Menikahi Mantan

Menikahi Mantan
Langit Malam


__ADS_3

Arkan ke rumah Violet dengan cepat di ikuti oleh Julian dari belakang, sesampainya di rumah Violet mereka berdua langsung menghampiri kamar Violet Arkan berlutut di hadapan Violet yang sedang ingin berjalan ke luar di bantu ibunya.


"Sorry, maaf atas semua kesalahan gue ke lu," ucap Arkan sambil meneteskan air mata yang sudah sedari tadi ia tahan.


Violet menatap Julian yang berdiri di ambang pintu, Julian hanya mengedipkan matanya lalu keluar meninggalkan mereka. Ibunya Violet juga pergi membiarkan Violet dan Arkan bicara empat mata di kamar itu.


Kini di sana hanya tinggal mereka berdua, "Kenapa sih lu harus pura-pura sama gue? Kenapa lu harus buat gue menderita selama ini?" tanya Arkan mengapa Violet tidak pernah mau jujur.


"Julian bilang semuanya?" tanya Violet.


Arkan bangun lalu memegang kedua lengan Violet, "Iya, kenapa gue tau dari Julian tentang lu? Kenapa lu enggak mau bilang yang sejujurnya sama gue?" tanya Arkan lagi, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


Violet mundur dan duduk di kasur karena tubuhnya tidak bisa terlalu lama berdiri, Arkan duduk di depan Violet.


"Dulu gue sempet pengen ngomong dan jelasin semuanya sama lu, tapi tiba-tiba dokter kasih tau gue kalau hidup gue enggak bakalan lama lagi. Di tambah lu enggak pernah kasih kesempatan gue buat bicara jelasin semuanya," jelas Violet.


"Mawar terus bilang sama gue kalau gue harus jauhin lo, dengan beberapa alasan," tambah Violet.


"Terus lu tau kalau Mawar ternyata yang jebak lu?"


"Tau."


"Terus kenapa lu enggak bilang sama gue?"


"Karena gue emang mutusin buat jauh dari lu, gue enggak mau lu sedih ketika gue udah enggak ada di dunia ini. Gue pengen lu benci aja sama gue, karena dulu gue tau lu sayang banget sama gue."


"Kalau lu tau gue dulu sayang sama lu, harusnya lu enggak lakuin ini. Lu enggak mikir sehancur apa gue setelah kejadian itu? Gue kacau Violet. Gue enggak bisa lupain lu bahkan benci lu, dan itu sakit Violet."


"Karena gue pikir itu yang terbaik buat lu."


"Apa yang terbaik menurut lu belum tentu terbaik menurut gue, gue mohon jangan lakuin itu lagi. Gue siap nemenin lu sampai kapan pun bahkan jika kita harus mati bareng gue siap."


Violet akhirnya menangis, awalanya ia berusaha untuk tidak menangis karena ingin pura-pura kuat di hadapan Arkan. Arkan yang melihat Violet menangis langsung memeluk Violet, "Sorry, sekali lagi maaf kalau perlakuan gue selama ini bikin lu sakit hati bahkan kecewa, tapi jujur sampai detik ini enggak ada satu orang pun yang bisa ubah posisi lu dalam hati gue," Arkan mengelus rambut Violet.


Sementara itu di luar ibunya Violet menyiapkan minuman untuk Julian yang ada di ruang tamu, "Kamu hebat," ucap ibunya Violet sambil menatap Julian dengan sorot mata yang kagum.


"Aku enggak mau egois, karena yang bisa bikin Violet semangat cuman Arkan. Dia cuman pura-pura kuat doang selama ini," jelas Julian sambil tersenyum Ikhlas.


"Semoga kamu dapetin wanita yang sehebat kamu, jarang loh ada yang kayak kamu di dunia ini," ibunya Violet mengelus lengan Julian.

__ADS_1


"Kalau Violet bahagia, aku pasti ikut bahagia kok tante. Bersama siapapun dia di bahagiakan."


"Sekali lagi terimakasih."


Julian meminum sedikit air yang di sediakan ibunya Violet, "Ya sudah tante, saya pamit pulang dulu masih ada kerjaan," pamit Julian.


