
Yuan dalam posisi setengah sadar ketika merasakan puncak kepalanya diusap lembut oleh Andri. Merasakan sentuhan penuh cinta dari sang suami untuk pertama kali membuat kesadaran Yuan kembali sepenuhnya. Hati Yuan pun berbunga-bunga, terlebih ketika dia mendengar penyesalan Andri yang terdengar tulus.
Yuan tidak mampu lagi menahan hatinya yang bersorak gembira. Dia tidak menyangka ketulusannya kepada Andri berbuah manis. Perlahan Yuan mengangkat wajah, kemudian menatap wajah sang suami yang kini sedang berpura-pura tidur.
Istri dari Andri itu terkekeh saat melihat sikap sang suami yang terlihat lucu. Yuan bertopang dagu seraya menatap lembut sang suami. Andri pun mengintip Yuan yang tersenyum lembut melalui matanya yang sedikit terbuka.
"Bangunlah, Mas! Aku sudah mendengar semuanya!" Yuan tersenyum lebar sembari mencubit ujung hidung sang suami.
Wajah Andri langsung pias. Lelaki itu akhirnya membuka matanya. Wajah cantik Yuan kini tertangkap oleh penglihatan Andri.
Kali ini jantung Andri berdegup begitu kencang ketika menatap Yuan. Andri baru menyadari kalau istrinya itu benar-benar perempuan yang sangat manis dan cantik. Ke mana saja dia selama ini?
Andri hanya menutup hati dan pikirannya dengan kebencian, sampai-sampai dia tidak menyadari kecantikan sang istri. Andri yang malu karena kepergok berpura-pura tertidur pun akhirnya mengusap tengkuk kikuk.
"Mas, tolong beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta. Kamu hanya perlu membuka saja sedikit pintu hatimu untukku," pinta Yuan.
Andri mengangguk sambil mengangkat lengan, kemudian mendaratkan telapak tangannya ke pipi Yuan. Yuan yang menerima sentuhan lembut dari sang suami pun memejamkan mata. Dia menikmati setiap usapan penuh kasih yang diberikan Andri melalui ujung jemarinya.
"Yuan, maafkan aku." Suara Andri terdengar begitu tulus di telinga Yuan.
Yuan perlahan membuka mata. Dia menatap manik mata sang suami yang memancarkan ketulusan. Sontak Yuan pun mengangguk.
Sebelum Andri meminta maaf, sebebarnya Yuan sudah memaafkan lelaki yang dia cintai itu. Keyakinan Yuan hanya satu. Dia yakin suatu saat nanti kesabaran serta ketulusannya berbuah manis.
Semua itu terbukti ketika pernikahan keduanya menginjak bulan kedua. Justru Yuan tidak menyangka kesabarannya membuahkan hasil lebih cepat. Yuan memeluk tubuh sang suami tanpa rasa canggung.
"Mas, terima kasih sudah mau membuka hatimu untukku."
__ADS_1
"Hal itu aku lakukan karena cinta dan ketulusanmu berhasil mengetuk ...." Andri menghentikan ucapannya, lalu tersenyum tipis.
Lelaki tersebut menyelipkan anak rambut Yuan ke belakang telinganya. Andri perlahan menarik lengan sang istri, sehingga kini Yuan ikut naik ke atas brankar. Napas mereka saling menyapu wajah satu sama lain.
"Yuan, aku mencintaimu."
Kalimat yang baru saja keluar dari bibir Andri berhasil mengobrak-abrik hati Yuan. Jantung Yuan berdegup semakin kencang. Wajahnya pun mulai terasa panas sehingga menimbulkan rona merah pada pipi Yuan.
"Apa kamu sakit?" tanya Andri sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Yuan.
Namun, Yuan menepisnya dan justru menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan. Andri yang gemas pun mengacak rambut sang istri. Yuan mengerucutkan bibir seraya menatap sinis lelaki pujaannya itu.
"Apa kamu malu?" goda Andri.
Andri diam-diam mencium pipi sang istri. Yuan pun kembali tersipu seraya memukul manja dada bidang Andri. Lelaki tersebut pun terkekeh.
