
Sesampainya di dasar lantai, Rian menggigit buah apelnya, kemudian tersenyum lebar. Dia melangkah pelan mendekati sang ibu, lalu memeluknya. Drini mengusap lembut puncak kepala Rian seraya tersenyum tipis.
"Habisnya mau nyusul ke Amerika dilarang sama bapakmu, gimana, dong? Lagian nanti kalau ibu nyasar karena ke sana sendirian?"
Mendengar ucapan sang ibu, membuat Rian terkekeh. Dia memutari sofa, kemudian duduk di samping Drini. Melihat sikap manja sang kakak membuat Andri memutar bola mata.
"Anak pertama memang beda!" ujar lelaki itu sambil mengerucutkan bibir.
"Beda kenapa?" tanya Rian seraya mengerutkan dahi.
"Perlakuannya spesial dan lebih manja sama ibu!"
"Lah, siapa bilang aku manja? Aku lo lulus SMA langsung pergi sendiri ke Amerika buat kuliah!" Rian memukul dada jemawa.
"Memangnya Mas Rian pikir, sampai sana bisa langsung kerja paruh waktu berkat siapa?"
Drini langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Andri. Andri yang menyadari kesalahannya pun langsung terdiam. Dia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali.
Drini semakin menyipitkan mata, sehingga membuat Andri memukul pelan bibirnya berulang kali. Yuan yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa melongo menyaksikan drama keluarga Ismoyo kali ini.
"Dasar, lambe turah! Nakal! Ember!" seru Andri dengan suara pelan.
Tak lama berselang, Anton melangkah ke ruang keluarga. Lelaki yang baru saja pulang dari luar kota itu terdiam begitu mengetahui putra sulungnya pulang ke rumah. Rian langsung beranjak dari sofa kemudian berdiri dengan kepala menunduk, menatap ujung kakinya.
"Masih ingat rumah buat pulang? Bapak pikir kamu lupa alamat rumah ini?" Anton tersenyum miring.
Lelaki itu meletakkan koper kemudian berjalan mendekati Rian. Dia menatap putra pertamanya itu dari ujung kaki hingga kepala. Tak lama berselang, Anton menepuk pelan pipi Rian.
"Bapak bangga sama kamu, Ian! Selamat datang kembali ke rumah!" Anton merentangkan tangannya lebar.
Rian langsung mendongak dan terbelalak. Sedetik kemudian rasa haru menyeruak di dalam dadanya. Dia pun langsung menghambur ke pelukan sang ayah.
__ADS_1
"Kamu memang harus ditentang, baru memiliki niat yang kuat! Gimana kabar Om Harjo?" tanya Anton.
Mendengar pertanyaan sang ayah membuat Rian melepaskan pelukannya. Dia terbelalak dengan dahi berkerut. Lelaki tersebut menatap Drini dan Andri secara bergantian.
"Jadi, kalian semua mengenal Om Harjo?" tanya Rian.
"Menurutmu? Memangnya bisa gitu, sampai Amerika langsung dapat kerjaan? Terus memangnya kamu nggak mikir kalau gaji pekerja paruh waktu itu sebesar yang diberikan Om Harjo?" Anton terkekeh melihat sang putra yang masih melongo.
"Lah, Bapak curang! Berarti selama ini aku digaji besar bukan karena kemampuanku, dong!" Rian langsung mengerucutkan bibir.
"Jangan dipikirkan! Yang jelas, bapak bangga sama kamu! Kamu berhasil mendapatkan gelar dokter spesialis syaraf dengan predikat terbaik! Kerja kerasmu benar-benar luar biasa, Ian!" seru Anton bangga sembari menepuk bahu sang putra.
Ya, sebenarnya ketika Rian pergi ke Amerika, Anton meminta tolong kepada salah satu temannya yang tinggal di sana. Dia meminta Harjo untuk memberikan pekerjaan kepada Rian. Anton juga menitipkan sejumlah uang setiap semester untuk diberikan kepada Rian guna membayar kuliah.
Semua itu sengaja Anton sembunyikan dari Rian. Dia sadar kalau memang terlalu memanjakan anak sulungnya itu ketika kecil, sehingga membentuk karakter nakal sewaktu Rian beranjak remaja. Anak pertama dan ketiga memang terkadang lebih spesial daripada anak tengah.
