
Sumi membuka pintu dan langsung terbelalak. Di depannya kini ada seorang lelaki tampan bertubuh tegap dengan rambut diwarnai pirang. Dia tersenyum lembut sambil mengangkat tangannya.
"Hai, Mbok!" sapa Rian.
"Mas Rian!" seru Sumi sambil membekap mulut menggunakan telapak tangan.
"Mbok Sumi, apa kabar?" tanya Rian sambil menampilkan senyum mautnya.
"Alhamdulillah baik, Mas. Ma-masuk, Mas!" Sumi berjalan mendahului Rian.
"Mbok panggilkan ibu dulu, ya," pamit Sumi ketika Rian sudah duduk di ruang tamu.
Rian mengangguk, lalu Sumi pun setengah berlari menghampiri Drini. Ketika sampai di hadapan majikannya itu, Sumi meremas daster yang membalut tubuhnya. Dia tidak tahu harus senang atau sedih ketika melihat Rian pulang.
"Itu, yang datang Mas Rian, Bu."
Mendengar nama anak pertamanya disebut, Drini langsung terbelalak. Dia tidak menyangka putranya itu mau kembali setelah kabur karena niatnya untuk melanjutkan kuliah di Amerika ditentang oleh Anton.
Drini mengira Rian tidak akan pernah kembali setelah insiden tersebut. Dia pun bergegas bangkit dari sofa kemudian melangkah cepat menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, Drini tertegun.
Drini menatap punggung tegap putra yang sudah lama dia rindukan dalam diam itu. Rian terlihat sedang menatap foto pernikahan sederhana Andri dan Riana yang dipajang di dinding. Menyadari kehadiran sang ibu, Rian pun balik kanan.
"Ibu," sapa Rian seraya tersenyum lebar.
Drini mematung dengan mata berkaca-kaca. Rian pun berinisiatif untuk berjalan ke arah sang ibu. Dia mendekap erat tubuh Drini untuk meringankan rasa rindu yang bersemayam di hati.
"Bu, Rian pulang. Apa Rian masih boleh tinggal di sini? Rian kangen sama Ibu dan yang lain."
"Kenapa kamu baru pulang, Rian? Bukankah seharusnya kamu pulang lebih cepat? Kenapa lama sekali. Ibu kangen!" Tangis Drini pun pecah.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Rian memutuskan untuk bekerja dulu di sana supaya punya tabungan ketika pulang ke Indonesia."
Andri yang penasaran akhirnya memutar roda untuk ikut mengetahui siapa yang datang. Begitu sampai di ruang tamu, dia terdiam. Kakak yang dulu sering bertengkar dengannya akhirnya kembali.
"Mas Rian!" seru Andri.
Rian melepaskan pelukan dari sang ibu. Dia menatap heran adik laki-lakinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Melihat kondisi Andri membuat Rian sedih.
Kaki Rian mendadak lemas seakan kehilangan kekuatan. Begitu sampai di depan Andri, tubuh Rian langsung roboh. Dia duduk bersimpuh di dekat kaki Andri.
Rian menggerakkan lengannya yang gemetar untuk mengusap kaki sang adik. Air mata pun menetes membasahi pipi lelaki yang tampak tegar itu. Dari sana, siapa pun dapat mengetahui bagaimana dia menyayangi Andri.
"A-apa yang terjadi, Ndri? Ke-kenapa kamu bisa begini?" tanya Rian dengan tatapan nanar ke arah sang adik.
"Nasib buruk nggak ada yang tahu, Mas. Aku kena polio beberapa bulan lalu karena kasusnya meningkat di Pidie. Nggak tahu juga kenapa bisa begini. Mungkin memang sudah takdirku." Andri tersenyum kecut ketika mengingat bagaimana dia harus memulihkan mental selama berbulan-bulan.
"Udah coba terapi? Terapi nggak akan menyembuhkan polio. Tapi, paling nggak ototmu akan sedikit terlatih dan efek kelumpuhan bisa sedikit melambat. Mulai sekarang, aku juga akan bantu kamu."
