Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 37. Author Jahat


__ADS_3

Drini terdiam seketika. Mata perempuan tersebut tampak basah. Yuan yang merasa sikap sang mertua aneh pun mengabaikan antrean obatnya.


Yuan berjalan setengah berlari ke arah Drini. Rian yang awalnya berdiri di samping Drini, kini dia menghindar. Ketika Yuan tepat berada di hadapannya, Drini mendadak menarik lengan Yuan dan tangisnya pecah.


"Maafin ibu, Yuan! Ibu lalai ketika menjaga Andri. Dia mengalami sesak napas sehingga kadar oksigennya tinggal sedikit."


Yuan seakan kehilangan bumi tempatnya berpijak. Tubuhnya langsung lemas. Drini pun menumpu berat badan sang menantu.


"Yuan, sabar, ya? Ibu benar-benar minta maaf. Ibu kecolongan. Waktu ibu masuk kamarmu, Andri sudah pingsan." Tangisan Drini semakin histeris.


Riana yang penasaran juga langsung mendekat. Dia memeluk Tuan dan sang ibu yang sedang menangis sesenggukan. Riana menanyakan kenapa keduanya menangis.


Drini pun menjawabnya dengan terbata-bata. Perempuan tersebut terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah menimpa Andri. Dada Riana pun ikut sesak, sehingga dia ikut memeluk ibu serta kakak iparnya tersebut.


Dari kejauhan, Rian dan Anton bergegas mendekati para perempuan yang sedang menangis. Mereka mengajak ketiganya untuk pergi ke ruang ICU. Mereka pun berjalan tertatih mendekati ruangan tersebut.


"Sabar, ya, Yuan. Semoga tidak ada hal yang buruk terjadi kepada Andri." Anton mengusap lengan atas Yuan yang bergetar hebat karena tangis.


Tak lama berselang seorang dokter keluar dari ruang ICU. Dokter laki-laki itu melepas masker yang menutup sebagian wajahnya. Dia tersenyum tipis kemudian menghampiri Anton dan yang lain.


"Bagaimana kondisi Andri?" tanya Anton kepada salah satu rekan kerjanya.


"Dia hampir saja gagal napas. Tapi Andri sudah membaik dengan bantuan alat bantu pernapasan. Untuk kondisi lebih lanjut, Pak Anton bisa ikut saya ke ruangan saya." Dokter tersebut pun berpamitan.


Anton mengangguk kemudian mengekor di belakang sang dokter. Yuan semakin lemas mendengar penjelasan singkat dokter. Harapannya mengenai kehidupan Andri mendadak sirna.


Yuan mulai pesimis. Dia mulai takut kehilangan Andri. Pikirannya kini mulai berkelana ke mana-mana.


Di sisi lain, Anton sedang mendengarkan penjelasan dari Dokter Eko. Dari penjelasan dokter tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem pernapasan Andri mulai terganggu karena kinerja sarafnya menurun drastis.


"Dia bahkan akan mulai kesulitan bicara dan menerima informasi. Tidak ada harapan lain, selain keajaiban dari Tuhan, Pak."


Anton menyandarkan punggung pada kepala kursi. Lelaki tersebut menyugar rambut dan mengusap wajah kasar. Hela napas berat kini terdengar memenuhi ruang Dokter Eko.


"Nggak ada cara lain untuk meringankan gejala, Dok? Terapi misalnya atau obat-obatan?"


"Berdasarkan hasil pemeriksaan, semua itu audah tidak bisa menolong Andri, Pak. Semoga Tuhan berbelas kasih dan memberikan keajaibannya untuk Andri."

__ADS_1


Jika saja tidak sedang berada di rumah sakit, Anton pasti sudah berteriak keras karena kecewa dengan takdir yang ditetapkan Tuhan untuk Andri. Anak keduanya yang lebih banyak diam dan penurut itu harus menanggung nasib buruk seperti ini.


Belum lagi mengingat nasib Yuan. Perempuan yang baru saja mendapatkan cinta dari Andri. Kemudian pilihan Anton melayang pada janin yang tengah dikandung oleh Yuan.


Bagaimana bayi itu lahir tanpa sosok ayah? Ya, pikiran Anton sudah terlalu jauh karena rasa putus asa yang kini menghantamnya. Dia akhirnya berpamitan dan kembali menemui keluarga yang masih menunggu di luar ruang ICU.


"Gimana, Pak?" tanya Rian sambil berlari mendekati sang ayah.


Anton menatap Yuan dan Drini yang kino sedang mengamati Andri dari balik kaca. Anton mengusap wajah kasar lalu menggeleng pasrah. Tanpa sadar, Rian juga menghela napas penuh rasa putus asa.


"Tinggal menunggu antara perginya Andrj dan keajaiban dari Tuhan."


"Aku sejak awal sudah menduga hal ini akan terjadi. Terlebih mengingat ketika Andri pernah mengidap polio ketika bayi, Pak." Bahu Rian merosot mengingat apa yang sudah terjadi kepada Andri di masa lalu.


"Bapak nggak bisa bayangkan gimana perasaan Yuan, Ian. Dia baru saja merasakan cinta dari Andri, tapi takdir begitu kejam. Rasanya bapak putus asa kalau harus menunggu keajaiban dari Tuhan."


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Andri, Pak." Rian memeluk sang ayah sambil menepuk lembut punggung sang ayah.


Waktu pun berlalu begitu cepat. Sudah delapan jam Andri hanya memejamkan mata. Yuan memakai pakaian khusus dan mulai melangkah masuk di temani oleh Rian.


