
Riana kini menatap Yuan dengan mata penuh air mata. Dia tidak sedang membenci Yuan. Namun, perempuan itu justru tengah merasa iri kepada kakak iparnya tersebut.
"Mbak, kenapa sih kamu baik sekali! Padahal aku selalu berbuat jahat kepadamu! Kenapa masih peduli sama aku!" teriak Riana frustrasi.
Yuan terdiam sejenak. Tak lama berselang dadanya justru terasa sesak. Dia baru menyadari kalau Riana mau memanggilnya dengan sebutan mbak.
"Aku sudah merebut Burhan dari Mbak Yuan. Aku berusaha menjatuhkan nama baik Mbak Yuan, bahkan berniat mencelakai, serta menyingkirkanmu dari keluarga Ismoyo! Aku sangat jahat! Kenapa kamu masih saja bersikap lembut dan baik kepadaku!" seru Riana di antara isak tangisnya.
Tangis ibu hamil utu pun menular. Yuan kini ikut menangis sesenggukan. Dia perlahan mendekat ke arah Riana berusaha memberikan pelukan agar adik iparnya itu sedikit lebih tenang.
Riana tidak menolak pelukan dari Yuan. Yuan pun semakin menguatkan pelukannya. Tangis mereka bercampur menjadi satu sehingga menimbulkan nyanyian pilu.
Kejadian itu ternyata dilihat oleh Drini. Perempuan tersebut mematung di balik pintu yang sedikit terbuka. Rasa haru dan syukur kini memenuhi dada Drini.
"Tuhan, terima kasih sudah membukakan hati Riana. Semoga setelah ini hubungannya dengan Yuan membaik." Drini mengusap air mata yang mulai menetes membasahi pipi.
Drini akhirnya memutuskan untuk merapatkan kembali daun pintu. Dia duduk di atas bangku yang ada di lorong bangsal dengan punggung bersandar pada dinding. Drini berulang kali mengucap rasa syukur karena penyesalan serta pengakuan Riana atas kebaikan Yuan.
"Kenapa, Bu?" tanya Anton.
"Nggak apa-apa, Pak. Ibu hanya terharu. Riana sepertinya mulai sadar, Pak. Dia baikkan sama Yuan," jawab Drini dengan suara bergetar.
"Syukurlah, Bu."
Drini mengerutkan dahi ketika melihat raut wajah gusar sang suami. Dia akhirnya bertanya kenapa sang suami tampak tertekan. Terdengar hela napas yang keluar dari bibir Anton.
"Ada apa, Pak? Kenapa Bapak terlihat tidak senang dengan kabar yang ibu berikan mengenai Riana?"
"Bukan, Bu. Bapak tentu saja senang melihat Riana berubah menjadi lebih baik. Tapi ...."
Anton mengusap kasar wajahnya. Setelah itu, Anton mencondongkan tubuh ke arah sang istri. Dia menatap dalam manik mata Drini dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Hasil pemeriksaan Andri buruk, Bu."
"Apa maksud Bapak?" Drini mengerutkan dahi karena kesulitan mencerna maksud dari sang suami.
"Sistem saraf Andri perlahan mulai tidak berfungsi, Bu. Kali ini terapi tidak akan lagi membantunya untuk menghambat gejala." Anton mengusap wajah kasar dengan dahi tatapan pasrah.
Tidak hanya Anton, Drini pun tampak hampir menyerah. Sekarang yang ada di pikirannya, tak lain adalah Yuan. Dalam kondisi Andri yang semakin memburuk, apakah Yuan masih sanggup merawatnya.
Drini berencana untuk menyampaikan semua sesegera mungkin. Dia akan memberi pengertian kepada Yuan. Drini ingin membicarakan semua dari hati ke hati.
"Pak, tolong untuk sementara waktu jangan beri tahu Yuan masalah ini. Rasanya ibu nggak tega. Biar nanti ibu menunggu waktu yang tepat. Ibu akan mencari sela dan membicarakan masalah ini dengan Yuan dengan memosisikan diri sebagai seorang ibu."
"Baik, Bu. Semoga Yuan masih menerima kondisi Andri dengan ikhlas."
Drini pun akhirnya masuk ke dalam pelukan Anton. Dia ingin meletakkan semua beban dan bersandar kepada Anton. Dia merasa lelah dengan banyaknya cobaan yang menghantam keluarga Ismoyo secara bertubi-tubi.
