
Yuan mengerutkan dahi ketika melihat tatapan tajam dari sang kakak. Nesha bersedekap, lalu tersenyum miring. Dia mundur selangkah, kemudian mengembuskan napas kasar.
"Mana amplopnya?" tanya Nesha seraya mengulurkan tangan.
Yuan tertegun seketika. Dia semakin sebal melihat tingkah sang kakak. Akhirnya sebuah ide jahil pun muncul di kepala Yuan.
"Aduh, ya ampun! Kayaknya aku lupa nggak bawa amplop, Mbak! Satu juta cukup nggak, Mbak, buat bantu bayar katering?" tanya Yuan sambil berpura-pura bodoh.
"Pelit banget, sih, sama kakak sendiri? Satu juta buat bayar jasa periaskh aja kurang, Say!" seru Nesha sambil terkekeh.
"Lagian, kamu kan dapet orang tajir melintir? Aku rasa 10 juta adalah uang yang kecil bagimu? Yah, itung-itung buat bantu bayar katering makananku!"
Ternyata percakapan mereka didengar oleh Andri. Lelaki itu mengepalkan jemari kuat-kuat, lalu memukul hendel kursi rodanya. Rahangnya pun mengeras sempurna.
Andri tidak suka istrinya diremehkan. Akhirnya dia memutar roda mendekati Yuan dan Nesha yang tampak saling beradu tatapan. Saat sampai tepat di samping sang istri, Andri merogoh saku kemejanya.
Lelaki tersebut mengeluarkan ponsel, lalu membuka aplikasi perbankan. Dia mulai mengetikkan sejumlah nominal ke dalam ponsel itu. Tak lama kemudian, Andri menyerahkan ponselnya kepada Nesha.
"Hafal nomor rekeningmu, nggak, Mbak? Aku akan transfer uang SUMBANGAN untuk Mbak Nesha." Andri sengaja mengeraskan suara agar semua tamu undangan menoleh ke arahnya.
Nesha pun akhirnya mengedarkan pandangan seraya menarik ujung bibirnya yang kaku. Dia tertawa canggung seraya mengangguk ke arah semua undangan tamu.
"Kami hanya bercanda, silakan dilanjut lagi!" seru Nesha sambil tersenyum lebar.
"Oh, jadi Mbak Nesha cuma bercanda sewaktu meminta SUMBANGAN kepada Yuan?" Andri kembali meninggikan suaranya.
"Kamu bisa nggak, bicara pelan-pelan saja?" Kini gigi Nesha terkatup rapat karena menahan emosi yang semakin memuncak.
"Jadi nggak minta SUMBANGANNYA? 20 juta cukup, 'kan? Hitung-hitung buat nambahin uang pelangkah kami dulu!"
Bukan Andri namanya kalau menuruti Nesha untuk berbicara pelan. Lelaki tersebut tetap mengeraskan suara ketika berbicara dengan sang kakak ipar.
__ADS_1
Mendengar nominal uang yang lumayan besar membuat mata Nesha seakan menghijau. Tanpa pikir panjang dia menyambar ponsel Andri. Nesha langsung mengetikkan nomor rekening yang sudah dia hafal di luar kepala.
Apa itu rasa malu? Bagi Nesha uang adalah hal terpenting dalam hidupnya. Sudah tidak ada Nesha yang cemberut dan bersungut-sungut.
Setelah selesai mentransferkan uang ke rekening Nesha, Andri menunjukkan layar ponselnya kepada sang kakak tiri. Nesha tersenyum lebar, tetapi tidak ada ucapan terima kasih sedikit pun yang keluar dari bibir perempuan itu.
"Ayo, kita pulang, Yuan! Aku sudah tidak nyaman berada di sini!" ajak Andri sembari menatap tajam Nesha dan suaminya yang sejak tadi hanya diam.
Yuan pun mengikuti ucapan sang suami. Tidak ada penolakan. Keduanya pun berpamitan kepada orang tua mereka dengan alasan Yuan tidak enak badan.
Nesha menatap Andri dan Yuan seraya tersenyum tipis. Sang suami yang ada di sampingnya hanya bisa menggeleng. Indra tidak berani menegur sang istri karena memang Nesha lebih dominan jika dibandingkan dengannya.
"Lumayan, bisa buat liburan ke Bali, Mas!" seru Nesha sembari menatap layar ponsel yang menunjukkan saldo rekeningnya.
Indra hanya bisa diam. Dia tidak suka dengan sikap sang istri, tetapi tidak mampu memperingatkannya. Hal itu terjadi karena setiap Indra berusaha menegur sang istri ketika salah, Nesha akan lebih cerewet dan berakhir dengan adu mulut.
