
Siangnya mereka berpencar untuk ber jalan-jalan di sekitaran Villa, Julian, Arkan, Violet dan Sherin pergi ke sebuah kafe kecil di dekat Vila. Mereka memesan masing-masing satu gelas coklat panas dan roti.
"Ah..... Jadi rindu masa sekolah," Sherin menyendiri tubuhnya ke senderan kursi sambil tersenyum mengingat kenangan indah dulu.
"Enggak nyangka yah pertemanan kita bakalan panjang sampai sekarang," balas Violet meminum sedikit coklat panas miliknya.
"Oh iya minggu depan gue mau lamaran, kalian datang yah," Sherin menatap semuanya bergantian.
"Beneran?" Julian kaget sambil membalas tatapan Sherin.
"Bener, nanti gue kabarin lagi deh. Soalnya acaranya juga enggak besar jadi cuman kalian yang gue undang."
"Kenapa?" tanya Violet heran.
"Kan baru lamaran, nanti yang lainnya gue undang pas nikahnya aja," balas Sherin.
"Iya juga sih."
Mereka menghabiskan waktu di sana sampai sore, saat sorenya Violet berdiri di pinggir tebing untung melihat pemandangan. Tebing itu ada di depan Villa Violet di sana sendirian karena ia memang ingin menenangkan pikiran dan hatinya saja, sementara yang lain sedang sibuk di taman belakang mempersiapkan tempat untuk acara nanti malam.
Tiba-tiba Violet di kagetkan oleh Mawar yang menyenggol tubuhnya pelan, Violet menatap Mawar, "Mau apa lagi sih?" tanya Violet sinis.
"Enggak, cuman mau ngasih tau aja jangan seneng dulu apapun yang terjadi Arkan milik gue," Mawar menekankan setiap ucapannya.
Mawar melihat Arkan berada di belakang Violet, lalu ide gila muncul di otaknya, ia tersenyum sambil menatap Violet, "Gue bakal lakuin apapun buat bikin Arkan jadi milik gue selamanya," Mawar mendorong perlahan Violet.
Violet yang kewalahan memegang kedua tangan Mawar, saat itulah Mawar mengambil kesempatan mendorong dirinya sendiri ke tebing membuat seolah-olah ia di dorong oleh Violet.
Violet terjatuh ke tanah sambil membulatkan matanya kaget melihat Mawar terjatuh ke tebing, Arkan panik dan langsung melihat ke arah Mawar. Arkan menatap Violet dengan marah, "Lu ngapain sih? Gue pikir lu baik tapi ternyata pikiran gue salah," bentak Arkan.
"Gue enggak dorong Mawar," Violet membela diri sambil menangis, ia juga tidak tau kalau Mawar akan melakukan itu.
__ADS_1
"Bohong, lu pikir gue buta, gue liat sendiri lu dorong Mawar," Arkan mendorong Violet sampai Violet tersungkur ke tanah.
"Apaan sih lu?" Julian datang dan langsung membantu Violet.
Yang lain juga datang ke sana karena mendengar keributan, mereka ikutan panik dan tidak percaya dengan apa yang Arkan katakan.
"Sebenci apapun gue sama dia gue enggak mungkin lakuin itu," Violet terus membela diri sambil menangis.
"Gue bilang tadi apa, gue liat sendiri dengan mata kepala gue kalau lu dorong dia sampai jatuh," Arkan hendak menarik tangan Violet namun di halangi oleh Julian.
"Jangan pernah lu sentuh Violet lagi, kalau lu mau bentak dan marahin dia lewatin dulu gue," Julian menyembunyikan Violet di belakang tubuhnya dengan tangannya yang terus menggengam tangan Violet.
"Eh dia dorong Mawar loh, masih mau lu bela?" tanya Arkan marah.
"Bodo amat, mau dia bunuh Mawar kek gue enggak peduli. Kalau beneran Violet yang dorong Mawar barusan gue seneng karena apa? Apa yang Mawar lakukan jauh lebih kejam daripada ini sama Violet, lu enggak tau kan? Lu emang enggak bakalan tau, orang keras kepala kayak lu mana tau," bentak Julian semakin kesal.
