Menikahi Mantan

Menikahi Mantan
Double Date


__ADS_3

"100 juta, emangnya lu mampu bayar?" tanya pria yang satunya.


Julian mengeluarkan cek dari dalam tasnya lalu melemparkan cek itu ke mereka berdua, "Udah lunas kan sekarang? Jadi lu berdua pergi dari sini," bentak Julian menunjuk mereka untuk pergi.


Mereka tersenyum, "Oke, kalau sampai ini palsu kita bakalan kasih kalian pelajaran," mereka berdua pergi dari sana.


Wanita tadi langsung berdiri di hadapan Julian, "Aku pasti bayar kok, nanti aku cari kerjaan dulu dan semuanya pasti aku lunasi. Makasih udah mau tolong aku," wanita itu sangat berterimakasih pada Julian.


"Tenang aja," balas Julian dengan santai.


"Lagi cari kerjaan? Gimana kalau kerja di kantor saya aja, kebetulan lagi butuh karyawan," tambah Julian.


Wanita itu semakin senang, "Yang bener Mas? Saya bener-bener enggak tau harus berterimakasih dengan cara apa lagi, Mas baik banget sama saya padahal kan kita baru aja ketemu."


"Saya Julian, pergi ke kantor saya besok kalau kamu mau kerja," Julian mengeluarkan kartu namanya, di sana juga tertulis alamat kantornya.


"Baik Pak Julian," wanita itu menundukkan kepalanya karena menghormati Julian.


"Kita ke klinik dulu, nanti luka kamu infeksi kalau di biarin," Julian berjalan pergi dari gang itu.


Wanita tadi berjalan mengikuti Julian, "Nama saya Gersi, siapa tau nanti bapak perlu manggil nama saya," ucapnya memperkenalkan diri.


Saat merek sudah di pinggir jalan besar tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini berhenti di samping mereka sembari mengklakson mereka, Julian berhenti dan menatap pintu mobil.


Arkan dan Violet keluar dari mobil itu dan menemui Julian, "Pacar?" tanya Violet sambil senyum-senyum menatap Gersi.


"Bukan? Saya karyawan barunya pak Julian," Gersi menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangan.


"Karyawan baru kok jalan-jalan berduaan, bilang aja kali," kekeh Violet.


"Apaan sih lu, mau kemana kalian?" tanya Julian dengan wajah sinis nya.


"Jalan-jalan dong," Violet merangkul lengan Arkan.


"Ikut yuk, kita jalan-jalan bareng," ajak Violet menaikkan kedua alisnya.


"Ngapain sih? Males," balas Julian sinis.


Violet menarik tangan Julian, "Mau yah, ku mohon," Violet menampilkan wajah memelas nya.


"Ya udah deh iya," Julian menghempas tangan Violet.


Violet kegirangan masuk ke mobilnya bersama Arkan, Arkan sedikit kesal mengapa Violet mengajak Julian padahal ia ingin berduaan saja dengan Violet.


"Kenapa sih ajak Julian juga?" tanya Arkan sembari fokus menyetir.


"Julian kasian tau enggak laku-laku, makannya kita harus jodohin Julian sama cewek tadi, keliatannya baik tau," balas Violet dengan polosnya.

__ADS_1


"Kamu enggak tau kenapa Julian enggak punya pacar sampai sekarang?" tanya Arkan bingung, padahal perlakuan dan sikap Julian terlihat jelas bahwa Julian sangat mencintai Violet lebih dari sahabat saja.


"Enggak, emang apa? Bukannya Julian enggak punya pacar karena enggak laku aja yah? Emang ada alasan lainnya?" tanya Violet.


Arkan terdiam, ia tidak tau bagaimana jika sampai Violet nanti tau bagaimana perasaan Julian padanya. Akankah Violet malah sama-sama suka juga pada Julian atau bagaimana?


"Ah sudah lupakan, aku yakin Violet tidak menyukai Julian juga. Sepertinya rencana Violet saat ini lumayan bagus," gumam Arkan dalam hatinya.


"Enggak ada alasan lain kok, emang gak laku aja dia. Kamu tau sendiri kan Julian kalau sama cewek kaku banget kaya kanebo kering," balas Arkan.


