Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 40. Musuh Kecil


__ADS_3

Begitu pintu kamar mandi terbuka lebar, Rian dapat melihat dengan jelas apa yang ada di ruangan tersebut. Yuan tidak ada di sana. Lelaki tersebut kembali panik.


Rian langsung balik kanan dan keluar dari kamar mandi. Begitu keluar dari sana, kakinya mendadak terpaku di atas lantai. Matanya terbelalak seketika.


"Hantu!" teriak Rian dengan suara kencang.


Mendengar teriakan Rian, Yuan pun ikut berteriak. Keduanya justru heboh sendiri dan saling menunjuk satu sama lain. Setelah lelah, barulah mereka terdiam.


Yuan langsung mendekati Rian lalu mendaratkan pukulan ke lengan atas sang kakak ipar. Rian terus mengaduh sambil menghindar. Pukulan Yuan benar-benar keras sehingga meninggalkan ruam kebiruan pada permukaan kulit Rian.


"Ampun, ampun! Habisnya kamu mendadak muncul dengan wajah penuh benda itu! Pakai topeng macan! Aku kaget! Kukira siluman harimau!" seru Rian sambil terus menghindari pukulan Yuan.


"Mas Rian juga! Ngapain masuk ke kamarku? Dasar mesum! Cabul!" teriak Yuan sambil terus menghujani pukulan kepada Rian.


"Habisnya kamu dipanggil dari tadi nggak jawab! Aku khawatir sama kamu!" seru Rian sambil menangkap pergelangan tangan Yuan.


Tatapan mereka pun beradu. Rian menatap dalam manik mata Yuan seraya menelan ludah kasar. Yuan tetap terlihat cantik, meskipun wajahnya ditempeli masker.


Mata Yuan begitu indah dan menyihir. Kini jantung Rian berdetak sangat kencang. Suara lembut Yuan membuat lamunan Rian berakhir.


"Mas!" seru Yuan lagi dengan nada kesal.


Akhirnya Rian pun melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan Yuan. Setelah itu Rian berdeham. Dia mengalihkan tatapannya ke arah pintu kamar yang terbuka lebar sambil berdeham.


"Kalau begitu cepat siap-siap! Kita ke rumah sakit lagi buat tengok Riana. Ibu pasti juga belum sempat makan. Nanti kita keluar makan sekalian."


"Katanya sebaiknya aku nggak ke sana? Kenapa sekarang malah diajak?" tanya Yuan sembari menyipitkan mata.


"Ya kamu nanti di luar aja. Biar aku yang tengok Riana ke ruang bersalin. Siapa tahu setelah melihat pakdenya yang tampan ini, bayi Riana langsung brojol!" Rian mengusap dagunya seraya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Hah? Ngimpi! Anda terlalu percaya diri PAKDE!"

__ADS_1


Rian tertawa terbahak-bahak, lalu keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Yuan. Setelah Rian keluar dari kamarnya, Yuan langsung bersiap. Lima belas menit kemudian, perempuan tersebut sudah siap dalam balutan daster bermotif bunga-bunga.


Yuan keluar kamar dan langsung menghampiri Rian yang sudah siap di ruang tengah. Setelah itu, Rian bergegas melajukan mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rian langsung masuk ke ruang bersalin untuk melihat kondisi adik kesayangannya.


"Gimana, Bu?" tanya Rian.


Drini sedang mengusap punggung Riana. Perempuan tersebut mengeluarkan air mata karena merasa kasihan dengan Riana yang sedang berjuang menahan sakit hampir delapan jam. Riana pun tengah merintih menahan nyeri luar biasa sambil terus meremas ujung bantal.


"Pembukaan lima," jawab Drini dengan suara bergetar.


"Ibu makan dulu, ya, bareng Yuan? Tadi aku bawakan makanan. Biar Riana aku yang temani."


"Nggak, Ian. Bagaimana bisa ibu makan enak ketika adikmu sedang kesakitan begini?"


Rian terdiam. Kasih sayang seorang ibu memang tidak ada pangkalnya. Kasih mereka terus mengalir sepanjang masa.


Akhirnya Rian kembali keluar. Dia menemani Yuan makan di kafetaria. Setelah selesai, Yuan diantar lagi untuk pulang ke rumah.


Setelah berjuang hampir 20 jam, akhirnya bayi Riana lahir secara normal. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu diberi nama Arjuna Ismoyo. Lima bulan kemudian, Yuan juga melahirkan seorang bayi perempuan dan dinamai Sinta Dewi Ismoyo.


