
"Jadi, kamu sudah tahu semuanya?"
Yuan mendongak sehingga kini tatapannya beradu dengan Andri. Dia tersenyum, lalu mengangguk. Perempuan cantik tersebut menguatkan pelukannya pada dada sang suami.
Yuan memejamkan mata erat, kemudian menghirup dalam aroma tubuh Andri. Di sisi lain, Andri ingin sekali membelai lembut rambut panjang sang istri. Namun, kondisinya membuat lelaki tersebut hanya bisa sekedar berniat.
Andri tersenyum kecut. Dia merindukan kondisi normalnya. Dia sedikit menyalahkan takdir, kenapa tidak dipertemukan dengan Yuan lebih cepat dan kenapa Tuhan memberikannya ujian penyakit itu.
"Mas, makan dulu, yuk!"
Andri mengangguk. Yuan pun beranjak dari kasur, lalu meraih mangkok berisi rawon. Makanan sejenis sop dengan kuah berwarna hitam pekat.
Yuan pun segera menyuapkan sedikit demi sedikit makanan tersebut ke dalam mulut Andri. Andri pun menikmatinya dengan senang hati. Dia bisa melupakan sedikit takdir yang membuatnya merasa menjadi lelaki lemah.
Sejak hari itu, ikatan cinta mereka semakin kuat. Andri dan Yuan belajar untuk ikhlas. Keduanya mencoba untuk menerima ketetapan Tuhan dengan lapang dada.
***
Suatu pagi, Yuan membuka mata dengan kondisi kepayahan. Dia merasa bumi yang dipijak berputar. Perutnya mendadak mual.
"Kenapa ini?" Yuan langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
Yuan mengeluarkan cairan bening yang terasa begitu pahit. Dia sampai merinding karena kepayahan. Perutnya benar-benar terasa diaduk-aduk.
Yuan pun akhirnya duduk lemas bersandar pada dinding. Saat itu Yuan tidak mengunci pintu kamar, dan posisi kamar mandi terbuka lebar karena. Rian yang sudah masuk ke kamar, panik mendapati Yuan yang terlihat lemas.
"Loh, Yuan. Kamu kenapa?" tanya Rian dengan mata terbelalak.
Rian enggan mendekati adik iparnya itu tanpa persetujuan. Dia ingin melihat dulu apakah Yuan membutuhkan bantuannya atau tidak. Rian tidak mau dianggap kurang ajar karena masuk sembarangan ke kamar itu.
Padahal sejak tadi Rian mengetuk pintu, tetapi tidak mendapatkan jawaban dari Yuan dan Andri. Dia pun memutuskan untuk masuk ke kamar. Ketika masuk, Rian mendapati suasana kamar sepi.
"Nggak apa-apa, Mas. Ngapain Mas Rian masuk?" tanya Yuan dengan suara lemas seakan tanpa tenaga.
"Ah, maaf. Tadi aku diminta ibu buat bangunkan kalian. Sudah jam 9 tapi nggak keluar. Ibu khawatir sama kalian karena nggak biasanya seperti ini,” jelas Rian.
"Oh, iya."
Yuan mulai menggeliat. Dia beranjak dari kursi kemudian berjalan ke arah pintu dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Perempuan itu berulang kali kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Sebenarnya Rian ingin menangkap tubuh Yuan dan membantunya berjalan. Namun, dia terus menahan diri. Rian hanya mengekor di belakang Yuan dan terus mengawasi langkah sang adik ipar agar tidak terjatuh.
Sampai akhirnya Yuan yang kembali pusing, berpegangan pada hanger jaket. Tentu saja benda tinggi dengan diameter kecil itu tidak mampu menahan berat badan Yuan. Yuan terbelalak dan hampir saja jatuh, beruntungnya Rian langsung menangkapnya dengan sigap.
"Nggak apa-apa?" tanya Rian khawatir.
Yuan hanya menggeleng. Rian seakan tersihir oleh sorot mata perempuan tersebut. Jantungnya berdegup begitu kencang manakala tatapan keduanya beradu.
Posisi mereka kini terlihat oleh Andri. Ada rasa cemburu di hatinya. Namun, Andri lega karena sang kakak berhasil menyelamatkan sang istri sehingga tidak jatuh ke atas lantai.
"Ma-makasih, Mas." Yuan perlahan kembali menegakkan tubuh.
"Iya, hati-hati," ucap Rian sambil membantu Yuan berdiri.
Ketika menoleh ke arah Andri, Yuan baru menyadari kalau sang suami sudah bangun. Dia yang panik bergegas mendekati Andri. Perempuan tersebut tersenyum canggung kemudian mencium pipi Andri.
"Ka-kamu sudah bangun, Mas? Tadi aku hampir jatuh, dan Mas Rian ...."