Rian yang awalnya duduk, kini berdiri tegap. Dia menatap Yuan dan Andri secara bergantian. Menyadari sang kakak yang kebingungan, Andri akhirnya memperkenalkan sang istri kepada Rian.
"Dia Yuan, Mas. Istriku." Andri menggenggam jemari Yuan kemudian mengecup punggung tangannya.
"Kok beda sama yang di foto?" Rian menunjuk foto yang menggantung pada dinding dengan jempolnya.
"Ya kan itu pakai mekap?"
"O ... iya, ya?" Rian mengangguk seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
Mendadak suasana haru berubah menjadi tawa. Mereka semua akhirnya makan siang bersama sebelum Yuan dan Andri keluar rumah. Setelah selesai, Andri dan Yuan pun berpamitan.
__ADS_1
Mereka pergi ke rumah yang akan dilihat dengan diantar oleh sopir. Sepanjang perjalanan Yuan dan Andri saling melemparkan gurauan. Sampai akhirnya rasa penasaran Yuan membuat Andri kembali mengorek kisah masa lalu keluarganya.
"Kok bisa, sih, bapak nggak kasih izin ke Mas Rian buat kuliah ke Amerika?" tanya Yuan penasaran.
"Mas Rian itu nakal pas masih muda. Bapak takut Mas Rian terbawa pergaulan bebas di sana."
Andri menceritakan semua sambil membelai lembut rambut Yuan. Yuan pun menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami dengan nyaman. Perempuan itu hanya mengangguk ketika mendengarkan penjelasan dari Andri.
"Kalau masih ada di Indonesia, kegiatan Mas Rian masih terpantaulah. Misalkan dia nakal, bapak bisa langsung menjemput dan menghajarnya!" Andri terkekeh sambil meninjukan kepal tangannya ke udara.
Andri tertawa lepas karena teringat bagaimana terakhir kali Rian mendapatkan pukulan dari Anton. Anton memang jarang sekali menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya. Sebenarnya Anton tidak sengaja memukul Rian waktu itu.
Tinju Anton mendarat di rahang Rian karena sebenarnya dia ingin memukul tembok yang ada di belakang sang putra. Namun, perhitungannya meleset sehingga kepal tangannya berakhir di rahang Rian.
"Tapi waktu itu Mas Rian kebangetan, sih. Dia pamitnya les, tapi ternyata nongkrong sama teman-temannya buat nyabu! Untung bapak cepet-cepet dateng, kalau nggak pasti Mas Rian udah ngisep itu barang haram!"
"Iya, ya. Untung aja bapak datang tepat waktu! Terus habis itu gimana?" tanya Yuan.
"Mas Rian dimasukkan sekolah yang ada asramanya. Tapi, ya gitu. Dia kabur bolak-balik. Kalau nggak, dia buat kerusuhan yang bikin pengawas dan pengurus asrama angkat tangan. Akhirnya bapak jemput Mas Rian dan diberikan beberapa syarat supaya bisa tetap tinggal di rumah."
"Ooo ... jadi gitu ceritanya." Yuan pun mengangguk paham sambil merapatkan pelukannya pada Andri.
Hari itu mereka mengelilingi kota Surabaya untuk mencari rumah yang cocok. Namun, tidak membuahkan hasil. Akhirnya mereka pulang ke rumah dengan hanya membawa rasa kecewa.
"Gimana, dapat?" tanya Drini ketika Yuan dan Andri baru sampai rumah.
Andri Yuan menghentikan dorongan kursi roda Andri tepat di samping Drini, lalu dia mendaratkan bokong ke atas sofa. Andri menggeleng dan mengambil cangkir teh yang disodorkan kepadanya oleh Sumi.
"Ibu bilang apa tadi? Cari saja di dekat sini biar lebih deket sama ibu. Ibu kan nggak biasa jauh dari anak-anakku. Rasanya memang todak rela kalau sampai berjauhan dari kalian," ungkap Drini.
__ADS_1
"Kok jauh sama aku betah-betah aja, Bu?" Rian berjalan menuruni anak tangga dengan biah apel dalam genggaman yang sesekali dilemparkan ke udara.