
Paginya Violet terbangun dan ia kaget bagaimana bisa ia ada di pelukan Arkan, ia menjauh dari Arkan sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Ah..... Semalam ngapain yah," Violet mencoba mengingat kejadian yang terjadi semalam.
Ia benar-benar lupa apa yang terjadi semalam, Violet melihat obatnya berceceran di kasur ia juga melihat surat dari dokter yang sudah lecek. Ia mengambil semuanya berharap Arkan tidak bangun sekarang, "Ah gawat kalau sampai dia liat," ucapnya panik.
Tiba-tiba tangan Arkan mengagetkannya, Arkan menarik tangan Violet agar wanita itu dapat menatap ke arahnya, "Ada apa?" tanya Violet panik.
"Kenapa lu enggak bilang tentang penyakit lu?" tanya Arkan marah.
"Penyakit?" tanya Violet pura-pura bingung.
"Jangan pura-pura enggak tau, kenapa lu enggak bilang kalau lu punya penyakit kanker?"
Violet memberontak, ia menghempaskan tangan Arkan dari tangannya, "Lu enggak pernah nanya juga," balas Violet meninggalkan Arkan ke kamarnya.
"Violet gue belum selesai ngomong jangan pergi," Arkan mengejar Violet sampai ke kamar Violet.
Arkan menarik tangan Violet lalu berdiri di hadapannya, "Sejak kapan lu sakit?" tanya Arkan marah.
"Sakit Arkan sakit," Violet mencoba mengalihkan pembicaraannya.
"Jawab dulu pertanyaan gue."
"Yah gue sakit dari dulu."
"Kenapa enggak bilang?"
"Kan gue udah bilang tadi, lu enggak pernah nanya."
"Lu kan pacar gue dulu, kenapa lu enggak bilang aja kalau lu sakit tanpa harus minta gue tanya. Gue dulu di anggap pacar lu enggak sih? Sampai hal ini aja gue enggak lu kasih tau?"
"Ya karena itu gue enggak bilang gue sakit sama lu, karena lu pacar gue yang paling gue cinta," gumamnya Violet dalam hatinya.
"Gue enggak pernah suka sama lu sedikit pun, lu tau itukan? Dulu gue udah bilang gitu kan sama lu. Jadi apa untungnya gue cerita itu sama lu," balas Violet.
"Jahat banget lu," Arkan keluar dari kamar Violet dengan marah dan kesal.
Violet menutup pintu kamarnya lalu menangis sambil bersandar ke pintu, ia memeluk lututnya sendiri. Ia mencoba menangis tanpa bersuara ia tidak ingin Arkan tau kalau ia sangat sakit, "Ini yang terbaik untukmu Arkan," ucapnya pelan.
Arkan setelah mandi langsung pergi ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu, ia berniat menemui Julian sekarang. Ia ingin bertanya tentang penyakitnya Violet pada Julian, walaupun ia sudah berusaha tidak peduli hati kecilnya tetap saja begitu mencemaskan Violet dan merasa ada hal yang sengaja Violet sembunyikan darinya.
__ADS_1
Sampailah Arkan di kantornya bersama dengan Julian yang juga ada di sana, "Ada apa tiba-tiba manggil saya?" tanya Julian.
"Lu tau Violet sakit?" tanya Arkan dingin.
"Oh......Violet udah ngomong sama lu?" tanya balik Julian.
"Enggak, gue enggak sengaja liat surat diagnosis dari dokternya," balas Arkan.
"Kenapa Violet enggak mau ngomong sama gue kalau dia sakit dari dulu, lu temennya Violet kan? Lu pasti tau apa alasannya," tambah Arkan.
"Gue enggak bisa cerita sama lu, gue udah janji sama Violet kalau gue enggak boleh ngomong sama lu."
"Enggak asik lu."
"Gini lu cari tau sendiri aja, udah ah kalau mau ngomongin itu doang gue sibuk mau pergi aja banyak kerjaan," Julian langsung pergi karena merasa tidak penting, sebenarnya lebih tepatnya ia tidak mau cerita.
Saat Julian keluar tiba-tiba ia berhadapan dengan Mawar saat di pintu keluar, mereka berhenti sejenak.
