Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 41. Si Tengil Sinta


__ADS_3

Yuan menatap Sinta sambil melemparkan tatapan tajam. Sinta tetap bungkam meskipun dia terus mendesak sang putri. Sinta enggan mengatakan dari siapa dia meniru banyak ucapan dan perbuatan yang tidak sopan.


"Jadi, kamu mau tetap diam?"


Sinta masih menutup rapat mulutnya. Bocah berusia lima tahu itu bahkan menatap tajam sang ibu. Kepala Tuan rasanya hampir meledak melihat tingkah sang putri yang jauh dari kata anggun itu.


Sinta memang tumbuh menjadi gadis kecil yang lebih mirip anak laki-laki. Dia lebih suka memakai celana daripada rok. Sering meminta Yuan agar mengikat rambut seperti ekor kuda.


Sinta bahkan beberapa kali sengaja mengambil gunting untuk memendekkan rambutnya sendiri. Anti menggunakan jepit rambut atau bando. Selain itu Sinta lebih sering bermain bola bersama anak laki-laki.


"Oh, baiklah kalau masih tetap diam. Bunda akan hubungi Ayah Rian! Ibu mau mengadukan kepada ayah kalau Sinta tidak jadi gadis yang baik, berkelakuan tidak sopan, dan sulit diatur! Mari kita lihat! Ayah pasti murka dan akan kembali mengundur kepulangannya!" Yuan melangkah ke meja rias dan berpura-pura untuk menghubungi Rian.


Namun, di luar dugaan Yuan, Sinta langsung berteriak histeris. Tangis gadis kecil itu pun pecah. Dia berlari ke arah Yuan sambil menarik terus lengan sang ibu.


"Jangan, Bunda! Jangan bilang ke ayah kalau Sinta nakal! Sinta janji nggak akan mengulangi semuanya!" rengek Sinta sambil terus menarik lengan Yuan.


Yuan tersenyum miring penuh kemenangan. Jurus pamungkas ini memang selalu berhasil membuat Sinta menjadi anak yang penurut. Sinta memang sedekat itu dengan Rian.

__ADS_1


Hal itu terjadi karena memang Sinta hanya memiliki Rian yang dianggap sebagai sosok ayah. Begitu juga dengan Arjuna. Dia juga dekat dengan sang paman.


Ketika Arjuna pulang dari Jakarta, maka mendadak Yuan dan Riana akan tersingkirkan. Arjuna dan Sinta akan terus bergelayut manja dan terus menempel pada Rian. Yuan menyadari kalau memang putrinya itu membutuhkan sosok seorang ayah.


"Jadi ...." Yuan kini berjongkok dengan lutut sebagai tumpuan.


"Sinta meniru siapa? Mengejek Juna, menarik rambutnya, lalu mengacungkan jari tengah itu tidak sopan, Sayang." Yuan mengusap lembut puncak kepala Sinta.


Suara Yuan lembut, tetapi penuh ketegasan. Sinta masih menangis dengan napas tersengal-sengal karena isak tangis. Yuan akhirnya memeluk putri kesayangannya itu.


Yuan menepuk lembut punggung Sinta sambil terus menenangkan sang putri. Dia sampai berjanji tidak akan marah setelah mengetahui dari mana Sinta mencontoh semua perbuatan itu. Setelah membujuk Sinta, akhirnya putri kecilnya mau mengaku.


"Sinta, walau Juna tidak mau melakukan semuanya bukan berarti dia lemah. Dia hanya lebih suka menyendiri."


Yuan tersenyum tipis lalu mengusap lembut pipi tembam Sinta. Dia menggendong Sinta dan menidurkan putrinya ke atas ranjang. Yuan memeluk Sinta penuh cinta dan berusaha menasihati putrinya tersebut.


"Mengacungkan jari tengah, juga Sinta lihat dari Bima dan Dewa?"

__ADS_1


"Nggak, Bunda. Sinta tahu karena sering melihatnya di TicToc! Mereka terlihat keren ketika melakukan hal itu."


Yuan terdiam seketika. Rasa geli dan marah bercampur menjadi satu. Putrinya yang polos benar-benar belum mengerti sepenuhnya dengan semua hal yang dia lihat dan dengan.


"Lain kali jangan melakukannya, ya? Itu tidak sopan."


"Kenapa nggak sopan, Bunda? Bukannya itu sama saja dengan kita menunjuk dengan jari telunjuk, atau mengacungkan jempol ketika setuju dengan teman?"


"Bukan, Sayang. Mengacungkan jari tengah sama seperti kalau mengumpat."


"Oh, jadi kalau mengacungkan jari tengah sama saja kalau kita mengucap kata asu?"


Sontak Yuan langsung membungkam mulut putrinya. Yuan benar-benar heran dengan perilaku Sinta. Beberapa kali Yuan dipanggil karena Sinta mencari masalah di sekolahan.


"Su-sudah, ya? Kita tidur!"


Yuan pun segera menidurkan Sinta. Dia menepuk bokong sang putri hingga terlelap. Setelah Sinta tertidur pulas, Yuan turun dari ranjang, kemudian meraih ponsel Sinta yang disimpan di dalam laci.

__ADS_1


Yuan langsung menghapus aplikasi yang membuat putrinya menirukan hal tidak sopan. Dia sudah kecolongan. Yuan tidak mau putrinya semakin melakukan banyak hal buruk karena melihat konten yang ada di aplikasi tersebut.



__ADS_2