
Setelah menepikan mobil, Rian langsung melepaskan sabuk pengaman. Dia sedikit memutar tubuh sehingga tatapannya kini seutuhnya kepada Yuan. Yuan masih bengong sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa berteriak?" tanya Rian dengan nada panik.
Yuan perlahan menoleh ke arah Rian. Matanya tampak berkaca-kaca sehingga membuat Rian mulai panik. Dia hendak merengkuh tubuh adik iparnya itu, tetapi mati-matian ditahan.
"Bayiku bergerak!" seru Yuan.
"Ya?" Rian mengerutkan dahi untuk memastikan pendengarannya tidak keliru.
"Bayiku mulai bergerak!" Yuan kini justru menangis sesenggukan sambil terus mengusap permukaan perutnya.
Rian hanya bisa tersenyum konyol melihat tingkah Yuan. Dia harus menerima umpatan dari orang lain karena mendadak menghentikan laju motor demi memastikan Yuan baik-baik saja. Ternyata alasan Yuan berteriak sungguh di luar dugaan.
"Dia terus berkedut di dalam sana, Mas! Mas mau rasakan?" tanya Yuan dengan tangan terbuka.
Rian hampir saja menyambut uluran tangan Yuan. Namun, dia berhasil menahannya. Dia langsung teringat dengan mendiang Andri.
Kesedihan kini mulai menyelusup ke dalam hati Rian. Dia terus berpikir dan berandai-andai jika saja sang adik masih hidup. Pasti Andri adalah orang kedua yang merasakan gerakan lembut bayinya.
"Mas!" panggil Yuan sehingga membuat lamunan Rian buyar.
"Ah, eh, ya?"
"Gimana? Mau nggak?"
"Eh, itu ...." Rian terdiam sejenak memikirkan alasan yang tepat agar Yuan tidak tersinggung.
Rian mengusap tengkuk dan bola matanya tampak tidak tenang. Setelah menemukan alasan untuk menolak tawaran Yuan, dia berdeham. Kini jemari Rian kembali memegang roda kemudi.
"Aku sedikit canggung jika harus memegang anggota tubuhmu, Yuan. Nanti saja kalau bayimu semakin besar, aku bisa melihat gerakannya dengan mata secara langsung. Nggak apa-apa kan ya?"
Yuan terdiam. Ada sedikit rasa kecewa terhadap Rian. Namun, jika dipikir lagi Rian memang benar.
Rasanya tetaplah tidak pantas jika Rian menyentuhnya sembarangan, meski hanya memegang perut yang tertutup pakaian tanpa ada hasrat sekali pun. Yuan akhirnya tersenyum lebar sambil mengangguk.
__ADS_1
Rian ikut menarik ujung bibirnya ke atas. Setelah itu, Rian kembali melajukan mobilnya menuju restoran nasi padang langganannya. Keduanya menikmati makan siang dengan tenang.
"Pelan-pelan, Yuan." Rian memperingatkan Yuan karena makan terlalu cepat.
"Hem, iya. Aku pelan-pelan, kok."
Rian tersenyum tipis melihat Yuan yang makan dengan lahap. Dia akhirnya bertopang dagu seraya menatap Yuan yang sibuk dengan makanannya. Sejak kematian Andri, baru kali ini Rian melihat Yuan kembali selera makan.
"Aku harus kuat! Aku harus makan banyak supaya bayiku tumbuh dengan sehat dan tendangannya semakin kuat!" seru Yuan sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
Rian tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia merespons ucapan Yuan dengan mengangguk. Tak lupa Rian mengacungkan jempol di depan wajah Yuan.
Usai makan, Tuan langsung diantar pulang oleh Rian. Lelaki tersebut bahkan sampai meminta izin awal karena menyadari Yuan hanya sendirian di rumah. Rian khawatir jika adik tirinya mengalami hal buruk ketika tidak ada yang menemani di rumah.
"Mas Rian nggak balik ke rumah sakit?" tanya Yuan seraya melirik Rian yang sedang duduk santai di depan televisi.
"Nggak, aku izin aja. Kamu di rumah sendirian. Takut mewek lagi kalau nggak ada temennya!" seru Rian dengan nada bercanda.
"Dih, siapa bilang! Mulai hari ini aku sudah berniat untuk kembali menjalani hidup dengan semangat! Ada bayi kecil yang nantinya membutuhkanku!" Yuan menatap sendu perutnya yang mulai membuncit.
