Menikahi Mantan

Menikahi Mantan
Aku ingin melihatmu bahagia


__ADS_3

Pagi berikutnya Violet sudah di izinkan pulang, Violet pulang ke rumah orang tuanya di bantu kedua orang tuanya, Julian dan juga Arkan yang sedari kemarin dengan setia menunggu nya.


Ia sangat merasa bersalah dengan hal ini, karena kalau sore itu ia tidak marah dan memarahi Violet kemungkinan Violet masih akan baik-baik saja.


Violet masuk ke kamarnya di bantu ibunya, Arkan sedang bicara dengan ayahnya Violet. Ia kekeh ingin ikut tinggal di sini padahal Violet tidak ingin melihat Arkan lagi untuk sementara waktu, Violet sedang bicara dengan ibunya dan juga Julian.


"Ma, aku hanya tidak ingin membuat Arkan semakin menderita saat aku nanti sembuh," ujar Violet menggenggam tangan ibunya dengan erat.


"Papa mu sedang bicara dengannya, semoga saja dia pulang," balas ibunya mengelus rambut Violet dengan lembut.


"Aku tidak ingin dia menangisi kepergian ku," tambah Violet.


"Cukup, enggak usah berburuk sangka, gue yakin lu pasti sembuh," tegas Julian tidak ingin mendengar Violet berbicara ngasal.


Violet dan ibunya langsung menatap ke arah Julian, Ibunya Violet mengelus lengannya Julian sambil mengedipkan matanya, "Sudah jangan buat keributan," ucapnya yang tau bahwa Violet tidak akan Terima dengan ucapan Julian barusan.


Sementara itu di luar Arkan mengalah, ia memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan kembali menjalankan aktivitas biasanya. Karena menurutnya Violet memang tidak akan pernah menginginkannya kembali jadi lebih baik ia pergi demi semua kebaikan Violet.


Beberapa hari berlalu dengan rasa sepi menyelimuti hidup Arkan yang kini harus tinggal sendiri di rumahnya, pagi ini ia harus kerja ke kantor dengan pikiran yang terus memikirkan Violet. Ia tidak ingin mengunjungi Violet kembali karena tidak mau menggangu Violet walaupun sejujurnya ia ingin sekali ada di samping wanita itu.


Arkan sampai di kantornya, di sana ternyata sudah ada Mawar yang menunggu Arkan, "Kamu kemana aja sih?" tanya Mawar kesal sambil menghampiri Arkan.


"Cukup, aku sedang tidak ingin ribut," Arkan duduk di kursinya sambil memijat-mijat kening.


"Arkan dengerin aku dulu," Mawar duduk di hadapan kursi Arkan.


"Apa?" tanya Arkan malas sambil menatap tajam Mawar.

__ADS_1


"Kamu kemana aja? Kenapa enggak jenguk aku ke rumah setelah kejadian kemarin? Kamu tau kan aku masih sakit, kamu juga kemana aku hubungin enggak kamu angkat-angkat?" tanya Mawar.


"Harus banget yah kamu tau semuanya?" tanya balik Arkan mulai kesal.


"Apa?" Mawar membulatkan matanya kaget sembari menjauhkan tubuhnya dari Arkan, "Aku kan pacar kamu, yah harus tau lah pacarnya kemana saat aku enggak bisa hubungin kamu."


"Kamu mending pulang deh, jangan buat aku kasar sama kamu," titah Arkan sembari menunjuk pintu keluar.


"Oh kamu ngusir aku sekarang?"


"KELUAR."


"Enggak."


Arkan menarik tangan Mawar dan menyeretnya keluar, ia mendorong Mawar saat di pintu keluar.


"Udah berani yah sekarang," marah Mawar.


"Kalau lu masuk lagi gue enggak akan segan-segan panggil security buat usir lu," tambah Arkan dari balik kamar.


"Dasar bajingan," Violet menghentak kakinya beberapa kali di lantai karena kesal, kemudian setelah itu ia memutuskan untuk pulang karena tidak mungkin bicara dengan Arkan yang sudah marah.


