
Andri terdiam ketika dia hendak mencium Yuan. Ada rasa kecewa yang kini dirasakan oleh lelaki tersebut. Akhirnya dia mundur lagi dan menyandarkan punggung pada dasbor ranjang.
"Ya sudah kalau kamu belum siap. Aku nggak akan memaksa," ucap Andri setenang mungkin berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
Bibir Andri bisa saja mengatakan tidak apa-apa. Namun, dari raut wajahnya jelas tergambar bahwa ada rasa kecewa yang kini memenuhi hati lelaki tersebut. Yuan tersenyum lembut, lalu naik ke atas pangkuan sang suami.
Melihat tingkah istrinya membuat Andri terbelalak. Perlahan piton miliknya menggeliat sehingga tampak menonjol di balik celana. Yuan pun tersenyum jahil dan mulai menggesek tubuhnya pada piton Andri.
"Memangnya aku bilang kalau belum siap? Aku hanya belum tahu bagaimana caranya melayanimu dengan baik, Mas. Ini adalah hal pertama bagiku.”
Andri menuntun lengan Yuan sehingga kini telapak tangan sang istri ada di atas dadanya. Andri pun membelai lembut pipi sang istri, sehingga menimbulkan gelenyar aneh di dada perempuan tersebut. Yuan memejamkan mata untuk menikmati sentuhan yang diberikan oleh sang suami.
"Kali ini aku yang akan melayani dan menyenangkanmu, Sayang." Andri menatap sendu Yuan.
Yuan perlahan membuka mata. Tatapan keduanya pun kini beradu. Dia memberanikah diri untuk mencium bibir sang suami.
Keduanya menyatukan rasa melalui cecap dan ciuman lembut penuh cinta. Menyalurkan kasih sayang penuh kemesraan tanpa ada rasa terpaksa dan saling menuntut. Ciuman itu perlahan berubah menjadi panas sehingga membuat hasrat keduanya memuncak.
__ADS_1
Jangan tanya lagi kegiatan itu berakhir seperti apa. Piton Andri berhasil membongkar sarang kenikmatan milik Yuan. Sampai ia menyemburkan benih kehidupan yang mungkin akan menjadi calon dokter atau perawat selanjutnya di masa yang akan datang.
"Terima kasih, Mas," bisik Yuan dengan suara parau.
"Aku juga terima kasih. Kamu benar-benar memberikan mahkotamu kepadaku. Aku justru merasa bersalah karena ...."
"Ssttt! Aku tahu apa yang ada di dalam kepala Mas Andri. Aku sudah melupakan semuanya. Aku tidak peduli dengan masa lalumu, Mas. Yang jelas, sekarang kamu adalah suamiku, Mas. Baik dan burukmu juga akan menjadi milikku."
Lidah Andri seakan kelu. Dia masih tidak percaya memiliki istri sebaik Yuan. Lelaki itu langsung membawa Yuan ke dalam pelukan.
Andri mengecup puncak kepala Yuan berulang kali. Dia benar-benar ingin menghabiskan sisa umur bersama Yuan. Melewati masa suka dan duka bersama.
"Yuan, besok kita cari rumah lagi. Baiknya kita cari rumah dekat sini saja sesuai permintaan ibu. Gimana?"
Sedetik, dua detik, tidak ada jawaban dari Yuan. Suasana kamar mendadak hening. Tak kama berselang terdengar dengkuran halus.
"Kamu tidur?" Andri menunduk agar bisa melihat wajah sang istri.
__ADS_1
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Andri saat melihat Yuan sudah tertidur pulas. Lelaki tersebut merebahkan tubuh Yuan, lalu menyelimutinya. Andri pun ikut merebahkan tubuh dan tidur sambil menatap sang istri.
"Yuan, terima kasih atas segalanya. Aku benar-benar mencintaimu." Andri pun mulai memejamkan mata seraya memeluk sang istri.
Dua minggu berlalu, hari ini Yuan hendak menghadiri pernikahan sang kakak. Dia pun mempersiapkan diri dengan baik. Pernikahan Nesha dilangsungkan di sebuah hotel bintang lima di pusat kota Surabaya.
"Sudah siap, Mas?" tanya Yuan ketika melihat sang suami telah rapi dalam balutan kemeja batik lengan panjang.
Yuan hari itu juga menggunakan terusan batik dengan model sederhana. Terusan berkerah lengan panjang dengan panjang sebatas lutut. Kaki perempuan itu dibalut dengan sepatu hak tinggi berwarna coklat tua.
"Ayo, Mas! Semalam kita udah nggak bisa datang ke acara midodareni. Kita harus datang tepat waktu kali ini."
Andri pun mengangguk. Mereka berdua keluar dari kamar, lalu menghampiri Drini, Rian, dan Anton yang sudah siap di ruang keluarga. Hari itu mereka datang ke pernikahan Nesha tanpa Riana dan Burhan karena mereka baru saja pulang dari bulan madu.
Setelah itu, mereka bergegas menuju hotel. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh Siswoyo dan Winarni. Berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya, justru Nesha menatap sinis Yuan yang sedang tersenyum riang.
Usai acara resepsi, Yuan menyusul Nesha yang kini ada di ruang ganti. Dia hendak memeluk tubuh sang kakak, tetapi ditepis oleh Nesha. Tentu saja Yuan mengerutkan dahi mendapat perlakuan kasar dari sang kakak.
__ADS_1
"Mbak, kenapa ...." Ucapan Yuan menggantung di udara karena Nesha membentaknya.
"Kamu itu pura-pura bodoh apa gimana, sih?"