Julian tersenyum sedikit, "Bagaimana? Semuanya berjalan seperti yang kau inginkan bukan?" tanya Julian sinis.
"Lu ngomong apa sih?" tanya Mawar dengan wajah kesal.
Julian menepuk pundak Mawar, "Yah...... Semoga saja semuanya memang baik-baik aja, ku harap Arkan benar-benar sudah tidak mencintai Violet."
"Ah....... Tapi kalau benar Arkan sudah tidak mencintai Violet, mengapa dia terus mencari tahu tentang Violet padaku," Julian berjalan pergi sambil bicara.
"Tunggu, Julian berhenti," pinta Mawar.
Julian terus berjalan tidak menggubris panggilan Mawar.
"Julian....... Tunggu dulu jangan pergi, Ah elah gue mau nanya dulu Julian," teriak Mawar.
Saat Arkan mendengar suara Mawar di luar ia segera keluar untuk memastikannya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Arkan panik.
"Arkan, kenapa? Tidak boleh?" tanya balik Mawar menatap Arkan.
"Bukan begitu, hari ini orang tuaku akan ke sini jadi kau pulang saja," Arkan mendorong Mawar keluar dari ambang pintu.
"Yah enggak bisa gitu aku baru sampai," tolak Mawar.
__ADS_1
"Maaf tapi kamu pulang yah, nanti aku temuin kamu di apartemen," Arkan masuk dan meninggalkan Mawar di sana.
"Dasar ih," umpat Mawar kesal.
Tiba-tiba ada orang yang merangkul Mawar, Mawar segera melihat orang yang merangkulnya, "Lu ngapain di sini?" tanya Mawar kaget, ia membulatkan matanya karena kaget.
"Biasa aja kali," pria itu adalah orang yang kemarin mengancam Mawar, ia bernama Andy.
Andy berdiri di hadapan Mawar dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Mawar, "Biasa saja jangan tegang," tambahnya mengejek.
"Ngapain di sini," Mawar menekankan setiap ucapannya.
"Gue? Oh kenalin yang ada di dalam ruangan ini adalah bos saya, karena saya karyawan baru di sini," ucapnya dengan angkuh sambil menunjuk pintu masuk.
"Awas jangan macam-macam yah lu," Mawar menunjuk wajah Andy dengan tatapan marah.
"Tenang, gue enggak bakalan macam-macam asal lu mau nurutin semua yang gue mau," balas Andy menurunkan tangan Mawar yang menunjuknya.
Kemudian Andy pergi dari sana ke tempat kerjanya, lalu Mawar pun pergi dari sana dengan keadaan emosi yang meluap-luap ia bahkan mengoceh tidak jelas di perjalanan sangking kesalnya.
"Violet gue enggak akan biarin lu ngambil apa yang kini udah jadi milik gue," ucapnya memukul setir mobil.
Sementara itu di rumah Julian mendatangi Violet untuk menanyakan sesuatu, sepulang dari kantor Arkan dirinya segera pergi ke rumahnya Violet.
"Masuklah," ucap Violet dengan nada lemas.
"Kau sakit lagi?" tanya Julian mengikuti Violet.
"Enggak, gue cuman belum pakai pelembab bibir aja makannya keliatan pucet," balasnya bohong.
Mereka duduk di ruangan tengah, "Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Violet.
"Lu ngasih tau Arkan kalau lu sakit?"
"Enggak sengaja, semalam gue mabuk dan mungkin pas mabuk gue ngomong tanpa sadar dan buat Arkan liat surat dari dokter."
"Lu jelasin semuanya?"
"Enggak, buat apa juga? Enggak bakalan ada gunanya."
"Tadi Arkan minta gue ke kantornya buat nanyain alasan kenapa lu enggak mau bilang tentang penyakit lu."
__ADS_1
"Terus ku ngomong apa?" Violet mendekatkan tubuhnya ke arah Julian karena penasaran.
"Tenang gue enggak jelasin semuanya kok sama dia," balas Julian mendorong tubuh Violet menjauh karena memang jaraknya terlalu dekat barusan.