
Bukannya langsung jawab Violet malah tersenyum kecil sambil menutup mulutnya, "Gimana yah bingung juga jawabnya."
"Kok bingung?"
"Dah lah jangan bahas itu kita main lagi, aku mau boneka itu," Violet menarik Arkan untuk kembali bermain, Arkan bisa tau bahkan sebenarnya Violet juga sudah tau bagaimana perasaan Julian padanya.
Karena barusan Violet sama sekali tidak kaget, Violet sudah mendapatkan banyak boneka namun tetap ingin boneka lainnya. Selama berada di Mall ada beberapa orang yang ingin berfoto dengan Violet, setelah lama bermain Violet, Arkan, Julian dan Gersi pergi ke bioskop untuk melihat film Violet yang kini tayang di Bioskop.
Bukannya menikmati film Violet malah ketiduran sangking capeknya, "Nih anak kok malah tidur sih?" tanya Arkan saat baru sadar Violet tertidur di pundaknya.
Beberapa saat kemudian film pun sudah usai mereka memutuskan untuk pulang bersama karena waktu sudah mulai sore juga, di perjalanan Violet merasa pusing sampai ia tidak sadarkan diri.
"Violet bangun Violet, kenapa?" Arkan panik sampai meminggirkan dulu mobilnya di pinggir jalan.
Wajah Violet begitu pucat dan benar-benar tidak sadarkan diri, Julian keluar dari mobilnya karena melihat mobil Arkan berhenti di pinggir jalan ia punya firasat tidak baik mengenai Violet. Dan firasatnya ternyata benar, Julian segera menyarankan Arkan membawa Violet ke rumah sakit.
Mereka bergegas ke rumah sakit dengan cepat, sesampainya di rumah sakit Violet segera di bawa ke ruangan ICU. Semua menunggu Violet dengan khawatir, orang tua Violet juga sudah di beritahu tentang kondisi Violet yang mendadak drop.
"Violet sakit?" tanya Gersi tidak tau.
"Dia kena kanker otak," balas Julian yang ada di sampingnya.
Gersi tersenyum kecil saat melihat wajah panik dan khawatir Arkan dan Julian, "Violet begitu beruntung bisa di cintai dengan hebat oleh mereka, sangat jarang ada yang seperti itu. Aku jadi semakin penasaran seistimewa apa dia," gumamnya dalam hati.
"Pasti dia begitu istimewa sampai di cintai dengan hebat oleh mereka," tambahnya.
Ibunya Violet datang dengan khawatir juga, "Bagaimana? Bagaimana kondisi Violet sekarang?" tanyanya panik.
"Violet masih di periksa di dalam," balas Julian sambil meminta ibunya Violet untuk duduk dan tenang dulu.
Beberapa saat berlalu dokter yang memeriksa Violet keluar, ia mengatakan bagaimana kondisi Violet sekarang. Violet harus di rawat untuk beberapa hari di rumah sakit, kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk pulang ataupun di rawat di rumah.
__ADS_1
"Lakukan apapun, asalkan Violet dapat sembuh," balas ibunya.
Violet masih belum di pindahkan ke ruang rawat karena kondisinya masih belum stabil dan takut jika hal buruk terjadi lagi, dan hanya boleh satu orang yang menjenguk Violet. Mereka pun memutuskan untuk bergantian menemui Violet di dalam.
Ibunya membiarkan Arkan menemui Violet duluan, Violet belum sadarkan diri. Arkan masuk dengan memakai pakaian yang sudah di sediakan di sana, Arkan duduk di kursi samping tempat tidur Violet, "Bagun yah, masih banyak hal yang masih ingin ku lakukan bersama mu," ucapnya sambil meneteskan air mata.
Arkan masih belum sanggup melepaskan Violet, "Sudah cukup kau meninggalkan ku kemarin, jangan untuk sekarang juga."
"Tuhan, maaf jika aku egois, tolong beri dia waktu lebih banyak di dunia ini. Masih terlalu banyak rencana yang belum ku lakukan dengannya."
