkan dari belakang, ia merasakan aura hangat yang begitu besar dari tubuh Arkan.
"Tau gak setiap malam aku minta apa sama tuhan?" tanya Violet menatap Arkan dari belakang.
"Apa?"
"Minta agar Tuhan jaga kamu walaupun aku udah gak ada."
"Ngomong apa sih kamu?"
"Tau ah gak asik kamu," Violet melepaskan pelukannya.
"Aku ke kamar dulu," Violet berjalan ke kamarnya.
Arkan yang baru saja selesai cuci piring ikut mengikuti Violet ke kamarnya, di sana ia melihat Violet yang sedang minum obat. Arkan duduk di depan Violet, "Nah gitu dong minum obat," Arkan mengacak-acak puncak rambut Violet.
"Ih......Kok di berantakin?" Violet memasang wajah marah.
"Ya udah aku beresin lagi," Arkan membereskan rambut Violet.
"Sini peluk dulu," Arkan merentangkan pelukannya.
"Yah kita nikmatin malam ini aja sembari menatap bintang, oh iya beliin aku bunga Anyelir putih yah."
Arkan menjauhkan tubuh Violet untuk melihat wajahnya, "Buat apa bunga?"
"Pokoknya beliin aja nanti juga kamu tau."
"Mau lamar aku yah?" tanya Arkan tersenyum genit.
Violet memukul Arkan, "Enak aja, kita udah nikah."
"Ya siapa tau aja mau ngulang, kita kemarin nikah kan karena di paksa."
"Enggak ah, untukku pernikahan kemarin udah lebih dari cukup kok."
Beberapa saat kemudian Julian dan Gersi sudah sampai di Villa Arkan, mereka di sambut hangat oleh Arkan dan Violet. Violet langsung mendekati Gersi, "Hay, akhirnya kita ketemu lagi. Maaf yah pertemuan kemarin bikin khawatir," ujarnya tak lupa menampilkan senyuman hangatnya.
"Iya gak papah, aku juga senang bisa ketemu lagi dengan kalian."
Violet mengajak mereka duduk di ruang tamu.
"Yang di sapa dia doang nih?" tanya Julian menyindir.
__ADS_1
"Oh iya lupa," Violet tersenyum menatap Julian, "Hay sahabatku yang baik hati dan tidak sombong, gimana kabarnya baik?"
"Baik, kalau gak baik gue gak bakalan ada di sini," sinis Julian.
"Iya juga sih, eh silahkan di makan sama di minum hidangannya," Violet menunjuk makanan di meja makan.
Julian dan Gersi mencicipi beberapa makanan dan minuman di meja sana, "Ngapain sih lu nyuruh gue ke sini?" tanya Julian.
"Emangnya lu gak kangen sama gue? Yah kali aja lu kangen makannya gue minta lu datang," jelas Violet.
"Gak," singkat Violet.
"Yah nanti malam kita makan-makan di sini, aku bakalan masak sama Gersi. Mumpung kalian libur kerja juga kan biar sekalian refresing otak gitu," jelas Violet penuh semangat.
"Kamu bisa makan kan?" tanya Violet menatap Gersi.
"Bisa kok," balasnya.
"Bagus deh, nah nanti kalian berdua nikmati aja waktu kalian berdua sambil nungguin kita masak," ujar Violet lagi.
Waktu berjalan begitu cepat, sorenya Violet dan Gersi mulai masak beberapa hidangan di dapur sambil cerita-cerita pendek. Sementara Arkan pergi dengan Julian ke toko bunga.
"Ngapain beli bunga sih?" tanya Julian heran mengapa tiba-tiba Arkan beli bunga.
"Violet pengen bunga, gue juga gak tau buat apa?" balas Arkan masih tidak tau mengapa Violet ingin bunga tidak seperti biasanya.
Arkan melihat-lihat bunga Anyelir putih sambil memutuskan bunga yang mana yang akan ia beli, Julian terdiam sejenak, "Violet minta di beliin Anyelir putih?" tanya Julian lagi.
"Iya ih, emangnya kenapa? Bagus kan bunganya?" Arkan memperlihatkan buket Anyelir pada Julian.
"Lu tau arti bunga Anyelir gak?"
"Emang bunga ada artinya, baru tau gue."
"Pak bunganya yang ini aja yah satu," Arkan memberikan bunga itu untuk di kemas, setelah membayar bunganya ia langsung pulang.
Selama perjalan Julian benar-benar terdiam bingung mengapa Violet ingin bunga Anyelir di antara banyaknya pilihan bunga lain yang lebih bagus, Julian juga tau bunga kesukaan Violet bukanlah Anyelir.
Sampailah mereka di Villa, Julian segera mencari Violet dan mengajak Violet bicara empat mata, "Pinjem dulu," teriak Julian pada Arkan saat ia menarik pergelangan Violet ke tempat sepi.
Arkan dan Gersi hanya mampu menatap kepergian mereka, Julian melepaskan tarikan nya, "Buat apa bunga Anyelir?"
Bukannya langsung menjawab pertanyaan Julian ia malah tertawa kecil, "Emangnya kenapa? Cemburu yah?" tanya balik Violet.
"Serius Violet, kamu tau kan artinya bunga Anyelir apa?"
"Enggak," Violet menggelengkan kepalanya.
__ADS_1