MENJADI PANGERAN?

MENJADI PANGERAN?
HUKUMAN


__ADS_3

"Nah para warga tercinta pasti kalian tau apa maksudku mengumpulkan kalian, aku akan menghukum wanita yang sudah melecehkan nama keluarga kerajaan dan hampri membunuhku. " Ucap ku tersenyum.


"Hahah.... Bukan kah kau cocok untuk itu. " Tawa salah satu warga.


"Betul kau bahkan gak pantas untuk memimpin kamai kelak. "


"Cocok kan putri Marina yang menyandang gelar Pangeran bukan kau. " Pria yang aku tebak sebagai bangsawan pendukung adik tercintaku..


" Marquis Desire tunjukkan hormat mu. " Desi Carl di samping ku.


"Tak akan, dia adalah aib untuk kerajaan ini... Yang kalian hukum adalah anak dari Baron Jati... " Cemooh Marquis Desire..


"A.. " Saat Ronald ingin mengucap kan sesuatu aku sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Terus apa hubungan nya? " Desis ku dingin membuat para penduduk dan bangsawan yang hadir kaget.


"Aku adalah pedagang terkemuka di kerajaan dan aku dapat membuat mu masuk kedalam sidang bangsawan... "


"Oh tentu kita liat siapa yang akan hancur hari ini. " Ucap ku menantang " Jovial!! "


Aku mengangkat tangan ku meminta pesanan ku, Jovial memberikan ku sebuah buku berwarna putih dengan sampul hitam pekat tebal...


"Nah mari kita liat.... Barang selundupan dari negara tetangga, meminta pajak yang tak sesuai dengan penduduk, menjual wanita untuk di jadikan *******, menculik anak kecil untuk budak para pedo dan masi banyak lagi...."


Aku melihat Marquis Desire dan Baron Jati yang membatu, ini sangat menarik... Dan aku dengan ajaibnya aku dapat merasakan punggungku yang sudah kembali pulih


100 %...


"Jovial kerja bagus.... " Ucap ku memuji " Nah. " Aku kembali menyerahkan buku tebal itu kembali ke Jovial.


"Pangeran kau janji akan menjawab pertanyaan ku sebelum nya... "


"Baiklah, apa kah kau gak aneh dengan seorang Baron yang memiliki kekuatan berdagang melebihi mu?" Ucap ku.

__ADS_1


"Iya tapi aku pernah menyelidikinya dan tak ada yang aneh. "


"Dan begitu kau selidiki lagi informasi yang kau dapatkan berbeda. " Jovial mengangguk "Kan berati ada seseorang yang dibayar oleh Baron Jati untuk memanipulasi informasi itu, dan tentu saja dia merupakan anak buah kepercayaan mu... "


"Tidak mungkin. " Ucap Jovial tak percaya.


"Carl? " Tanya ku.


"Tentu saja sayang. "


Ctak....


Carl menjentikkan jarinya, tak butuh lama ada 2 orang pria berbaju hitam membawa seorang pria dengan wajah babak belur dan tubuh yang si selimuti banyak bekas cambukan yang banyak di kulitnya...


"Kau, beraninya kau menghianati ku. " Bentak Jovial kalap.


"Karna Baron Jati dan Marquis desire memberikan ku uang yang cukup untuk ku bertahan seumur hidup tanpa bekerja. "


"Nah, sebaiknya kalian menyerahkan diri sekarang jika gak mau aku berbuat sesuatu kepada kalian. " Ucap ku sambil tersenyum.


"Terakhir kali aku melihat dia tersenyum, Carl dilempar dengan indahnya. " Ucap Ronald.


"Tidak, kau tidak ada hak untuk menghukum ku..... " Bentak Marquis.


"Betul itu hanya bukti tak terbukti. " Lanjut Baron Jati membela..


"Betul tak mungkin itu. " Para rakyat membela Marquis dan Baron Jati hingga mereka berdua dapat tersenyum lebar.


"Kau harus turun tahta karna sudah memfitnah kami. " Ucap Marquis.


"Hoam.... " Aku sangatlah malas membalas ucapan yang membuat mereka akan kena amukan dari para petinggi istana yang sedang berada di dekatku...


"Kau dasar tak sopan. " Ucap Baron jati.

__ADS_1


"Jadi dengan kata lain kalain mengatakan bahwa mereka" Tunujukku pada ke 7 pria penting istana ini " Memalsukan bukti dan berbohong. "


Marquis Desire dan Baron Jati terdiam dengan keringat sebesar biji jagung yang keluar dari jidat nya...


Aku melihat Jovial, Ronald, dan Carl yang akan menerjang Marquis Desire dan Baron Jati kapan saja karna sedah menganggap bukti yang mereka bawa adalah palsu.... Namun aku memberikan aba aba agar mereka menahan diri...


Aku mengangkat tangan ku kedepan dan berucap " Datang lah. " Aku memanggil sebuah pedang dengan bilah besi berwarna hitam pekat dengan gagang yang berwarna senada, dengan sebuah cristal berwarna biru di setiap ujung pegangan, dan di dekat antara bilah dan gagang pedang...


Ting....


Aku menancapkan pedang itu ke lantai di antara kedua kaki ku, pedang itu seperti menusuk sebuah pelindung tak kasat mata hingga dia hanya melayang berapa mili sebelum menusuk lantai pijakan ku.


"Itu, bagai mana bisa... Itu pedang milik penyihir agung." Ucap Walker.


Aku hanya tersenyum, satu tangan yang bebas aku lambaikan di udara..... Hingga di atas belakang ku banyak bilah es mengkilap tajam yang siap menukik dan menembus siapa saja yang berada didepan ku kapan saja sesuai perintah ku......


"Nah, jadi sejak kapan aku tidak memiliki otoritas untuk menghukum kalian berdua, bahkan aku dapat menghukum kalian yang tak bisa menjaga mulut setajam pedang kalian. " Ucap ku deingin...


"Edward.. " Panggil ku.


Edward yang sedari tadi hanya berdiri tanpa ekspresi mendekati ku dengan raut wajah kaget, "Nah, bagai mana menurutmu?"


Aku memerhatikan Edward dengan ujung mataku, dia nampak tersentak ketika aku menanyai nya.


"Mereka pantas dihukum atas perbuatan nya dan Pangeran bisa membuat keputusan untuk mereka semua. " Ucapan Edwars selaku penasehat kerajaan bagai sambaran petir di siang bolong bagi mereka semua yang sejak dari tadi kerjaan nya hanya merendahkan ku saja...


"Ampunni kami pangeran. " Ucap salah satu rakyat.


"Kami hanya rakyat biasa tak berakal. " Lanjut rakyat yang lain.


"Mohon ampuni kami. " Tambah salah satu bangsawan rendah...


Hemmm.... aku pikir pikir dulu πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2