
Beberapa saat kemudian hari sudah mulai malam dan Maear memutuskan kembali ke Villa di bantu Arkan, saat sampai ke Vila semua orang di sana sangat tidak nyaman dengan kedatangan mereka berdua. Mawar duduk di sebelah Ana, "Lu enggak papah kan?" tanya Ana mengelus lengan Mawar.
"Yah cuman gini aja," balas Mawar tersenyum.
"Bisa-bisanya dia masih senyum setelah apa yang udah dia lakuin," sindir Sherin tersenyum sinis.
"Kalian tuh kenapa sih? Di sini gue loh yang jadi korbannya, kenapa malah bela Violet," tanya Mawar kesal mendengar sindiran mereka.
"Apa? Gimana? Korban lu bilang?" tanya Andin berdiri, "Lu pikir kita bodoh dan percaya gitu aja sama lu setelah apa dulu lu lakuin?" tambahnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Arkan berdiri di hadapan Andin, "Udah jangan pada ribut," ucapnya.
"Kita enggak bakalan ribut kalau kalian enggak ke sini," balas Andin sinis ia pun kembali duduk.
"Maksud lu apa?" Arkan terpancing emosi.
"Udah kek anak kecil aja deh," Dika menarik Arkan pergi.
Yang lain melanjutkan acaranya tanpa memperdulikan kedatangan Mawar. Arkan celingukan mencari keberadaan Violet, "Mana sih tuh anak pasti lagi ngumpet di kamar merenungi kesalahannya, biarin ajalah," gumam Arkan dalam hatinya.
Namun ia sadar Julian juga tidak ada di sini, ia mulai curiga jangan-jangan Violet sedang berduaan dengan Julian di suatu tempat. Arkan menatap Dika, "Violet ke mana?" tanya Arkan bingung.
"Lu enggak tau?" tanya Dika sama bingungnya mengapa Arkan belum tau.
Arkan menggelengkan kepalanya, "Enggak, ada apa emangnya?"
"Tadi Violet pingsan, terus Julian bawa Violet pergi ke rumah sakit terdekat tapi tadi katanya rumah sakit di sini enggak bisa nanganin Violet jadi dia di bawa ke rumah sakit besar di jakarta," jelas Dika.
"Tadi kata Julian sih gitu," tambah Dika.
Adkan terdiam merenung, ia kini merasa bersalah seharusnya sesalah apapun Violet ia tidak berhak di perlakukan secara tadi. Arkan segera berlari dari sana, Mawar yang melihat Arkan pergi hendak mengejar Arkan namun malah terjatuh karena kakinya masih terasa sakit.
__ADS_1
"Arkan mau kemana?" teriak Mawar terjatuh.
Ana segera membantu Mawar.
Andin tersenyum sinis, "Bisa-bisanya dia masih kek gitu padahal udah tau kalau Arkan memang masih suka sama Violet," ledek nya memalingkan wajah.
Mawar menatap Andin dengan kesal, namun sayangnya ia tidak bisa berkata apapun.
"Bangun," Ana membangunkan Mawar dan mendudukan Mawar di kursi.
"Minimal punya malu lah," sindir Sherin juga.
Semua tersenyum sinis di sana.
Sementara itu Julian sudah sampai di jakarta, ia segera menghubungi orang tua Violet dan orang tua Violet akan segera terbang dari luar negeri ke Indonesia untuk menemui anaknya.
Julian masih dengan setia menunggu Violet di luar ruangan, wajahnya sudah sangat panik ia tidak henti-hentinya berdoa pada Tuhan. Kemudian dokter keluar dari ruangan itu dan menemui Julian, Julian berdiri dan mendekati dokter itu, "Bagaimana kondisi Violet dok?" tanyanya.
Julian masuk ke ruangan Violet ia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tidur Violet, ia mengenggam tangan Violet, "Terimakasih karena sudah bertahan sejauh ini, aku belum siap dengan kepergian mu jadi ku mohon bangunlah," Julian menangis sambil menundukkan kepalanya ke atas tangan Violet.
