Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 38. Kehilangan


__ADS_3

Yuan menatap langit cerah melalui jendela kamar yang terbuka. Rasanya masih seperti mimpi. Tiga bulan sudah Yuan menjalani kehidupan tanpa Andri.


Rasa hampa kini menemani Yuan dalam menjalani hidup. Terdengar suara ketukan yang menyadarkan Yuan dari lamunannya. Yuan menoleh ke arah pintu, kemudian beranjak dari sofa.


Langkah perempuan itu mulai berat karena menanggung berat badan lain yang ada dalam tubuhnya. Begitu pintu terbuka, Riana sudah berdiri di sana dengan perut buncit. Dia tersenyum lebar kepada Yuan.


"Masuk!" ujar Yuan.


Riana pun langsung masuk ke dalam kamar. Dia berjalan mendekati sofa tempat Yuan tadi duduk. Setelah itu, Riana mendaratkan bokong ke atas sofa.


"Sudah makan? Mau makan apa? Mau keluar bareng buat cari makanan atau camilan?"


Yuan menyusul Riana dan ikut duduk di samping perempuan tersebut. Riana menjawab semua pertanyaan sang adik ipar hanya dengan geleng kepala. Dia benar-benar susah makan sejak kematian Andri.


Sebenarnya Yuan tidak begitu kehilangan selera makannya. Hanya mual muntah ringan saja. Bayi dalam kandungannya seakan mengerti bagaimana kondisi sang ibu.


"Mbak, aku tahu Mbak Yuan masih sedih atas kepergian Mas Andri. Tapi, seharusnya Mbak Yuan lebih bisa mengelola emosi. Kasihan si bayi." Riana menatap ke arah perut Yuan yang mulai membuncit."


"Susah rasanya, Ri. Hampa banget rasanya. Warna duniaku seakan hilang, hanya terlihat hitam putih layaknya foto monokrom."


"Ngomong apa sih, kamu? Ingat bayimu. Dia butuh ibu yang ceria agar bisa tumbuh dengan baik. Jangan gitu, dong. Kasihan ...."


"Kamu tahu apa!" bentak Yuan tiba-tiba.


Riana melongo seketika. Ini adalah pertama kali Yuan berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Biasanya Yuan hanya akan tersenyum sinis, menyindir, atau berkata ketus jika tidak suka dengan sikapnya.


Kali ini Yuan berubah seperti orang lain. Riana menghela napas kasar. Dia beranjak dari kursi, kemudian berdiri di hadapan Yuan seraya menatap tajam kakak iparnya itu.


"Aku paham Mbak Yuan sedang kalut. Tapi, ingat ... ada bayi kecil yang harus kamu rawat penuh cinta. Jika kamu terus meratapi kepergian Mas Andri, memangnya dia akan kembali? Nggak, 'kan?" Riana tersenyum miring seraya melipat lengan di depan dada.


Yuan terdiam seketika karena tertampar dengan ucapan Riana. Dia tidak membalas sedikit pun ucapan adik iparnya tersebut. Mendapati Yuan tidak merespons, akhirnya Riana menyerah.


Riana balik kanan kemudian berjalan ke arah pintu. Namun, ketika baru berjalan beberapa langkah, dia merasakan nyeri luar biasa pada perutnya. Cairan bening tiba-tiba mengucur keluar dari jalan lahirnya tanpa bisa dikontrol.

__ADS_1


"Riana! Kamu kenapa?" Yuan langsung beranjak dari sofa, dan berjalan mendekati Riana.


"A-air ketubanku pecah!" seru Riana sambil meringis menahan sakit.


"Kamu tunggu di sini dulu! Aku panggilkan ibu!"


Yuna pun bergegas keluar dari kamar. Dia mencari-cari keberadaan Drini. Tidak ada seorang laki-laki pun di rumah tersebut.


Anton sedang meninjau rumah sakit baru yang hendak dibuka di ibukota. Rian sedang piket di rumah sakit sang ayah, sedangkan Mudi mengantar Sumi ke stasiun untuk pulang kampung.


"Bu!" panggil Yuan setelah menemukan Drini sedang melakukan panggilan telepon di ruang kerja Anton.


"Ada apa?" tanya Drini dengan ponsel yang masih menempel di telinga.


"Ri-Riana, Bu! Air ketubannya sudah pecah!" seru Yuan dengan suara gemetar.


"Astaga! Ibu minta tolong Pak RT dulu buat kemudikan ambulans!"


Drini pun segera menghubungi ketua RT kompleks tempat mereka tinggal. Setelah berhasil menghubungi dan meminta bantuan, dia bergegas menyusul Riana yang masih ada di kamar Yuan.


