
Besoknya Arkan dan Violet sudah bersiap pergi ke puncak untuk melihat vila, mereka berangkat berdua selama perjalanan Violet memainkan ponselnya seakan tidak mau memperdulikan Arkan.
"Gimana kabarnya selingkuhan lu?" tanya Arkan sinis tanpa menatap Violet.
"Bukan urusan lu," balas Violet tak kalah sinis.
"Oh.... Iya juga sih," Arkan memutar bola matanya malas.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di vila, setelah bertemu dengan pemilik Vila mereka langsung berkeliling mengecek ruangan di temani oleh tukang kebun di sana.
"Bagaimana vila nya cukup luas bukan?" tanya tukang kebun itu setelah berkeliling.
"Iya kayaknya sudah pas yang ini aja," balas Violet tersenyum, ia suka dengan tempat ini.
Violet berjalan ke arah pinggir halaman belakang rumah tersebut, "Di sini tempatnya indah juga," Lagi-lagi ia tersenyum sambil menghirup udara di sana yang segar.
Tanpa sadar Arkan sedari tadi terus menatap Violet. Violet berbalik ke arah Arkan, "Bagaimana? Udah pas kan?" tanyanya.
Arkan tersadar dari lamunannya dan segera memalingkan tatapannya, "Benar," ucapnya sedikit gugup.
Violet berlari kecil menghampiri Arkan, "Baiklah pak kami akan menyewa tempat ini, ini sebagai uang sewanya," Violet tanpa ragu memberikan yang sewanya pada penjaga kebun itu.
Arkan memegang tangannya, "Uang lu?" tanyanya.
Violet menganggukkan kepalanya, "Yah, enggak papah uang gue banyak, yuk pulang," Violet menarik Arkan agar segera pergi dari sana karena sejujurnya ia lapar sekarang.
Tukang kebun itu segera pergi ke rumah pemilik vila untuk memberikan uangnya.
"Makan dulu yuk lapar," ajak Violet saat dalam mobil.
"Okey," mereka berhenti di sebuah tempat makan yang ada di pinggiran jalan.
Mereka memesan beberapa makanan juga minumannya, saat makanan itu datang Violet segera memakannya dengan lahap. Sementara Arkan malah terdiam memandangi Violet yang sedang makan.
"Mengapa dia tidak pernah berubah?" gumamnya dalam hati Arkan, ia teringat dulu bagaimana ia sering makan bersama Violet.
"Makan jangan di liatin doang, makanan enggak bakalan buat lu kenyang kalau cuman di liatin doang," Violet memukul Arkan sambil terus melanjutkan makannya.
Arkan barulah mulai makan, selesai makan mereka beristirahat dulu di sana hanya untuk melepas lelah mereka berkeliling di vila tadi. Violet tersenyum saat melihat pemandangan jalan yang tenang, "Ah..... Rasanya aku ingin tinggal di sini," gumamnya tanpa sadar.
__ADS_1
"Apa?" tanya Arkan menatap Violet.
"Ah..... Lupakan gue enggak bicara sama lu," balas Violet sembari mengibaskan tangannya.
"Pulang yuk ngantuk," ajak Violet sembari menguap.
"Kebiasaan abis makan tidur."
"Masi inget aja lu sama kebiasaan gue dulu."
"Gimana bisa lupa sedangkan hati gue-" Arkan tidak melanjutkan ucapannya, ia malah terdiam saat Violet juga menatapnya.
"Hati lu kenapa?" tanya Violet menaikan satu alisnya.
"Lupain," Arkan bangun dan mengajak Violet untuk segera pulang.
Sementara itu di tempat lain Mawar bertemu dengan sahabat lamanya saat dulu di SMA mereka bertemu untuk membahas tentang acara reuni mereka yang akan di adakan beberapa hari lagi.
"Lu masih sama Arkan?" tanya teman lamanya itu yang bernama Ana.
"Yah, gue masih sama dia," balas Mawar tanpa rasa bersalah.
"Ya karena kita saling cinta, makannya gue sama Arkan tetap jalanin hubungan kita walaupun Arkan udah punya istri."
"Lu harusnya nyerah aja, sekuat apapun lu perjuangin Arkan bukan milik lu."