Hari sudah sangat larut malam dan karena kecapean Julian tertidur di sana, saat pagi Julian di bangunkan oleh dokter yang akan mengecek keadaan Violet, "Maaf kami harus memeriksanya," ucap dokter itu yang di temani dua suster.
"Baik," Arkan keluar dari ruangan itu dengan mata yang masih mengantuk, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kemudian setelah dari kamar mandi ia pergi ke kantin rumah sakit karena lapar, ia makan nasi goreng dan yang lainnya di sana sembari menunggu pengecekan pada Violet. Selesai makan Julian kembali ke kamar Violet, saat ini Violet di pindahkan ke ruang rawat karena kondisinya yang sudah lumayan membaik.
Sementara itu Arkan masih mencari dimana Violet berada ia sudah mengunjungi beberapa rumah sakit di jakarta namun masih belum menemukan keberadaan Violet, ia hampir menyerah karena kini juga ia sudah lelah semalaman ia belum tidur dan makan.
Kini ia mengunjungi rumah sakit terakhir, ia masuk ke rumah sakit itu dengan keadaan yang sudah hampir menyerah, ia kembali semangat saat melihat Julian ada di sana ia berlari menghampiri Julian dan hampir terjatuh di hadapan Julian.
Ia kembali bangun dan meraih tangan Julian, "Dimana Violet?" tanyanya dengan nafas yang tidak beraturan karena kelelahan.
__ADS_1
"Apa? Lu nanyain Violet? Mau apa? Mau nyalahin dia lagi?" tanya Julian sinis sambil melepaskan tangan Arkan.
Ia hendak meninggalkan Arkan namun Arkan berlari mengejarnya dan berdiri di hadapan Julian, "Oke gue bakalan cari ruangannya sendiri," balas Arkan tidak mau perjuangannya sia-sia.
Arkan berlari mencari ruangan Violet, Julian yang kasihan dan sebenarnya tau kalau Violet membutuhkan Arkan langsung memberitahunya, "Di lantai dua ruangan nomor 32," teriak Julian mengalah.
Arkan langsung ke lantai dua ke ruangan itu di ikuti oleh Julian dari belakang, sesampainya di ruangan itu Arkan langsung masuk dan memeluk Violet.
"Maafin gue, gue tau karena gue lu jadi kayak gini tolong bangunlah," pinta Arkan.
Julian memandangi mereka dari luar ruangan lewat jendela kaca.
"Violet bangun gue mohon bangun, jujur gue belum siap di tinggal lu lagi. Udah cukup dulu lu ninggalin gue sekarang jangan," pinta Arkan menangis.
Tiba-tiba tangan Violet bergerak kelopak matanya mulai terbuka dan Violet pun sadar, Arkan segera menghubungi dokter lalu Arkan menangis bahagia karena Violet bangun. Julian semakin sadar bahwa Violet sangat mencintai Arkan makannya Violet bangun saat Arkan ada di sampingnya.
Julian duduk di luar sambil merenung, "Ternyata kekuatan cinta memang luar biasa," gunamnya sambil tersenyum.
Setelah di periksa dan dokter keluar dari ruangan itu Arkan kembali masuk bersama Julian, Violet memegang tangan Julian dan menatap ke arah Julian yang ada di sebelah kanannya sedangkan Arkan ada di samping kirinya.
"Gue enggak mau liat dia," pinta Violet menggelenkan kepalanya.
Julian menatap Arkan.
"Gue minta maaf Violet, gue tau gue enggak sepantasnya bicara gitu sama lu kemarin gue ngaku gue salah," Arkan berusaha minta maaf.
"Tolong gue enggak mau dengerin dia gue enggak mau liat wajah dia gue mohon Julian," Kekeh Violet sambil menangis.
"Lu mending keluar, jangan bikin gue kehabisan kesabaran. Setelah gue pikirin lu emang udah keterlaluan kali ini," pinta Julian mengusir Arkan.
Dengan berat hati ia keluar dan duduk di luar ruangan menunggu Violet tenang, mungkin saja nanti Violet dapat memaafkannya.
__ADS_1