"Iya, aku sudah melihat semuanya." Andri kini mengalihkan tatapannya kepada Rian.
Rian berdeham dua kali sebelum akhirnya melangkah mendekati Rian. Dia berdiri tegak di belakang Yuan sembari menatap sang adik yang terbaring di atas ranjang. Tatapan Andri tampak datar dan terlihat tegas.
"Ya," jawab Rian singkat.
"Tolong antar Yuan ke rumah sakit buat periksa. Sepertinya dia sedang mengandung ANAKKU."
Penekanan pada kata anak membuat Rian terdiam. Dia melirik Yuan yang kini sedang terbelalak. Tak lama berselang, tatapannya kembali kepada Andri.
"Oke, aku tunggu di bawah."
Rian pun melangkah mendekati pintu yang sedikit terbuka. Dia menutup rapat pintu tersebut, dan langsung menghampiri sang ibu yang sedang menyiapkan makanan ke atas meja makan.
"Loh, mana Yuan?" tanya Drini.
"Dia lagi hamil kayaknya."
Drini mengerutkan dahi karena mendengar jawaban sang putra yang tidak sesuai dengan pertanyaannya. Namun, sedetik kemudian Drini terbelalak. Dia membungkam mulut dengan tangan kanan.
"Tunggu, Yuan hamil katamu?" tanya Drini antusias.
__ADS_1
Rian mengangguk, kemudian menarik kursi. Dia meraih apel dan menggigitnya serta mengunyah buah itu perlahan. Drini pun ikut duduk di atas kursi.
"Kamu serius?" tanya Drini.
"Kayaknya sih begitu. Soalnya tadi pas aku masuk, dia kelihatan lemas di samping toilet. Habis ini aku mau anter dia periksa."
"Aku ikut!" seru Riana yang kini berjalan ke arah meja makan.
Perut Riana sudah membuncit sekarang. Usia kandungan perempuan itu sudah memasuki 6 bulan. Dia mulai kesulitan berjalan.
Rian yang jahil tiba-tiba berdiri, lalu mendekati sang adik. Lelaki tersebut meniru cara jalan Riana yang mirip bebek. Sontak Riana melemparkan tatapan tajam kepada sang kakak.
"Awas, ya! Lihat saja nanti kalau punya istri lagi hamil! Kusumpahi dia benci sama kamu selama masa kehamilan!" seru Riana dengan suara lantang.
"Ehhh, nggak bisa begitu! Istriku nantinya akan sangat mencintaiku! Dia tidak akan melakukan hal tersebut, bahkan dalam pikirannya sekali pun!"
"Kita lihat saja nanti, doa orang yang teraniaya akan dikabulkan dengan cepat sama Tuhan!" gerutu Riana diikuti tawa kecil Drini.
Setelah sarapan, Yuan pun diantar oleh Rian ke rumah sakit. Riana ikut sesuai permintaannya, sehingga Drini harus mengalah. Dia harus tetap di rumah untuk menjaga Andri.
"Kok bisa sih kamu nggak sadar kalau lagi hamil, Mbak?" tanya Riana sambil menggenggam jemari sang kakak ipar.
"Aku nggak inget-inget tanggal haidku. Justru Mas Andri tadi yang mengingatkan."
Dua orang ibu hamil itu sekarang sedang mengantre di apotek rumah sakit untuk mengambil vitamin. Hari itu keduanya periksa bersamaan. Bayi Riana diperkirakan berjenis kelamin laki-laki.
Yuan tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana Dokter Pras menjelaskan mengenai kondisi janinnya. Dia tidak menyangka Tuhan memberikan kepercayaan kepadanya secepat itu. Dia ingin segera pulang dan memberitahukan semua kepada Andri.
"Setelah hamil, pasti kamu akan semakin dimanjakan sama ibu! Uh, aku iri!" gerutu Riana dengan bibir maju lima senti.
"Siapa bilang? Bukankah kamu juga selalu menjadi putri kecilnya yang manja, Ri? Sampai sekarang bukankah kamu selalu diperlakukan spesial sama ibu? Kenapa harus iri?"
"Ya ... tetep aja beda, Mbak! Ibu itu sayang banget sama Mbak Yuan melebihi anaknya sendiri! Makanya aku pernah iri tingkat maksimal, sampai pernah berencana menyingkirkan Mbak Yuan!" Riana tersenyum tipis mengingat kebodohan masa lalunya.
Ketika mereka berdua sedang asyik mengobrol, toba-tiba ekor mata Yuan menangkap sosok Drini yang sedang berbicara serius kepada Riana. Riana pun mengikuti arah pandang sang kakak ipar.
"Loh, ibu ngapain ke sini?"
__ADS_1