"Apaan sih Na? Lu ngapain jadi ceramahin gue sih?" Mawar menatap Ana dengan tatapan marah.
"Gue cuman enggak mau lu terluka dengan harapan lu sendiri," jelas Ana.
"Gue enggak bakalan terluka kok, gue yakin Arkan sayang sama gue dan enggak bakalan ninggalin gue," Mawar tidak Terima dengan ucapan Ana.
Ana memalingkan tatapannya dari Mawar, "Untuk seorang pria melupakan cinta pertama itu bukanlah satu hal yang mudah, lu enggak sadar kalau selama ini Arkan cuman jadiin lu pelampiasan doang?"
"Enggak selamanya masa lalu akan menang."
"Oke fine, kalau emang dulu Violet ninggalin Arkan karena selingkuh mungkin yah Arkan enggak akan pernah cinta lagi sama Violet walaupun sebenarnya hatinya menginginkan dia. Tapi gimana kalau Arkan tau sebenarnya dulu lu yang jebak Violet."
Mawar bangun dan menunjuk Ana dengan telunjuknya, "Gue enggak bakalan biarin Arkan tau semua itu," bentaknya kesal.
__ADS_1
"Gue cuman enggak mau lu terluka, cari yang lain. Masih banyak kok orang yang sayang sama lu di dunia ini."
"Lu pikir buka hati buat yang lain itu gampang?"
"Ya gue tau susah, tapi coba aja."
"Enggak, Arkan tetep bakalan milih gue apapun yang terjadi."
"Lu enggak liat tatapan Arkan saat liat lu dan saat liat Violet gimana? Beda Mawar, gue yakin tanpa lu kasih tau apa yang terjadi di masa lalu Arkan pasti akan tetep pilih Violet."
"Lu tau darimana tatapan Arkan beda?"
"Gue pernah liat Arkan saat sama Violet, gue juga pernah liat Arkan pas jalan sama lu."
"Ah lu bikin gue pusing aja," Karena kesal Mawar memutuskan untuk pergi saja dari sana, takut amarahnya semakin memuncak walaupun hati kecilnya memang membenarkan semua ucapan Ana.
Ana terdiam di kursinya sambil menegang keningnya yang terasa pusing, niat sejujurnya ia memang baik. Ia hanya tidak mau Mawar terus membohongi dirinya sendiri dan mengharapkan Arkan yang sejujurnya tidak mencintainya sama sekali.
Mawar menangis saat sampai di mobilnya, ia sebenarnya ingin sekali bertanya pada Arkan apa arti dirinya untuk Arkan. Namun ia takut mendengar kenyataan yang pasti akan membuatnya sakit itu, Mawar sejujurnya tidak bodoh dan tau betul apa maksud Arkan pada dirinya selama ini, tidak lain hanya sebagai pemuas nafsunya saja.
Sakit tapi Mawar tidak mau melepaskan Arkan, ibarat bersamanya sakit tapi akan lebih sakit jika tidak bersamanya. Untuk menenangkan diri Mawar memilih menangis sejadi-jadinya dalam mobil menahan rasa sesaknya sendirian.
Kembali ke Arkan, mereka masih bersantai di kafe itu, Violet menatap ke arah Arkan, "Gue mau nanya boleh kan?" tanya Violet.
"Tanya aja."
"Lu suka sama Mawar? Cinta sama dia?" tanyanya.
Arkan kaget bagaimana bisa Violet bertanya hal itu, "Ngapain nanyain itu?"
"Ya jawab aja kalau mau jawab, tapi kalau enggak juga enggak usah, enggak maksa."
"Gue suka sama Mawar, gue cinta sama Mawar? Kenapa cemburu?"
"Dih," Violet memalingkan tatapannya sambil menjauh, "Enak aja, baguslah kalau gitu berarti lu udah beneran enggak ada rasa sama gue."
"Yah ngapain juga lagian masih suka sama lu, enggak akan pernah gue suka lagi sama orang yang udah selingkuhin gue gitu aja."
"Ya udah bagus berarti kalau lu enggak suka gue, awas aja lu kalau pura-pura suka sama Mawar," Violet menatap tajam Arkan.
__ADS_1
"Ah udah pulang yuk," Violet bangun dan mengajak Arkan pulang.