Isak tangis mulai keluar dari bibir Yuan. Dia meraih jemari sang suami, kemudian meletakkan jaro-jari kurus itu ke permukaan perutnya. Yuan mengusap perutnya yang masih datar menggunakan telapak tangan Andri.


"Mas, bangun. Apa Mas Andri nggak mau lihat bayi kita tumbuh sehat di dalam kandungan? Apa Mas Andri nggak mau menemani aku bersalin? Apa Mas Andri nggak mau melihat anak kita tumbuh menjadi anak yang aktif dan cerdas? Mas, Yuan mohon ... bangun." Suara Yuan terdengar begitu menyesakkan penuh kesedihan.


Rian memalingkan wajah karena todak sanggup melihat Yuan yang sedang meluapkan dukanya. Harapan untuk kehidupan Andri memang tipis. Semua alat bantu yang menempel pada tubuhnya adalah penentu hidup Andri.


Jika alat-alat itu dilepas, maka nyawa Andri pun akan ikut terlepas dari raganya. Yuan menangis dengan suara lirih. Harapannya hampir habis dengan keajaiban Tuhan.


Ketika Yuan berada di ujung rasa putus asa, dia merasakan jemari Andri bergerak. Tangis Yuan mendadak berhenti. Dia mendongak dan berdiri mencondongkan tubuh ke arah Andri.


"Mas, Mas Andri ... bangun, Mas!" panggil Yuan.


Napas tenang Andri mulai tampak berubah. Sudah ada embusan napas kasar yang sedikit tersengal-sengal. Tanda vital yang awalnya tenang, mulai terlihat tidak stabil.


Melihat semua itu membuat Rian panik. Dia langsung keluar dari ICU untuk menghubungi dokter yang bertanggung jawab atas Andri. Sementara itu Yuan terus berusaha memanggil nama sang suami agar mau membuka mata.


Perlahan, mata Andri terbuka. Yuan kembali menumpahkan air mata dan menyusup ke dalam dada Andri. Lelaki tersebut mulai menggerakkan bibirnya yang kering sehingga terdengar sedang memanggil nama Rian.

__ADS_1


"Mas Rian? Mas Andri mau ketemu Mas Rian?" tanya Yuan diikuti angguk kepala Andri.


Yuan pun menoleh ke arah Rian tadi berdiri. Namun, dia sudah tidak ada di sana. Yuan pun bergegas keluar, dan mendapati Rian sedang berbicara dengan Dokter Eko.


"Mas, Mas Andri sadar! Pengen ketemu sama Mas Rian!" ujar Yuan.


Rian pun langsung berlari memasuki ruang ICU. Diali menghampiri Andri dengan mata yang hanya terbuka sedikit. Rian mendekatkan telinga ke wajah Andri agar dapat mendengar dengan jelas apa yang sang adik ucapkan.


"Mas, aku tahu Mas Rian suka sama Yuan." Suara Andri terdengar lemah dan terbata-bata.


Mendengar apa yang diucapkan oleh sang adik membuat Rian terbelalak. Dia langsung menatap Andri kemudian menggeleng untuk menyangkal perasaannya. Melihat penyangkalan dari Rian, membuat Andri tersenyum tipis.


"Aku juga laki-laki, Mas. Jadi, aku tahu betul bagaimana gelagat lelaki jika menyukai lawan jenis." Napas Andri mulai tersengal.


"Mas, aku titip Yuan, ya? Titip bayi kami juga. Tolong jaga mereka, dan terus ukirkan senyum di bibir mereka."


"Hei, Bodoh! Kamu itu ngomong apa? Sumber kebahagiaan Yuan itu kamu! Jadi bertahanlah meski sulit!" ujar Rian dengan nada bercanda.


Apa yang diucapkan Rian terdengar seperti sebuah canda. Namun, hati lelaki tersebut kini terasa hancur. Bayangan akan kehilangan Andri semakin dekat.


"Nggak, aku nggak kuat, Mas. Yuan ... mana?" tanya Andri terbata-bata.


Rian langsung menoleh. Dia sudah mendapati Yuan menangis tergugu dengan posisi berjongkok di dekat pintu. Rian pun segera menghampiri Yuan. Dia membantu adik iparnya itu berjalan mendekati Andri.


"Yuan, maafin aku, ya? Belum bisa jadi suami terbaik buat kamu?"


"Mas Andri adalah suami terbaik buat Yuan! Mas Andri jangan ngelantur!" seru Yuan dengan suara parau.


"Titip bayi kita. Mas pengen tidur dulu. Kalau butuh bantuan sama Mas Rian aja sekarang. Oke?" Andri menarik napas panjang sambil menutup mata.


Sedetik kemudian, alat deteksi jantung berdenging begitu keras. Terbentuk sebuah dengan bentuk tidak stabil dan semakin melemah dalam monitor. Yuan pun langsung berteriak histeris memanggil nama Andri.


Dokter dan beberapa perawat pun masuk untuk memacu kerja jantung Andri menggunakan pacemaker. Namun, setelah dokter berusaha berkali-kali, tidak ada hasil. Dokter Eko menoleh ke arah Rian yang sedang menenangkan Yuan sambil menggeleng.


Andri Ismoyo telah berpulang ke pangkuan Tuhan. Yuan langsung lemas tak sadarkan diri. Bagaimanapun juga, takdir Tuhan adalah keputusan terbaik untuk semua umat-Nya.


__ADS_1


__ADS_2