Kembali ke kamar, Arkan menghapus air mata di pipi Violet, "Pulang yuk ke rumah, gue bakal rawat lo dengan baik. Izinkan gue ngerawat lu sebagai tanda permintaan maaf gue," ajak Arkan.


"Gue mau di sini aja, lu boleh tinggal di sini kok. Gue enggak tau sampai kapan umur gue jadi gue enggak mau jauh dari orang-tua gue," jelas Violet.


"Ya udah gue pulang dulu yah bawa baju," ujar Arkan.


"Iya, hati-hati yah di jalannya."


Arkan pergi ke rumahnya sebentar untuk beres-beres membawa baju dan barang-barang lainnya, sementara Violet mandi di bantu ibunya ia ingin mandi dari pagi ia belum mandi jadi ia merasa gatal-gatal.


Beberapa saat kemudian Arkan sudah kembali ke rumah Violet sekarang Arkan sedang menyuapi Violet makan, "Dikit lagi," ujar Arkan.


"Enggak mau udah kenyang," Violet menggelengkan kepalanya.


"Baru juga beberapa suap."


"Eh panggilnya aku kamu yah, jangan gue lu lagi enggak enak di denger," ujar Arkan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Okey," setuju Violet.


"Ya udah makannya cepetan, biar abis ini langsung minum obat."


"Enggak mau, udah makanannya enggak enak," Violet menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya terus menerus.


"Ya udah deh terserah, nim minum," Arkan menyerah lalu memberikan Violet minum.


Violet minum setelah minum ia langsung minum obat dan pergi ke balkon bersama Arkan memandangi langit, Violet bersandar di pundak Arkan.


"Indah yah?" tanya Violet tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.


"Iya, tapi tetep enggak ada yang bisa ngalahin keindahan wajahmu," canda Arkan sambil cengengesan.


Violet mencubit perut Arkan, "Kebiasaan deh, gombal segala."

__ADS_1


"Kamu juga kebiasaan cubit-cubit perut," balas Arkan.


"Abisnya kamu malah ngegombal."


"Bukan gombal sayang tapi emang kenyataannya gitu."


"Oh gitu yah? Pantes aja kemarin kamu enggak bisa lupain aku."


"Kepedean. Tapi enggak papah sih kan emang kenyataannya gitu, aku enggak bisa lupain kamu."


Violet tertawa menahan kegelian karena ucapan lebay yang di keluarkan Arkan, "Jijik tau gak," ujar Violet merinding.


"Biarin," Arkan mencium puncak rambut Violet.


"Bau ih," canda Arkan sambil menyingkirkan kepala Violet dari pundaknya.


"Ih..... Aku baru keramas tadi masa udah bau aja, idung kamu kali yang bermasalah makannya jadi bau."


"Enggak idung aku sehat kok, buktinya tadi abis dari dokter bersihin idung."


"Manja banget deh, bersihin idung aja sampai ke dokter."


"Biarin, abisnya bingung mau ngabisin uang buat apa lagi."


"Pamer-pamer," ledek Violet memukul perut Arkan.


"Perut mulu deh, sakit Violet."


"Biarin asal jangan perut aku aja yang sakit."


"Eh besok ke bioskop yuk, aku udah agak baikan juga kita nonton film aku yang besok tayang," ajak Violet menatap Arkan.


"Boleh, aku juga besok enggak ada kerjaan. Kalau pun ada aku pasti tetep temenin kamu," setuju Arkan.


"Oke, jam 8 pagi yah."


Mereka menghabiskan malam dengan bercanda dan mengobrol melepaskan semua kerinduan yang sudah lama tertahan kan, semua kebiasaan dan karakter mereka masih sama seperti dulu seakan-akan mereka memang kembali ke masa SMA yang penuh kenangan, di tempat lain Julian juga sedang memandangi langit malam yang begitu indah ini.


Ia tau betul bahwa Violet sangat menyukai langit malam yang di penuhi bintang.

__ADS_1


Maaf yah baru update soalnya kemarin banyak kerjaan


__ADS_2