"Udah, daripada ribut mending cepetan selamatin Mawar nya terus bawa ke rumah sakit," usul Dika.
"Gue enggak lakuin itu Julian percaya sama gue," Violet ketakutan sampai tubuhnya bergetar.
"Gue percaya kok, tenang aja," ujar Julian menggengam kedua tangan Violet yang bergetar.
"Kita juga percaya, udahlah Mawar emang agak-agak," tambah Andin juga tidak percaya jika Violet melakukan itu.
"Iya bener," tambah semuanya.
"Pas banget lagi jatuhnya pas ada Arkan, kan keliatan banget modusnya," timpa Sherin sinis.
"Udahlah lanjutin lagi, enggak usah peduliin dia," Malvin mengajak mereka kembali.
Sebagian kembali ke taman belakang sementara Violet malah lemas, tubuhnya tidak lagi bisa berdiri ia terjatuh ke pangkuan Julian, "Violet lu kenapa?" tanya Julian panik setengah mati.
__ADS_1
"Pusing," balas Violet yang langsung kehilangan kesadarannya.
Julian memangku nya dan membawanya ke dalam mobil ia akan membawa Violet ke rumah sakit terdekat, sesampainya di rumah sakit Violet segera di bawa ke ruangan UGD untuk di tindak lanjuti.
Sedangkan di Villa suasana jadi tidak karuan, mereka khawatir dengan kondisi Violet.
"Ngapain sih lu ajakin si Ratu drama ikutan reuni? Kan jadinya kek gini? Coba aja enggak di ajak mungkin sekarang masih aman-aman aja," tanya Sherin menatap Andin sebagai ketua pelaksana.
"Ya maaf, gue pikir dia udah berubah aja," balas Andin merasa bersalah.
"Terus gimana dong sekarang? Kita terusin aja apa acara kita?" tanya Dika.
"Ah...... Pusing gue, gue pen ke rumah sakit juga tapi takut enggak boleh banyak orang yang datang," ujar Sherin sedih.
"Iya sama," timpa Naga.
"Gimana sih kalian? Yang sakit tuh bukan cuman Violet, tapi Mawar juga. Kenapa pedulinya cuman sama Violet aja," bentak Ana tiba-tiba membuat hening seketika dan semua orang menatap Ana.
"Temen lu biang kerok, coba aja temen lu bisa jaga sikap pasti jadinya enggak bakalan sekacau ini," Andin berjalan mendekati Ana.
"Udah-udah jangan bikin keributan lainnya," Malvin menarik Andin agar tidak mendekat pada Ana.
"Sama gilanya kita kalau di ladenin, udahlah kita mandi aja sekarang," Sherin pergi dari taman belakang karena malas meladeni Ana.
Mereka pun bubar dan acara nanti malam akan tetap di adakan sambil mendoakan keselamatan Violet, kalau Mawar sih itu keinginannya sendiri jadi tidak perlu di doakan orang pengennya sakit.
Kembali ke rumah sakit, Julian gelisah dan tidak bisa diam karena khawatir dengan kondisi Violet di dalam. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan Violet dan langsung menghampiri Julian, "Kita harus bawa Pasien ke rumah sakit besar, kondisinya sangat lemah dan kritis," ujar dokter itu.
"Oke dok lakukan saja, semua administrasi biar saya yang tanggung," balas Julian malah semakin panik.
"Baik kami akan siapkan mobil dan peralatan lainnya terlebih dahulu."
__ADS_1
Sementara itu di ruangan lain Mawar sudah bangun, lukanya tidak parah karena tebing nya juga tidak terlalu tinggi. Ia hanya luka di kepala dan keseleo tangan juga kakinya saja, selebihnya baik-baik saja. Mawar memegang tangan Arkan sambil menangis, "Sakit...... Aku enggak nyangka Violet bakalan dorong aku," ucapnya penuh dusta.