Rian berdeham sekali kemudian mulai tersenyum tipis. Dia hendak menggoda Yuan mengenai semangat hidup. Lelaki tersebut berjalan mendekati Yuan yang masih mematung di depan wastafel dengan tatapan tajamnya.
"Ah, itu ... kenapa kamu baru sadar kalau harus tetap semangat hidup? Memangnya sebelum ini kamu lupa kalau sedang mengandung?" sindir Rian dengan nada ketus seraya melipat lengan di depan dada.
Yuan terdiam seketika. Ucapan Rian berhasil mengenai hatinya. Dia langsung tertampar detik itu juga.
Entah mengapa hati Yuan mendadak terasa nyeri. Air mata pun mulai berdesakan hendak keluar dari sumbernya. Tubuhnya pun mulai gemetar karena rasa bersalah.
Yuan menyadari satu hal. Dia sudah mengabaikan buah hatinya selama tiga bulan ini. Yuan pun langsung menangis sehingga membuat Rian kebingungan.
"Kok malah nangis? Kamu kenapa? Aku ada salah? Bilang, ya?" Rian langsung mendekati Yuan dan membungkukkan tubuh untuk melihat wajah Yuan lebih dekat.
"Aku benar-benar ibu yang tidak baik! Aku mengabaikan anakku selama berbulan-bulan dan meratapi kepergian suamiku! Seharusnya aku lebih memperhatikan dia!"
"Waduh, salah ngomong aku!" ujar Rian sambil menggaruk kepala.
__ADS_1
"Nggak, kamu cuma khilaf! Wajar kok sedih. Yang penting sekarang kamu semangat untuk lanjutkan hidup!" Rian mengusap lembut punggung Yuan.
Perempuan itu terus menangis sesenggukan. Rian pun mengajak Yuan untuk duduk di depan televisi. Lelaki itu juga membuatkan susu untuk Yuan.
Susu rasa coklat sedikit mengembalikan mood Yuan. Akhirnya Yuan berhenti menangis tinggal tersisa isak tangis. Rian bisa bernapas lega sekarang.
"Kamu istirahat aja kalau begitu. Tidur siang sangat baik untuk kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Kalau ada apa-apa, aku tiduran di sini."
Yuan hanya mengangguk, lalu beranjak dari sofa. Perempuan tersebut masuk ke kamar. Rian pun segera merebahkan tubuh ke atas sofa. Lelaki tersebut pun langsung terlelap dalam hitungan menit.
Langit sudah berubah gelap ketika Rian bangun. Dia langsung terbelalak dan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Jam menunjukkan pukul 7 malam.
Rian meregangkan otot yang terasa kaku. Setelah itu dia menoleh ke arah kamar Yuan yang tertutup rapat. Rian bergegas beranjak dari sofa kemudian mendekati kamar Yuan.
"Yuan!" panggil Rian sambil mengetuk pintu di depannya.
"Yuan!" Rian kembali memanggil Yuan lagi karena tidak mendapatkan respons.
Akhirnya Rian memutuskan untuk kembali ke sofa. Dia berpikir mungkin Yuan masih tidur, atau masih mandi. Namun, setelah menunggu hampir satu jam, Yuan tidak keluar dari kamar.
Perasaan Rian menjadi tidak tenang. Dia pun setengah berlari menuju kamar Yuan. Lelaki tersebut terus mengetuk pintu seraya memanggil nama sang adik ipar.
Rian pun memutar tuas pintu karena tidak ada jawaban sama sekali dari Yuan. Setelah dicoba, ternyata pintu masih terkunci dari dalam. Rian yang panik langsung mendobrak pintu tanpa berpikir panjang.
"Yuan!" teriak Rian sambil terus mendaratkan lengan atas ke permukaan pintu.
Setelah mendobrak sebanyak empat kali, akhirnya pintu bisa terbuka. Rian langsung mengedarkan pandangan ke dalam ruangan tersebut. Namun, tidak ada keberadaan Yuan di sana.
"Di mana dia?" Rian bergumam dan tatapannya berakhir pada pintu kamar mandi yang tertutup.
Rian mengetuk pintu kamar mandi. Dia juga menempelkan telinga pada daun pintu untuk mendengarkan ada gemercik air atau tidak dari dalam. Namun, suasana kamar mandi terdengar sunyi.
Pikiran buruk terus menghantui pikiran Rian. Dia memutar tuas hingga pintu tersebut terbuka lebar.
__ADS_1