Anton dan Drini memutuskan untuk masuk setelah memastikan Yuan dan Riana sudah tidak lagi menangis. Mereka tidak mau mengganggu momen berbaikan keduanya. Ketika Anton dan Drini masuk, Yuan dan Tiana terlihat sedang bercanda.
"Sepertinya setu sekali!" Drini mempercepat langkah untuk mendekati dua putri kesayangannya itu.
"Apa kamu baru menyadarinya?" Drini menyipitkan mata seraya tersenyum tipis.
"Ah, Ibu!" seru Riana dengan bibir melengkung ke bawah.
Drini terkekeh kemudian memeluk putrinya tersebut. Ketika ekor matanya menangkap Yuan yang hanya melongo, Drini pun menarik tubuh sang menantu ke dalam pelukan.
Selalu ada pelajaran di setiap cobaan dan kejadian buruk. Ada sedikit rasa bahagia di sana, meskipun sebenarnya ada sebuah takdir buruk yang sudah menyambut keluarga tersebut.
Setelah mendapat perawatan selama dua hari, Andri akhirnya dibawa pulang. Lelaki itu tahu kalau kondisinya memburuk. Namun, demi tetap mengukir senyuman pada bibir Yuan, Andri berusaha untuk terlihat tetap baik-baik saja.
"Mas, hari ini mau makan apa?" tanya Yuan dengan senyum merekah.
__ADS_1
"Apa saja! Aku selalu suka dengan masakan yang kamu buat!" ujar Andri tanpa ragu sedikit pun.
"Baiklah, aku masak dulu. Mas Andri istirahat, ya?" Yuan tersenyum kemudian beranjak dari atas ranjang.
Mata Andri tak lepas dari Yuan. Sampai akhirnya pintu kamar tertutup. Seiring dengan menghilangnya sosok perempuan yang dia cintai, senyum Andri pun semakin lenyap.
"Maaf, Yuan. Maaf sudah berbohong kepadamu. Maaf karena telah berpura-pura sedang baik-baik saja! Kali ini aku benar-benar rapuh! Tetaplah seperti itu agar tetap bisa tersenyum lebar!"
Dada Andri terasa begitu sesak. Jika bisa, dia ingin sekali memukul dadanya agar rasa sesak yang mengimpit sedikit berkurang. Namun, lelaki tersebut hanya bisa menangis dalam diam.
Andri menyembunyikan semua rasa sesaknya sendiri. Dia memilih untuk tetap kuat demi semua orang yang telah sabar mengurus serta mendukungnya.
"Aku harus kuat! Selama Yuan masih setia dan menerimaku apa adanya, maka aku akan terus berjuang dan menerima semuanya dengan lapang dada!" seru Andri penuh keyakinan.
Satu bulan sudah Andri tidak bisa menggerakkan lengannya. Yuan setiap hari melayani dan merawat sang suami dengan telaten serta penuh kesabaran. Todak pernah sekali pun dia mengeluh.
Jangankan mengeluh pada Tuhan. Mengeluh dan merasa lelah pun tidak pernah. Yuan menjalani semuanya penuh rasa ikhlas.
Yuan sudah menganggap semua itu merupakan bagian dari baktinya kepada sang suami. Di sisi lain, Drini mulai gusar. Berdasarkan pemeriksaan dan pengamatan Rian, ternyata semakin hari sistem syaraf Andri semakin menurun.
"Lalu bagaimana?" tanya Drini ketika selesai mendengarkan penjelasan dari sang putra.
"Lebih baik ibu segera memberitahukan semuanya kepada Yuan. Rian rasa diberi tahu sekarang atau nanti sama saja, Bu. Tidak akan mengubah keadaan."
"Apa ibu sanggup mengatakan semuanya kepada Yuan?"
"Itu ...." Ucapan Rian berhenti karena tiba-tiba Yuan datang dari arah kamar.
"Mengatakan apa, Bu?"
Drini terbelalak seketika. Dalam situasi ini dia merasa seperti sedang tertangkap basah. Rian memilih untuk pergi meninggalkan dua perempuan beda usia itu.
__ADS_1
Drini meminta Yuan untuk duduk. Otaknya kini tengah berpikir keras. Dia berusaha merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sekaligus menjelaskan mengenai kondisi Andri kepada Yuan.