Ketika Andri lahir, keluarga Ismoyo memang sedang mengalami kesulitan finansial. Jadi, mereka jarang memperhatikannya. Jika dibandingkan kedua saudaranya memanglah Andri anak yang paling mandiri dan tidak banyak tingkah, hanya saja terkadang dia berubah menjadi egois dan lebih emosional dalam keadaan tertentu.
Mereka pun mengiyakan. Yuan beranjak dari sofa, kemudian mendorong kursi Andri. Setelah keduanya masuk ke kamar, Rian tiba-tiba bertanya mengenai Yuan.
"Kok dia mau, sih, nikah sama Andri? Padahal kondisi Andri seperti itu," tanya Rian sambil menatap pintu kamar Andri dan Yuan yang sudah tertutup rapat.
"Berawal dari perjodohan. Kamu ingat Pakde Sis temen bapak?"
Rian langsung mengangguk karena paham betul orang yang dimaksud sang ayah. Anton pun kembali menceritakan semua. Dia mengungkapkan soal perjodohan yang sudah disepakati sejak mereka masih muda.
"Bapak niatnya mau jodohin kamu sama si Nesha, anak pertama Pakde Sis. Tapi, katanya dia sebentar lagi juga menikah. Akhir bulan ini katanya."
"Jadi, seharusnya ...." Rian menggantungkan ucapannya ke udara, lalu kembali menatap kamar Andri.
"Aku yang jadi suami Yuan?"
__ADS_1
"Ya, bisa jadi begitu. Tapi, waktu itu Yuan bersikukuh untuk menikah dengan Andri dan ingin merawatnya sebagai bentuk balas budi karena bapak sudah membiayai operasi Pakde Sis."
"Hanya untuk balas budi, ya?" Rian tersenyum kecut.
Ada secuil rasa sesal yang kini bersemayam di hati Rian. Sejujurnya sejak pertama kali melihat Yuan, dia tertarik. Namun, dia tidak boleh merebut apa yang bukan menjadi haknya.
Rian langsung mengubur rasa ketertarikannya kepada Yuan tadi pagi. Rian berharap rasa sukanya kepada Yuan tidak semakin tumbuh karena pertemuan setiap harinya. Dia berniat untuk mengurangi intensitas pertemuan dengan adik iparnya itu.
Di sisi lain, Yuan sudah bersiap untuk naik ke atas sofa. Ketika dia hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba Andri berdesus. Sontak Yuan menoleh ke arah sang suami.
"Sini!" Andri menepuk ranjang sambil tersenyum jahil.
Yuan mematung, berusaha mencerna apa yang diinginkan sang suami. Ketika Andri menaik turunkan alis, lalu mengedipkan mata, barulah Yuan sadar. Wajahnya langsung pias.
Yuan turun dari sofa, kemudian berjalan pelan ke arah ranjang. Setelah itu, dia merebahkan tubuh ke atas ranjang empuk tersebut. Namun, dia masih menjaga jarak dengan Andri.
Andri yang gemas dengan sikap malu-malu Yuan langsung menarik lengan sang istri. Kini Yuan masuk ke dalam pelukan Andri. Dia dapat menghirup aroma tubuh sang suami dengan leluasa.
"Yuan, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Andri sambil terus menggerakkan jemari untuk membelai rambut sang istri.
"Hm? Apa, Mas?"
Andri mengubah posisi duduknya hingga kini bersandar pada dasbor ranjang. Yuan yang awalnya berbaring, kini pun ikut duduk tegap. Perlahan Andri mendekatnya bibir pada telinga Yuan.
"Bolehkan aku menjadi suamimu seutuhnya?" bisik Andri dengan suara lirih yang menggoda.
Wajah Yuan langsung berubah semerah tomat. Dia menelan ludah kasar, lalu menoleh ke arah Andri secara perlahan. Andri kembali memainkan alis seraya tersenyum genit.
"Gimana?" Andri menggenggam jemari Yuan dan menatap lembut istri kesayangannya tersebut.
Yuan masih terdiam. Kali ini Andri ingin berlaku egois. Dia mulai mendekatkan wajah ke arah Yuan, terus memangkas jarak di antara keduanya.
__ADS_1
"Tunggu, Mas!"