
Tubuh Yuan gemetar hebat ketika menyadari Burhan sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dia terus menyilangkan lengan di dadanya. Rasa takut, marah, dan malu bercampur menjadi satu.
Yuan kembali merutuki diri sendiri karena kebiasaannya yang tidak pernah mengunci pintu kamar mandi ketika ada di dalamnya. Burhan tiba-tiba mengunci pintu kamar mandi. Dia terus mendekati Yuan sambil menatap buas tubuh Yuan yang hanya dibalut dengan handuk.
"Mundur aku bilang!" teriak Yuan.
"Aku menyesal karena ternyata telah melewatkan tubuh indahmu ketika berpacaran dulu! Harusnya paling tidak aku menyentuh benda bulat itu! Tampak kenyal sekali! Bulat, tidak seperti milik Riana yang kecil tak berisi." Burhan menatap sepasang gumpalan daging yang ada di bagian atas tubuh Yuan penuh gairah.
Tatapan mesum Burhan membuat Yuan jijik. Rasanya dia ingin sekali mencolok mata lelaki tersebut. Yuan terus mundur hingga tubuhnya menempel pada dinding kamar mandi.
Yuan menggerayangi dinding berharap mendapatkan sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membela diri. Jemari lentik Yuan berhasil meraih shower. Dia berniat untuk memukul kepala Burhan jika lelaki itu macam-macam.
"Aku bilang mundur, Mas!" teriak Yuan seraya mengacungkan kepala shower.
Burhan justru menyeringai. Ledakan tawa kini memenuhi kamar mandi itu. Yuan pun akhirnya menarik shower hingga putus.
Air pun langsung menyembur hingga membasahi tubuh Yuan dan Burhan. Yuan langsung berlari mendekati pintu ketika Burhan sibuk menghalau air yang membasahi wajah sehingga menghalangi pandangan. Yuan berusaha membuka pintu dengan tangan gemetaran.
Begitu pintu berhasil terbuka, Yuan mengunci kamar mandi dari luar. Ketika balik kanan, alangkah terkejutnya Yuan melihat Andri sudah tersungkur di atas lantai. Yuan menghampiri Andri yang ternyata sudah bangun dengan kondisi tangan lemas.
"Mas Andri! Mas, kamu kenapa?" tanya Yuan panik.
"Aku tidak bisa menggerakkan jemariku," ucap Andri dengan mata berkaca-kaca.
"Astaga!" Yuan pun bergegas keluar dari kamar.
Kebetulan di ruang tengah, Drini sedang duduk bersantai sambil menonton acara gosip favoritnya. Saat Yuan menghampirinya, Drini tersentak karena melihat kondisi Yuan yang tampak kacau.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Drini panik.
"To-tolong Mas Andri, Bu. Dia nggak bisa menggerakkan tangannya!" seru Yuan terbata-bata.
Tanpa berkata lebih banyak lagi, Drini langsung berlari ke arah kamar Yuan. Yuan pun mengekor di belakangnya. Setelah sampai di kamar, Yuan dan Drini membantu Andri kembali ke atas ranjang.
"Kamu kenapa, Ndri?" tanya Yuan setelah berhasil memindahkan tubuh sang putra dari lantai ke atas ranjang.
"Nggak tahu, Bu. Jemariku tidak bisa digerakkan sama sekali." Tangisan Andri pecah dan suaranya terdengar bergetar.
"Astaga! Se-sebentar, ibu panggilkan bapak sama masmu!" Drini pun berlari cepat keluar dari kamar.
Yuan naik ke atas ranjang, kemudian menggenggam jemari sang suami. Suara tangis mereka bercampur menjadi satu. Yuan memeluk tubuh Andri berusaha menenangkan sang suami.
"Mas, yang sabar, ya? Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Bagaimana ini, Yuan? Sepertinya penyakitku semakin parah!"
Tak lama kemudian, Rian, Riana, Drini, dan Anton masuk ke kamar. Anton langsung mendekat ke arah Andri, dan Yuan turun dari ranjang. Ketika Anton dan Andri berbicara, Rian tanpa sengaja menoleh ke arah Yuan yang terlihat kacau.
