
Sejak hari itu, Yuan benar-benar bersikap semakin tegas terhadap Sinta. Dia membatasi Sinta dalam menggunakan ponsel. Sinta hanya diperbolehkan memegang benda pipih itu selama satu jam sehari untuk mengerjakan tugas sekolah, dan satu jam lain untuk bermain game.
Jika Sinta bosan, Yuan akan mengajak anaknya bermain bersama. Keseharian Arjuna dan Sinta masih sama seperti biasa. Ketika bersama mereka akan lebih sering bertengkar daripada akurnya.
Seperti ketika di hari pertama mereka liburan semester ganjil. Sinta tiba-tiba merebut puzzle dari tangan sepupunya. Arjuna yang merasa terganggu akhirnya melayangkan protes.
"Sinta, aku sudah main lebih dulu. Kamu nggak boleh rebut-rebut sembarangan," protes Arjuna sambil mendekap erat kepingan puzzle dalam stoples.
"Gantian, dong! Aku juga mau main!" teriak Sinta berusaha merebut stoples kaca berisi kepingan mainan teka-teki kayu tersebut.
Arjuna terus mendekap stoples itu. Di sisi lain Sinta pun berusaha merebut mainan teka-teki itu dari Arjuna. Keduanya bahkan sampai berlarian demi merebut dan mempertahankan apa yang mereka mau.
Ketika mereka mulai berlarian ke sekitar ruang tamu, tiba-tiba Arjuna tersandung. Tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan dan stoples kaca itu melayang ke udara. Arjuna memejamkan mata membayangkan bagaimana dahsyatnya rasa sakit yang akan dia derita ketika mendarat di atas lantai.
Tak lama kemudian terdengar suara pecahan kaca menggema memenuhi ruangan. Arjuna berhitung dalam hati. Ketika sampai di hitungan ketiga, tubuh mungilnya mendarat dalam pelukan Rian.
"Ayah!" seru Sinta dengan mata terbelalak.
Rian yang baru saja pulang untuk cuti, akhirnya menggendong Arjuna. Dia menatap stoples kaca yang sudah pecah dan Sinta secara bergantian. Sinta berulang kali menelan ludah dengan jemari meremas celana pendeknya yang tampak kusut.
"Kenapa main kejar-kejaran sambil membawa stoples kaca, Juna?" tanya Rian tegas sambil menatap tajam keponakannya itu.
Bukannya menjawab, Arjuna langsung menangis histeris. Mendengar tangis Arjuna pecah, Riana yang sedang sibuk di kamar langsung turun untuk mengetahui apa yang terjadi. Dia panik ketika melihat kaca serta puzzle Arjuna bertebaran di atas lantai.
__ADS_1
"Kenapa, Juna?" tanya Riana kemudian mengambil alih tubuh mungil Arjuna dari dekapan sang kakak.
"Sinta nakal, Bunda! Sinta nakal!" teriak Arjuna histeris di tengah tangisnya.
Riana pun melemparkan tatapannya kepada Sinta sebentar, kemudian kembali menatap Arjuna yang menangis sesenggukan dalam dekapan. Dia mendaratkan kecupan pada kening sang putra, lalu mengajaknya masuk ke kamar.
Sinta masih mematung seraya menunduk lesu. Kelakuan nakalnya kini disaksikan langsung oleh sang paman. Rian pun mendekati Sinta, lalu membelai lembut rambut keponakannya itu.
"Sinta nggak bermaksud nakal, Ayah."
"Sinta, lain kali nggak boleh begitu. Jangan pernah mengganggu orang lain kalau Sinta nggak mau diganggu, ya?" Rian mencoba untuk menasihati Sinta supaya tidak lagi mengulangi perbuatannya.
Namun, Sinta hanya membisu. Tidak ada angguk kepala atau kata iya yang keluar dari mulutnya. Dia seakan tidak setuju dengan ucapan Rian.
"Ya Tuhan! Sinta, kamu kenapa lagi?" tanya Yuan seraya memeluk putrinya.
"Si-Sinta ma-mau punya ayah!" seru Sinta di antara isak tangisnya.
"Arjuna juga mau ayah!" rengek Arjuna beberapa detik setelah ucapan Sinta.
"Kalian kenapa sebenarnya?" tanya Yuan dan Riana bersamaan.
Akhirnya mereka menceritakan semua kejadian yang membuat keduanya menangis. Mereka, Bima, dan Dewa diejek sebagai kumpulan anak tidak punya bapak oleh teman sekelasnya.
__ADS_1
Yuan pun segera menghubungi dua sahabatnya dan memastikan apakah kondisi Bima dan Dewa juga sama. Ternyata mereka juga pulang dalam keadaan menangis dan merengek ingin memiliki ayah. Rian yang hendak berangkat kembali ke Ibukota pun mengurungkan niat melihat kedua keponakannya menangis.
"Bunda, bagaimana kalau Ayah Rian menjadi ayah Sinta? Sinta mau Bunda menikah sama Ayah Rian! Tidur bersama dan Sinta bisa punya adik bayi yang lucu."
Yuan melongo mendengar permintaan sang putri. Dia benar-benar tak habis pikir bagaimana Sinta bisa berpikir begitu jauh. Riana terus menahan tawa dengan mengulum bibirnya sendiri.
"Bunda, mau, ya? Mau, ya?" tanya Sinta seraya menatap penuh harap ke arah sang ibu.
Yuan yang kehabisan kalimat untuk menjawab putrinya pun hanya bisa pasrah. Dia kini menatap Rian berharap lelaki tersebut mau membujuk Sinta agar tidak meminta hal aneh lagi mengenai memiliki seorang ayah.
"Baiklah, ayah dan Bunda akan menikah!" seru Rian tanpa beban.
Jantung Yuan seakan copot mendengar ucapan Rian. Dia terus mengumpat dalam hati karena melihat kecerobohan kakak iparnya tersebut. Mendengar ucapan Rian membuat Sinta langsung menghapus air matanya.
"Yey, Sinta sebentar lagi punya ayah! Hore!" seru Sinta sambil melompat kegirangan layaknya kelinci yang mendapatkan wortel kesukaannya.
Yuan mengembuskan napas kasar kemudian memaksakan senyum. Baru kali ini dia melihat putri kecilnya itu tampak sangat senang. Namun, di hati kecilnya kini sedang terjadi perang batin.
Yuan ragu apakah harus menuruti permintaan Sinta, atau terus mempertahankan egonya untuk tetap menjanda. Sampai saat ini dia menyandang predikat janda karena memang pintu hatinya belum terbuka untuk pria lain. Dia hanya berharap setelah ini, bisa mengambil keputusan yang tepat.
Bukan hanya untuk Sinta, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Yuan ingin membuat Sinta senang nantinya, tanpa mau mengabaikan kebahagiaannya juga. Yuan harus tetap menjadi ibu yang bahagia agar Sinta dapat tumbuh menjadi anak yang baik dan ceria.
__ADS_1