"Atau, biarkan aku yang menanggung semua rasa sakitnya. Hatiku rasanya sakit ketika melihat dia menderita seperti ini."
Sementara itu di luar Julian menyuruh Gersi untuk pulang saja dulu.
"Baiklah, tapi boleh tidak nanti ku jenguk Violet lagi? Dia wanita hebat ada beberapa hal yang ingin ku katakan," ujar Gersi.
"Boleh, kau bisa melihatnya nanti setelah di pindahkan ke ruang rawat."
Gersi pun pulang naik kendaraan umum, Julian juga sempat memberikan ongkos untuk Gersi takutnya Gersi tidak punya uang. Gersi awalnya menolaknya namun Julian memaksa dan pada akhirnya Gersi menerima uang itu dan pergi.
"Sayang makan dulu yuk, kakak udah bawain makanan nih," Gersi merapihkan rambut adik perempuannya itu dengan lembut.
Adiknya sudah berumur 9 tahun, adiknya bernama Gadis. Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu orang tua mereka sudah meninggal karena kecelakaan mobil beberapa tahun lalu, untuk mencukupi kehidupan mereka, Gersi harus banting tulang mencari uang ke sana kemari.
Gadis bangun dan mulai makan di bantu Gersi, "Abis itu makan obatnya yah."
Gadis menganggukkan kepalanya sambil makan, selesai makan ia langsung minum obat lalu tidur kembali karena tubuhnya masih lemas.
"Maafin kakak yah belum bisa bawa kamu ke rumah sakit," Gersi menangis.
"Kak aku gak papah, kakak jangan sedih karena gak bisa bawa aku ke rumah sakit. Aku besok juga baikan kok," balas Gadis dengan suara lemah yang bahkan hampir tidak terdengar.
__ADS_1
"Makasih yah karena udah mau ngertiin kondisi kakak, kamu tenang aja besok kakak udah dapet kerja di kantor. Bosnya baik semoga aja kehidupan kita semakin membaik setelah ini."
Gadis tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Cepet sembuh yah sayang, nanti sekolah lagi ketemu temen-temen," ujar Gersi.
Kembali ke rumah sakit, Violet sudah di pindahkan ke ruang rawat karena Violet sudah sadar kembali. Walaupun tubuhnya masih sangat lemas, "Ma kenapa sih aku gak boleh pulang?" tanya Violet merengek.
"Sayang dokter bilang jangan pulang," balas Ibunya sambil menangis setelah mendengar semua penjelasan dari dokter yang menangani Violet tadi.
"Aku boleh bicara sama dokternya? Berduaan doang?" tanya Violet.
"Nanti yah."
Arkan bahkan tidak mau menemui Violet untuk saat ini, sementara Julian berada di sana berusaha tegar dan menyembunyikan semuanya dari Violet. Arkan sedang menenangkan diri di taman belakang sendirian.
"Arkan mana?" tanya Violet menatap ibunya dan Julian bergantian.
"Dia lagi makan dulu, tunggu yah nanti juga ke sini," bohong Julian.
" Ma, jangan nangis terus aku udah bangun kok," ujar Violet menatap ibunya yang malah menangis.
"Mama seneng aja kami bangun lagi, makannya mama nangis," bohongnya sambil menghapus air mata.
Dokter pun masuk, Julian dan ibunya di minta keluar karena Violet hanya ingin bicara berdua dengan dokternya.
"Dok aku ingin pulang," ujar Violet.
"Kondisimu tidak memungkinkan untuk pulang."
"Dok aku tau bagaimana kondisi ku dan sampai kapan aku ada di dunia ini, aku sudah punya firasat tentang sampai kapan aku ada di sini. Makannya aku ingin pulang, ada hal yang masih ingin ku lakukan, aku tidak mau mati dengan penyesalan," ujar Violet menahan rasa sesaknya di dada.
__ADS_1
"Tapi-" Violet memotong ucapan dokternya.
"Ku mohon dok, aku hanya ingin pergi tanpa penyesalan," pinta Violet sambil menangis, padahal ia sudah berusaha keras untuk tidak nangis.