Rian mengedarkan pandangannya. Kini tatapannya tertuju pada sebuah sweter rajut yang menggantung pada pintu kamar. Lelaki itu pun berjalan perlahan mendekati pintu lalu mengambil sweter tersebut.
Setelah itu, Rian mendekati Yuan dan menutupi tubuh bagian atasnya menggunakan pakaian tersebut. Yuan menoleh sekilas kemudian mengangguk sebagai tanda terima kasih. Rian pun tersenyum tipis.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Mas Ian, tolong beri tahu Pak Mudi untuk menyiapkan mobil!" perindah Anton kepada Rian.
Lelaki itu pun mengangguk sekilas, lalu bergegas menghampiri Pak Mudi. Sementara itu Drini dan Riana menyiapkan beberapa pakaian untuk Andri. Tak lama berselang terdengar pintu kamar mandi yang digedor keras.
__ADS_1
Mereka semua yang dalam keadaan panik tidak menyadari kalau sejak tadi Burhan masih terkurung di kamar mandi. Lelaki itu sebenarnya terus berteriak seraya mengetuk pintu. Namun, karena keadaan panik, tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
Begitu mendengar pintu kamar mandi digedor, Riana dan Drini saling melemparkan tatapan. Riana langsung terbelalak karena menyadari sang suami yang sama sekali tidak terlihat sejak dia bangun. Perempuan itu pun akhirnya mendekati pintu kamar mandi, lalu membukanya.
"Mas Burhan!" pekik Riana sambil membekap mulutnya.
Riana menatap heran ke arah sang suami yang kini basah kuyup. Dia langsung menarik lengan sang suami, sehingga tubuh lelaki itu keluar dari kamar mandi. Kini Anton, Andri, dan Drini menatap Burhan.
"Lelaki brengsek itu tadi membuka pintu kamar kami secara paksa! Aku melihat semuanya tapi tidak mampu berbuat apa pun untuk melindungi Yuan!" seru Andri dengan suara bergetar penuh amarah bercampur sedih.
Mendengar pengakuan Andri membuat kaki Riana seakan lemas. Dia langsung terduduk lesu di atas lantai. Dadanya terasa sesak dengan tenggorokan seakan diganjal oleh batu besar.
"Bebar begitu, Mas?" tanya Riana seraya menatap Burhan dengan mata berkaca-kaca.
Burhan tidak menjawab. Dia justru membuang muka. Lelaki tersebut kemudian berjalan meninggalkan kamar Yuan.
Drini pun bergegas menghampiri sang putri. Dia memeluk erat Riana, sehingga tangis keduanya pecah. Keluarga kecil Riana yang baru dimulai hancur dalam sekejap.
Anton menenangkan tiga perempuan itu sejenak sebelum akhirnya Rian masuk ke kamar bersama Mudi dan Sumi. Mereka pun akhirnya membawa Andri ke dalam mobil. Nantinya Yuan akan menyusul setelah selesai merapikan penampilannya yang kacau.
"Kita akan bahas masalah Burhan nanti malam, setelah memastikan kondisi Andri."
"Iya, Pak. Ibu akan menenangkan Yuan dan Riana dulu di rumah. Setelah mereka tenang, ibu akan menyusul ke rumah sakit." Drini meraih jemari sang suami, lalu mencium punggung tangannya.
Anton pun masuk ke mobil, dan Mudi langsung melajukan mobil menuju rumah sakit. Setelah mobil menghilang dari pandangan Drini, dia masuk ke rumah. Tatapan nanar perempuan itu secara bergantian memandang kamar Yuan dan Riana.
Keduanya adalah putri dengan hati yang sedang sama-sama hancur. Namun, Drini yakin kalau sang menantu jauh lebih kuat daripada Riana. Akhirnya dia memutuskan untuk melangkah menuju kamar putri satu-satunya itu.
__ADS_1
Drini menaiki satu per satu anak tangga sambil terus mengucapkan doa. Dia berharap rumah tangga putrinya mendapat jalan terbaik. Ketika sampai di depan pintu kamar, tiba-tiba benda itu terbuka. Burhan sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.