Riana segera dibopong masuk ke dalam ambulans. Sirene mobil ambulans pun dibunyikan agar lebih mudah membelah jalanan kota. Di dalam ambulans, Riana terus merintih kesakitan.


"Sabar, ya, Ri. Bayimu sebentar lagi keluar! Tahan, ya? Kamu kuat!" Drini menyemangati sang putri agar berjuang menahan sakit demi anaknya.


Yuan pun ikut menggenggam jemari Riana. Dia sesekali mengusap punggung Riana. Yuan berharap apa yang dia lakukan bisa mengurangi sedikit rasa sakit yang dialami oleh Riana.


Setelah mobil melaju selama 15 menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Riana langsung dibawa ke ruang bersalin. Dokter melakukan pemeriksaan dan menyatakan bahwa pembukaan jalan lahir masih belum lengkap.


"Kita tunggu sampai maksimal 48 jam. Jika bayi belum juga lahir, maka kami terpaksa melakukan tindakan operasi," jelas sang dokter.


"Kalian boleh bergantian masuk untuk memberinya semangat. Saya permisi." Dokter tersebut meninggalkan Yuan dan Drini yang kini saling berpegangan tangan.


"Kamu tunggu di sini aja, ya? Biar ibu yang temenin Riana."

__ADS_1


Yuan mengangguk setuju. Drini pun bergegas masuk ke ruang bersalin. Sementara Yuan memilih untuk duduk di depan ruangan tersebut.


Tak lama berselang, Rian berlari menghampirinya. Lelaki itu tampak berkeringat. Dia langsung menanyakan kondisi Riana kepada Yuan.


"Baru pembukaan empat, Mas."


"Ya sudah, kamu pulang dulu gimana? Aku antar. Kalau kamu menyaksikan proses kelahiran Riana, aku khawatir kamu takut."


Rian memang khawatir hal itu terjadi. Dia takut Yuan mengalami trauma jika menyaksikan Riana melahirkan. Hal itu tentu saja bisa berdampak terhadap psikologi Yuan dan mengakibatkan stres atau trauma.


Yuan terdiam sebentar. Sebenarnya dia ingin ikut mendampingi Riana melahirkan. Akan tetapi, ketika memperhatikan lagi apa yang diucapkan Rian, Yuan akhirnya mengangguk.


Yuan berpikir, mungkin saja saat ini dia merasa baik-baik saja. Namun, dia tidak pernah tahu jika alam bawah sadar merekam momen melahirkan Riana dan menganggapnya sebagai hal yang menakutkan. Hal itu pasti akan berdampak buruk terhadap mentalnya yang juga sedang menanti kehadiran sang buah hati.


"Aku izin sebentar dulu sama yang lain. Kebetulan aku sedang tidak ada pasien untuk ditangani."


"Iya," jawab Yuan singkat.


Tak lama berselang, Rian sudah melepas jas putihnya dan hanya mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru tua. Rambut yang awalnya tertata rapi, kini sengaja diacak-acak tak beraturan. Dia tersenyum lebar saat mendekati Yuan.


"Ayo! Kita mampir makan dulu, ya? Aku lapar!" seru Rian seraya mengusap perut roti sobeknya yang tertutup kemeja.


Yuan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis hampir tak terlihat. Keduanya pun berjalan beriringan menuju tempat parkir. Sesampainya di sana, Rian membukakan pintu untuk Yuan.


Setelah Yuan masuk, Rian pun bergegas masuk dan mulai menyalakan mesin mobil. Setelah mesin mobil mulai panas, Rian pun melajukan mobil perlahan keluar dari area rumah sakit.


Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Yuan menatap keluar jendela sambil bertopang dagu. Alunan musik jaz kesukaan Rian menemani perjalanan keduanya ke salah satu warung makan padang langganan Rian.


"Kamu kalau nggak suka makan nasi padang, bilang aja. Nanti kita cari tempat lain," ucap Rian melirik ke arah Yuan.


Yuan masih terdiam. Dia seakan sedang sibuk menghitung deretan gedung yang mereka lewati. Jemari Yuan kini sibuk mengusap permukaan perutnya.


Tiba-tiba Yuan berteriak, sehingga membuat Andri menghentikan mobil secara mendadak. Sontak suara klakson mobil bersahutan karena kesal dengan ulah Rian. Dia menurunkan kaca mobil sambil terus mengangguk menerima setiap umpatan yang keluar dari bibir pengguna jalan lain seraya memaksakan senyum.

__ADS_1



__ADS_2