"Setelah apa yang gue lakuin sama dia, bisa-bisanya dia tetep memperlakukan gue kayak gini dasar," tambahnya makin kesal.


Mawar mengatur nafasnya agar ia sedikit tenang, "Tenang Mawar, Arkan akan tetep jadi milik lu karena umur Violet tinggal sebentar lagi jadi lu enggak perlu khawatir. Untuk sekarang biarkan aja Arkan sesuka dia," Violet pergi dari depan ruangan Arkan.


Sementara itu di rumah Violet ia sedang sarapan di temani Julian yang selalu ada menjaga Violet di sana, "Pulang aja, kalau lu di sini terus gimana kerjaan lu," ujar Violet dengan lemah.

__ADS_1


"Enggak, gue enggak bakalan ninggalin lu," tegas Julian menyuapi Violet makan.


"Udah kenyang," Violet menjauhkan sendok dari mulutnya.


"Harus makan, nanti lu makin enggak punya tenaga gimana?" Julian terus mencoba menyuapi Violet.


"Ya udah satu kali lagi," Violet membuka mulutnya dengan perlahan.


Violet terlihat kehilangan semangatnya, setiap hari Violet hanya berdiam di kamar sembari memainkan ponselnya. Julian sejujurnya tau apa yang ada di pikiran Violet, Violet saat ini membutuhkan Arkan. Hanya Arkan yang membuat Violet bersemangat.


"Gue pergi dulu," Julian bangun sambil membawa nampan makanan.


Julian ingin menemui Arkan dan bicara baik-baik padanya, sulit namun inilah satu-satunya cara melihat Violet kembali tersenyum dan punya semangat hidup. Karena titik tertinggi mencintai seseorang adalah ketika kita mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya.


Memaksakan orang yang kita cintai mencintai kita malah akan membuat cinta itu tidak lagi murni, karena pada dasarnya saat kita mencintai seseorang kita harus juga menanggung banyak rasa sakit.


Julian sudah ada di dalam mobilnya ia akan pergi menemui Arkan di kantornya untuk membongkar semua hal yang terjadi di masa lalu dan keadaan hati Violet saat ini.


"Aku tidak lagi tega melihatmu menderita seperti ini, maaf karena sudah mengkhianati mu tapi ini semua demi kebaikan mu juga," gumamnya dalam hati.


Akan sakit saat melihat orang yang kita cintai bahagia dengan yang lain, namun akan jauh lebih sakit saat kita tidak bisa membuat orang yang kita cintai bahagia saat bersama kita itulah yang kini ada di pikiran Julian sekarang.


Sayangnya saat di perjalanan ban mobil depan Julian kempes ia harus mengompanya terlebih dahulu, sedangkan di kantor Arkan hendak pergi miting karena ada investor luar negeri yang akan menginvestasikan uangnya di perusahaan Arkan dengan jumlah yang banyak.


Untuk itu Arkan harus profesional dan terus kerja, Arkan bersama beberapa asistennya pergi ke ruangan miting, tamu sudah menunggu di ruangan itu beberapa menit yang lalu.


Rapat mereka berjalan dengan cukup lancar, investor itu setuju untuk menginvestasikan uangnya di sini Arkan senang dengan hal itu. Arkan cukup profesional dalam hal pekerjaan, apapun yang ia permasalahkan ia akan tetap bekerja sesuai pekerjaannya dengan benar.

__ADS_1


Ayahnya Arkan datang ke kantor, sementara di luar Julian sudah ada di kantor Arkan ingin segera menemui Arkan namun sayang resepsionis di kantor itu melarang Julian untuk bertemu bos mereka karena masih ada urusan penting yang bos mereka kerjakan.


Apalagi mengingat Julian yang tidak punya jadwal bertemu, Julian memilih untuk menunggu di ruangan tunggu sampai Arkan selesai kerja. Julian tidak mau menunggu hari lain lagi karena sudah kasihan dengan kondisi Violet saat ini.


__ADS_2