"Iya kan, makannya sekarang kita harus jodohin dia."


"Okey gimana baiknya menurut kamu aja."


"Pokoknya nanti aku harus cari tahu dulu gimana wanita itu, kalau baik baru dia boleh sama Julian. Kalau enggak baru enggak boleh."


"Ya udah terserah kamu."


Sampailah mereka di Mall, Violet ingin beli beberapa baju di sana. Violet bersama Gersi di toko baju, Gersi membantu Violet memilih pakaian sementara Arkan dan Julian sedang menunggu di luar toko sambil ngobrol santai.


"Gimana ini bagus gak?" tanya Violet sembari memperlihatkan sebuah dress berwarna milo.


"Bagus cocok deh," balas Gersi tersenyum.


"Kamu mau beli juga?"


"Aku yang belikan, pilih aja terserah mau yang mana."


"Enggak usah, aku masih ada banyak baju yang bisa ku pakai kok di rumah," Gersi menolaknya karena tidak enak.


"Nama kamu siapa?" tanya Violet.


"Gersi."


"Gersi beli aja enggak papah."


"Beneran?"


Violet pun memilihkan baju untuk Gersi, selesai memilih baju mereka langsung membayarnya.


"Itu beneran semahal itu?" tanya Gersi dengan wajah polosnya menatap ke arah Violet.


"Yah enggak papah," Violet memberikan kartu ATM nya pada kasir dan membayar semuanya.


Mereka pun keluar toko menemui Arkan dan Julian, "Lama banget sih, ngapain aja di dalem?" tanya Arkan merangkul Violet dan mencium keningnya.


"Lebay deh," Julian pergi duluan dari sana.

__ADS_1


Mereka pergi ke sebuah store Starbucks di mall tersebut, "Mau minum apa?" tanya Violet pada Gersi.


"Samain aja."


Selesai pesan minuman mereka beristirahat di sana sebentar, "Ah..... Capeknya," ucap Violet menyenderkan kepalanya ke Arkan.


"Baru beli baju gitu aja udah capek," balas Arkan meminum kopinya.


"Eh ke sana yuk," Violet menunjuk Timezone yang ada di dekat tempat mereka istirahat.


"Katanya capek," ujar Arkan menatap Violet dengan lelah.


"Yuk pergi," Violet menarik-narik tangan Arkan untuk pergi.


"Kalian mau ikut? Jangan lah tunggu aja," ujar Violet pada Julian dan Gersi.


Arkan di tarik paksa oleh Violet, sementara Julian hanya memandangi kepergian mereka dengan datar.


"Maaf yah kalau aku agak gak sopan, aku cuman mau tanya. Bapak suka yah sama Violet?" tanya Gersi yang melihat semua sikap Julian pada Violet.


"Apa?" tanya Julian bingung harus jawab apa.


"Tadi Violet juga cerita banyak hal tentang bapak, dari sana yang bisa menyimpulkan bahwa bapak suka pada Violet, maaf kalau saya agak lancang."


"Enggak usah panggil bapak kalau gak lagi kerja, panggil Julian aja."


"Baik."


"Yah begitulah, cuman persahabatan kita jauh lebih berharga jika harus di rusak dengan cinta sepihak," balas Julian sembari memandangi kemesraan Arkan dan Violet yang tengah bermain capit boneka.


"Tapi menurut saya, terlalu tidak mungkin jika Violet tidak tau kalau kamu menyukainya. Mungkin selama ini dia juga berusaha menutupi prasangka nya, agar persahabatan kalian tidak canggung."


"Ntahlah."


"Aku yakin kamu orang baik, suatu saat nanti Tuhan pasti akan pertemukan Kamu dengan wanita yang tepat. Wanita yang dapat mencintai Kamu dengan hebat."


"Semoga saja ucapan mu benar terjadi."


Di tempat lain Violet dan Arkan juga memandangi kedekatan Julian dan Gersi, "Aku yakin wanita itu baik," ujar Arkan sembari merangkul pundak Violet.


"Benar."


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Arkan menatap Violet.


"Tanya aja."


"Sebenarnya kamu tau gak sih kalau Julian punya perasaan lebih ke kamu?"

__ADS_1


__ADS_2