Sepanjang perjalanan pulang Yuan merasa tidak enak hati kepada Andri. Dia merasa malu dengan sikap Nesha. Bagaimanapun juga, Nesha adalah kakaknya.
"Nggak usah dipikirkan. Aku nggak keberatan memberikan uang itu kepada Mbak Nesha. Tapi ...." Andri memutar tubuh sehingga kini berhadapan dengan Yuan.
"Memangnya benar kalau amplopmu ketinggalan? Seingatku tadi kamu sudah memasukkannya ke dalam tas." Andri mengerutkan dahi ketika menggali ingatannya mengenai amplop yang sudah dipersiapkan Yuan sebelumnya.
Yuan menggeleng. Dia tersenyum lembut, lalu merogoh tasnya. Perempuan itu mengeluarkan amplop coklat yang tampak tebal.
"Sebenarnya nggak lupa, Mas. Aku sudah menyiapkan uang untuk Mbak Nesha. Bahkan aku berencana membelikan perhiasan untuk hadiah pernikahannya. Tapi, Mas Andri lihat sendiri kan bagaimana sikap Mbak Nesha? Aku jadi mengurungkan semua niat baikku. Mending uang sama perhiasannya aku kasih ke ibu." Yuan tersenyum kecut dengan tatapan sendu.
"Maafin sikap mbakku, ya, Mas? Mungkin lain kali aku akan menghindari bertemu dengannya. Aku harus tetap menjaga kewarasan. Aku nggak mau emosi karena hal nggak penting begini."
Andri membelai rambut panjang Yuan yang dibiarkan tergerai. Belai lembut itu berakhir di bibir Yuan. Anggota tubuh perempuan itu benar-benar menggoda iman Andri.
Andri mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Yuan hampir saja terlena. Sedetik kemudian, terdengar deham dari sopir taksi online.
__ADS_1
"Kita hampir sampai, Mbak, Mas."
Sontak Yuan mendorong tubuh sang suami. Andri berdeham seraya menyugar rambutnya. Yuan pun tersenyum canggung ke arah sang sopir melalui kaca spion.
"I-iya, Pak. Makasih sudah diingatkan."
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah. Suasana rumah masih sepi. Riana dan Burhan entah ke mana.
Ketika sampai di ruang tengah, tiba-tiba Andri menarik lengan Yuan. Kini tubuh ramping perempuan itu mendarat di pangkuan lelaki tersebut.
Tatapan keduanya beradu. Suasana berubah sendu karena temaram lampu ruang tengah yang remang-remang. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Andri langsung mendaratkan ciuman ke bibir Yuan.
"Mas, pindah, yuk! Nggak enak kalau tiba-tiba pada pulang." Yuan melepaskan ciuman kemudian turun dari pangkuan Andri.
Mereka berdua pun melanjutkan ciuman panas itu di atas ranjang. Berakhir dengan pergulatan penuh cinta, sehingga menimbulkan suara-suara yang membangkitkan gairah siapa pun yang mendengarnya.
Keesokan harinya, Yuan terbangun di dalam pelukan Andri. Dia menatap suami kesayangannya itu penuh cinta. Yuan memainkan jemari di atas dada bidang sang suami yang tidak tertutup sehelai benang pun.
"Pasti pas masih normal, kamu hobi olah raga, Mas. Badanmu bagus dan staminamu ...." Ucapan Yuan menggantung di udara.
Mendadak wajah Yuan pias karena teringat bagaimana ganasnya sang suami ketika berada di atas ranjang. Dia sampai kewalahan karena mengimbangi gairah Andri. Meski bercinta dengan posisi yang sama, Andri selalu berhasil memberikan sensasi dan pengalaman berbeda untuk Yuan.
"Aduh, pagi-pagi pikiranku dah kotor gini!" Yuan menggerakkan tangan di atas kepala berharap pikiran kotornya menghilang.
Perlahan Yuan melepaskan pelukan Andri secara perlahan agar tidak membangunkan suaminya itu. Dia berjalan ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri. Ketika baru mengguyur rambut dengan air melalui shower, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
Yuan tersenyum tipis karena mengira yang masuk ke kamar mandinya adalah Andri. Namun, sedetik kemudian dia terbelalak saat membalikkan badan. Yuan langsung menyambar handuk yang menggantung di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"Ngapain kamu masuk ke sini, Mas!" teriak Yuan dengan suara gemetar.
__ADS_1