Sebuah kecupan lembut dari Andri mendarat di bibir Yuan. Kecupan itu perlahan menjadi sebuah ciuman. Tidak ada yang saling menuntut. Keduanya menunjukkan sebuah kasih sayang yang tulus.
"Bagaimana keadaan ...."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Yuan melepaskan ciumannya dan langsung turun dari ranjang. Dia kemudian duduk di tempat semula. Yuan merutuki kebodohannya karena sudah tidak tahu tempat ketika bermesraan dengan sang suami.
Drini yang tanpa sengaja memergoki aktivitas mesra Yuan dan Andri pun hanya bisa melongo di ambang pintu, sementara Andri berdeham beberapa kali seraya memalingkan wajah ke arah jendela untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Ah, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat!" seru Drini dengan suara terbata-bata.
Suasana mendadak hening dan canggung. Yuan yang masih malu dengan kelakuannya sendiri pun menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. Andri perlahan kembali memalingkan wajah untuk mengubah arah pandangan.
__ADS_1
Kini Andri menatap sang ibu dengan bibir komat-kamit. Drini awalnya mengerutkan dahi karena tidak paham dengan apa yang diucapkan sang suami. Namun, ketika Andri mulai menggerakkan tangan barulah Drini paham.
Andri meminta Drini untuk keluar dari kamar dan berpura-pura tidak melihat apa pun. Drini tersenyum lebar seraya mengacungkan kedua jempolnya. Setelah itu, perempuan tersebut berjalan mundur selangkah, membuka pintu, dan keluar dari ruangan tersebut.
"Aku malu!" seru Yuan seraya merengek seperti anak kecil ketika pintu kembali tertutup.
"Nggak apa-apa, kita wajar saja bermesraan. Kita kan suami istri? Hanya ibu saja yang mendadak datang tanpa permisi dan mengetuk pintu!" Andri mengusap puncak kepala sang istri sehingga Yuan kembali menatapnya.
Andri pun kembali menarik lengan sang istri dan tubuh ramping Yuan kembali mendarat di pelukan Andri. Lelaki tersebut mengecup puncak kepala Yuan penuh cinta. Hal itu membuat hati Yuan menghangat, sehingga air mata bahagia meleleh membasahi pipi.
"Aku berjanji mulai sekarang akan terus membuatmu tersenyum, Sayang," ucap Andri dalam hati.
Setelah mendapatkan transfusi darah sebanyak dua kantong, kondisi Andri membaik. Dokter mengatakan bahwa penyebab Andri anemia adalah sumsum tulangnya tidak mampu menghasilkan sel darah merah yang cukup. Sementara waktu dokter menyarankan Andri untuk mengecek kadar hemoglobin secara rutin.
Andri juga diberikan obat antibiotik dan anti virus. Jika tidak membantu, Andri harus melakukan transfusi darah secara rutin. Jika semua tindakan medis tersebut tidak berhasil membuat jumlah sel darah merah stabil, maka dokter akan mengambil tindakan transplantasi sel punca.
"Sudah siap?" tanya Yuan ketika selesai mengemasi pakaian Andri ke dalam tas.
Andri yang awalnya duduk di atas kursi roda seraya menatap langit Surabaya melalui kaca lebar di depannya pun menoleh. Lelaki tersebut tersenyum lebar sembari mengangguk mantap. Yuan pun menjinjing tas berukuran sedang itu kemudian mendekat ke arah sang suami.
"Sini, biar aku bantu!" Andri mengulurkan tangan untuk mengambil alih tas yang dibawa istrinya.
Yuan pun menerima tawaran bantuan dari Andri. Dia tidak mau sang suami merasa tidak berguna karena menolak keinginan lelaki tersebut. Andri tersenyum lebar, lalu memangku tas tersebut.
Yuan mendorong kursi keluar dari kamar. Sepanjang koridor rumah sakit, semua orang yang bekerja di sana mengangguk hormat kepada Yuan dan Andri. Mereka pun membalas sapaan semua pegawai dengan senyum ramah.
Ketika mereka sampai di depan lift, kebetulan pintunya terbuka, senyum keduanya mendadak hilang. Seorang perempuan yang ada di dalam lift menatap sinis mereka seraya bersedekap. Jelas terpancar tatapan tidak suka darinya.
__ADS_1