Dua orang anak kecil berusia 5 tahun sedang bermain bersama di ruang tengah keluarga Ismoyo. Ya, mereka adalah cucu-cucu Drini dan Anton. Di samping mereka ada kedua ibu yang sedang sibuk menatap televisi sambil menikmati teh dan beberapa kue kering.


"Jadi, bagaimana? Liburan kali ini kita ke mana?" tanya Riana setelah menyesap tehnya.


"Kita tanya dulu Yuli dan Ratih. Kita ngikut dulu gimana mereka."


"Baiklah, lalu ...."


Mereka pun melanjutkan obrolan mengenai perkembangan sekolah sang buah hati. Keduanya memutuskan untuk menyekolahkan Juna dan Sinta di sekolah yang sama. Hal itu dilakukan agar mereka lebih mudah dalam mengawasi anak-anak secara bersama-sama.


Misalkan salah satu dari mereka sibuk, maka yang lain akan mengurus dua anak TK tersebut. Sekarang Riana memilih untuk membuka klinik kecantikan, sedangkan Yuan menerima pekerjaan homecare untuk perawatan luka.

__ADS_1


Ketika senggang, Yuan akan datang ke klinik kecantikan dan membantu karyawan Riana untuk melayani pelanggan. Selain itu, Yuan juga sering mempromosikan klinik adik iparnya tersebut melalui kanal Youtube miliknya.


"Bunda!" teriak Arjuna sambil menangis.


Riana pun langsung beranjak dari sofa. Dia bergegas menghampiri sang putra yang terus menangis histeris. Di sisi lain, Yuan mendekati Sinta yang kini sedang menatap tajam ke arah Arjuna.


"Kenapa, Juna?" tanya Riana lembut.


"Sinta jambak rambut Juna, Bunda!" seru Juna seraya menarik rambutnya sendiri untuk mempraktikkan apa yang dilakukan Sinta kepadanya.


Mendengar pengakuan Arjuna membuat Yuan terbelalak. Dia duduk di depan sang putri sang sedang berdiri seraya bersedekap. Yuan menyentuh lengan Sinta sehingga tubuh gadis kecil itu kini menghadap ke arahnya.


"Benar begitu, Sinta?" tanya Yuan dengan nada setenang mungkin.


Sinta tidak menjawab. Dia justru mengalihkan pandangan ke arah Arjuna yang masih menangis histeris. Gadis kecil itu dengan beraninya mengacungkan jari tengahnya kepada Arjuna, sehingga membuat bocah laki-laki itu menjerit semakin histeris.


"Astaga, Sinta! Kamu belajar seperti itu dari mana?" Yuan yang tidak mampu lagi meredam emosi pun menarik lengan Sinta.


"Kita harus bicara empat mata, Sinta! Ikut ibu ke kamar!" tegas Yuan.


Sinta pun mengikuti Yuan dengan wajah datar. Sementara itu, Riana berusaha menenangkan Arjuna. Setelah putra kecilnya itu terdiam, Riana mulai menanyakan alasan kenapa Sinta bisa menarik rambutnya.


"Dia awalnya mengejek Juna karena memiliki poni, Bunda. Juna bilang kalau Juna menyukai model rambut seperti ini. Tapi, Riana malah semakin mengejek Juna dengan mengatakan bahwa Juna banci!" jelas Juna di antara isak tangisnya.


Riana ingin sekali tertawa, tetapi dia menahannya mati-matian. Di sisi lain, Riana benar-benar heran kenapa tingkah Sinta sangat berbeda dari anak gadis lain seusianya. Sinta terlihat lebih kasar dan barbar.


"Nanti, biar Sinta ditegur sama Bunda Yuan. Sekarang Juna tidur, ya? Besok adalah hari terakhir sekolah. Setelah itu kita liburan sama Bima dan Dewa."


Mendengar ucapan dari sang ibu sontak membuat semangat serta keceriaan Arjuna kembali. Bocah lelaki tersebut langsung melangkah riang menaiki anak tangga sambil bersenandung kecil khas anak-anak.


Di sisi lain, Yuan sedang menatap Sinta yang sedang duduk di meja belajarnya. Sinta masih bungkam mengenai dari mana dia belajar banyak hal yang tidak sopan. Namun, akhirnya Sinta merengek ketika jurus andalan Yuan keluar.

__ADS_1


"Jangan, Bunda! Jangan lapor sama ayah! Sinta janji nggak akan ulangi lagi! Sinta mau ayah cepat pulang!"



__ADS_2